This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Musailamah al-Kadzdzab. Show all posts
Showing posts with label Musailamah al-Kadzdzab. Show all posts

Friday, December 3, 2021

KHALID (RADHIYALLAHU ‘ANHU) DAN PASUKANNYA TIBA DI NEGERI YAMAMAH.

 

Gambar oleh Kanenori dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Setelah Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) dan pasukannya mendapatkan tambahan kekuatan dari kota Madinah, mereka segera berangkat menuju negeri Yamamah. Yang dimana kisah mengenai keberangkatan mereka ini berbunyi sebagaimana berikut…

Berkata Ibnu Jarir (Rahimahullah): “Telah menuliskan kepadaku as-Sirriy, dari Syu’aib, dari Saif, dari Abi ‘Amr bin al-‘Alla’, dari beberapa orang gurunya, dimana mereka berkata: ‘…Maka berjalanlah Khalid dan pasukannya menuju negeri Yamamah. Hingga ketika mereka telah mendekati negeri tersebut, mereka mendapati beberapa ekor kuda milik ‘Iqqah, al-Hudzail, dan Ziyad (mereka adalah para pengikut Sajah binti al-Harits).

Ketiga orang ini berada dinegeri Yamamah karena sebuah tugas yang diembankan oleh Sajah kepada mereka, yaitu menunggu keluarnya upeti yang dijanjikan oleh Musailamah kepada Sajah sebagai bentuk jaminan akan persekutuan kedua kelompok. Khalid sendiri memutuskan untuk menuliskan surat perihal ketiga orang tersebut ke suku Tamim (yang telah kembali kepada naungan Islam), maka setelah suku Tamim membaca surat Khalid tadi, mereka segera mengusir ketiga orang tersebut keluar dari jazirah arab.

BACA JUGA:

ABU BAKAR (RADHIYALLAHU ‘ANHU) MEMOBILISASI DAN MEMPERSIAPKAN KAUM MUSLIMIN UNTUK MENYONGSONG PERTEMPURAN MELAWAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

KISAH PERTEMUAN ANTARA KHALID (RADHIYALLAHU ‘ANHU) DENGAN MAJA’AH BIN MIRARAH.

Ditengah jalan, Khalid mendapatkan kabar bahwa Syarhabil atau Syurahbil bin Hasanah rupanya memilih untuk mengikuti jejak Ikrimah dengan cara menyerang Musailamah al-Kadzdzab terlebih dahulu sebelum Khalid tiba di negeri tersebut. Dan rupanya upaya Syurahbil ini berujung kepada kegagalan sebagaimana upaya Ikrimah sebelumnya. Maka ketika akhirnya Khalid tiba dinegeri Yamamah, beliau menegur Syurahbil atas ketergesa-gesaannya dalam mengambil keputusan…”.

Imam al-Ya’qubiy (Rahimahullah) sendiri sang pengarang kitab Tarikh al-Ya’qubiy mengatakan dalam kitabnya: “Dahulu Abu Bakar telah menunjuk Syurahbil bin Hasanah untuk memimpin sebuah pasukan dan menyuruhnya untuk bergerak bersama pasukannya tersebut menuju negeri Yamamah, dan sesampainya disana hendaknya dia menunggu kedatangan Khalid.

Kemudian setelah itu Abu Bakar menunjuk Khalid dan mengangkatnya sebagai komandan tertinggi bagi pasukan yang akan menumpas Musailamah. Maka Khalid pun segera menuliskan surat kepada Syurahbil setelah pengangkatannya tersebut, dimana isi surat tersebut adalah: ‘Janganlah engkau tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, dan tunggulah kedatanganku!’…”. Maka wajarlah jika Khalid memarahi Syurahbil atas ketergesa-gesaannya sebagaimana yang dituliskan oleh Ibnu Jarir diatas.

Dan ketika Khalid dan pasukan semakin dekat dengan negeri Yamamah, Musailamah dan pengikutnyapun semakin waspada akan kekuatan kaum muslimin yang sedang bergerak menuju negeri mereka.

Ibnu Katsir (Rahimahullah) berkata: “…Ketika Musailamah mendengar bahwa Khalid dan pasukannya semakin mendekat dan sebentar lagi akan tiba dinegeri Yamamah, dia memutuskan untuk mendirikan perkemahan bersama pasukannya disebuah daerah yang bernama Aqraba (daerah Aqraba ini terletak di sebelah timur jazirah arab, lebih tepatnya di wilayah al-Yamamah) yang terletak diujung negeri Yamamah, dimana pedesaan sekaligus perkampungan berada dibelakang mereka.

Diperkemahannya tersebut Musailamah menyemangati pasukannya dan mengobarkan api perlawanan didalam diri mereka. Pidato motivasi yang diberikan oleh Musailamah kepada pasukannya membuat penduduk Yamamah tergerak hatinya untuk ikut berkumpul bersamanya diperkemahan tersebut. Dan setelah semua pasukannya berkumpul, Musailamah pun mulai mengatur barisan mereka. Dimana dia menjadikan seseorang yang bernama al-Muhkam bin ath-Thufail dan seorang lagi yakni ar-Rihal bin ‘Unfuwwah sebagai 2 komandan yang akan mengomandoi 2 sayap pasukannya…”. Kemudian setelah itu beliau menuliskan kisah mengenai ar-Rihal bin ‘Unfuwwah dan perannya yang sangat besar dalam menyesatkan suku Bani Hanifah.

Setelah itu beliau melanjutkan kisahnya: “…Dan ketika Khalid telah tiba dinegeri Yamamah dan telah bertemu dengan Syurahbil, beliau menjadikan Syurahbil sebagai komandan bagi pasukan yang berada di baris depan atau tengah, adapun pasukan yang berada dibaris kanan dan kiri, maka beliau menunjuk Zaid bin al-Khaththab dan Abu Hudzaifah untuk menjadi komandan bagi mereka.

Dan dimalam harinya, pasukan yang berada dibawah komando Syurahbil bertemu dengan sekelompok penunggang kuda yang jumlahnya berkisar sekitar 40 atau 60 orang penunggang kuda (adapun Ibnul Jauziy (Rahimahullah), beliau mengatakan didalam kitabnya bahwa jumlah penunggang kuda tersebut hanyalah 6 orang saja. Dan adapun Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir (Rahimahumallah), maka keduanya mengatakan hal yang sama dengan Ibnu Katsir, yakni jumlah penunggang kuda tersebut adalah 40 atau 60 orang).

Yang menjadi pemimpin bagi sekelompok penunggang kuda tersebut adalah seseorang yang bernama Maja’ah bin Mirarah. Maja’ah dan sekumpulan penunggang kudanya ini baru saja tiba dari sebuah perjalanan menuju suku Bani Tamim dan Bani ‘Amir.

Dan ketika Maja’ah dan teman-temannya telah ditangkap oleh Syurahbil, mereka diperhadapkan kepada Khalid, dimana beliau menanyai perihal kabar (keadaan dan kepada siapa mereka berpihak) mereka, dan ketika mereka menjawab, Khalid tidak mempercayai mereka dan langsung memerintahkan agar mereka semua dibunuh. Maka semua penunggang kuda tadi langsung dibunuh kecuali pemimpin mereka yakni Maja’ah yang tetap dibiarkan hidup oleh Khalid dalam keadaan terikat sebagai tawanan -karena orang ini ahli dalam masalah strategi perang dan tipu daya-. Selain karena keahliannya tersebut, dia dibiarkan hidup juga karena dia adalah seorang pemimpin yang disegani dan dimuliakan oleh kaumnya (suku Bani Hanifah).

Dikatakan juga bahwa ketika para penunggang kuda tadi dibawa ke hadapan Khalid, Khalid bertanya kepada mereka: ‘Apa yang kalian katakan (dalam masalah kenabian ini) wahai Bani Hanifah?’.

Mereka menjawab: ‘Kami mengatakan bahwa dari kami ada seorang Nabi, dan dari kalian ada seorang Nabi pula’.

Mendengar jawaban mereka tersebut, Khalid langsung memerintahkan agar mereka semua dibunuh kecuali seseorang yang bernama Sariyah (Ibnul Jauziy (Rahimahullah) yang membawakan kisah serupa didalam kitabnya mengatakan bahwa yang dibiarkan hidup ada 2 orang, seorang bernama Sariyah bin Amir dan seorang lagi adalah Maja’ah).

Sariyah berkata kepada Khalid: ‘Wahai pemimpin, jika engkau menginginkan kebaikan ataupun keburukan atas kaum tersebut (yakni suku Bani Hanifah), maka ada baiknya jika engkau membiarkannya (yakni Maja’ah) hidup’.

Maka Khalidpun membiarkannya tetap hidup sebagai seorang tawanan, untuk kemudian beliau memerintahkan agar dia dan istrinya diberi naungan dibawah satu kemah yang sama. Dimana beliau berkata kepada istrinya: ‘Berilah dia saran dan nasehat-nasehat yang baik’.

Dan ketika kedua pasukan telah saling berhadap-hadapan, Musailamah berkata kepada kaumnya: ‘Hari ini adalah hari kecemburuan, hari ini jika kalian dikalahkan maka istri-istri dan anak-anak perempuan kalian akan dirampas dan dijadikan sebagai tawanan, dan kemudian mereka akan dinikahi bukan sebagai istri yang akan paling diutamakan (yakni hanya sebagai budak atau istri kedua ataupun ketiga yang tidak banyak diberi perhatian. Ini hanya menurut Musailamah). Maka oleh karenanya, berjuanglah kalian demi nasab kalian dan lindungilah wanita-wanita kalian’…”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Kisah mengenai Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) dan Maja’ah dikisahkan pula oleh Ibnul Atsir (Rahimahullah) didalam kitabnya dengan sangat ringkas, dan dikisahkan pula oleh Ibnul Jauziy (Rahimahullah) didalam kitabnya. Adapun Ibnu Jarir (Rahimahullah) maka beliau menuliskan kisahnya dengan beberapa rincian, yang Insya Allah kisah tersebut akan saya tuliskan pada artikel yang akan datang.

Was-Salam.  

   

 

 

 

   

 

     

 

Sunday, November 28, 2021

AWAL-MULA KEMUNCULAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB (BAG, 2).

 

Gambar oleh jplenio dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menuliskan kisah mengenai perjalanan hidup singkat seorang tangan kanan Musailamah al-Kadzdzab yang bernama ar-Rihal bin ‘Unfuwwah.

Perjalanan hidup singkat yang dimulai di tahun 9 hijriyyah disaat dia dan beberapa orang dari kaumnya suku Bani Hanifah mendatangi kota Madinah dengan tujuan yang teramat mulia, yakni mempelajari agama Islam langsung dari Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Akan tetapi rupanya takdir Allah (‘Azza Wa Jalla) berkata lain, dimana Allah (‘Azza Wa Jalla) Mempertemukan kembali orang ini dengan Musailamah di kesempatan dan keadaan yang berbeda, mereka bertemu kembali disaat Musailamah mengumumkan kenabian palsunya, dan semenjak hari ketika mereka berdua bertemu itulah, ar-Rihal murtad dan mengikuti ajaran sesat Musailamah.

Dan pada artikel kali ini, Insya Allah saya akan melanjutkan kisah mengenai awal-mula kemunculan Musailamah yang sempat tertunda penyampaiannya di artikel yang lalu.

Kisahnya sebagaimana berikut…

BACA JUGA:

KISAH AR-RIHAL BIN ‘UNFUWWAH, SANG TANGAN KANAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

UPAYA PENYERANGAN IKRIMAH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) TERHADAP MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

Imam al-Muthahhir al-Maqdisiy (Rahimahullah) berkata: “…Maka setelah seseorang yang bernama ar-Rihal bin ‘Unfuwwah mendukung pernyataannya (yakni pernyataan Musailamah bahwa dirinya telah diangkat menjadi Nabi) sekaligus bersaksi bahwa dia adalah seorang Nabi, orang-orang Bani Hanifah pun mulai terfitnah dengan ajaran sesat sekaligus penipuan yang dilancarkan oleh Musailamah.

Semakin bertambah banyaknya pengikut yang dimilikinya, Musailamah pun memutuskan untuk menulis sebuah surat kepada Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Dimana dalam suratnya tersebut dia berkata: ‘Kepada Muhammad utusan Allah, dari Musailamah utusan Allah. Semoga kedamaian selalu menyertaimu. Amma ba’du…

Sesungguhnya aku telah dijadikan sekutu (dan pembantu) bagimu di dalam perkara (kenabian) ini (pernyataannya ini dia nyatakan setelah mendengar persaksian palsu yang diberikan oleh ar-Rihal kepadanya, dimana ar-Rihal memberikan kesaksian palsu kepadanya demi mendapatkan harta benda, bahwa Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) telah mengangkatnya menjadi sekutunya dalam perkara kenabian).

Dan oleh karenanya, maka kami (suku Bani Hanifah) menguasai setengah dari jazirah arab, dan kalian (suku Quraisy) menguasai setengahnya yang lain. Akan tetapi orang-orang Quraisy telah berbuat melampaui batas’.

(karena pada saat itu, Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) dan para sahabat secara umum, baik itu yang berasal dari suku Quraisy maupun yang berasal dari kaum Anshar ataupun yang berasal dari suku-suku lainnya, telah dikaruniai kekuasaan atas jazirah arab secara keseluruhan oleh Allah (‘Azza Wa Jalla) karena ketaatan mereka kepadaNya dan kepada NabiNya. Adapun Musailamah dan sukunya, karena mereka hanyalah sekelompok orang yang mengikuti ajaran sesat seorang penipu, maka mustahil Allah (‘Azza Wa Jalla) Memberikan kekuasaan atas jazirah arab kepada mereka. Dan karena mereka tidak mendapat bagian, maka mereka terkhusus Musailamah iri kepada Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) dan kaum muslimin secara umum, dan keirian mereka inilah yang menyebabkan Musailamah menuliskan perkataannya dalam suratnya diatas).

Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) sendiri segera membalas suratnya dengan berkata: {“Dari Muhammad utusan Allah, kepada Musailamah sang pembohong. Sungguh keselamatan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk (Islam). Amma ba’du…

Sesungguhnya Bumi ini adalah milik Allah, yang akan Dia Wariskan kepada siapa saja yang Dia Kehendaki. Dan akhir yang baik akan selalu menjadi milik orang yang bertakwa”}.

(Walaupun maksud dari surat Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) ini sudah teramat jelas, yakni untuk memutuskan harapan Musailamah yang ingin menguasai jazirah arab sebagaimana kaum muslimin menguasainya) akan tetapi dengan kebodohannya, Musailamah memahami bahwa surat balasan ini berisi penegasan dari Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), bahwa dirinyalah yang akan naik menjadi seorang Nabi sepeninggal beliau.

(Dan sejak kedatangan surat itulah, khayalan-khayalan Musailamah semakin menjadi-jadi).

Dimana Musailamah juga mengklaim bahwa malaikat Jibril telah mendatanginya dan memberikan wahyu Allah (‘Azza Wa Jalla) kepadanya.

Diantara bait syair buatannya yang dia klaim sebagai wahyu adalah:

‘Pujilah nama Rabbmu Yang Maha Besar…

Yang telah Menaruh janin di perut seorang wanita hamil…

Untuk kemudian Dia Mengeluarkan darinya seorang manusia yang sempurna…

Dari antara usus-usus yang basah…

Maka diantara bayi-bayi itu ada yang meninggal kemudian ditimbun di dalam tanah…

Dan diantaranya juga ada yang tetap hidup hingga waktu yang telah ditetapkan…

Dan Allah Maha Mengetahui segala yang disembunyikan…’.

Dan masih ada beberapa bait syair lainnya (yang rata-rata susunan kalimatnya ataupun kalimat itu sendiri, dia curi dari susunan kalimat al-Qur’an al-Karim. Sungguh Musailamah hanyalah seorang pembohong lagi tidak mempunyai kreativitas).

Dan ketika Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) wafat, Khalid bin Walid (Radhiyallahu ‘Anhu) bersama pasukannya pun mendatanginya (untuk membungkam mulutnya untuk selama-lamanya)…”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Inilah sedikit kisah mengenai awal-mula kemunculan Musailamah. Dan Insya Allah pada artikel selanjutnya, saya akan melanjutkan kisah mengenai Khalid dan pasukannya yang bergerak menuju negeri Yamamah demi menumpas gerakan kemurtadan Musailamah dan pengikutnya.

Was-Salam.

   

 

  

 

 

 

Saturday, November 27, 2021

KISAH AR-RIHAL BIN ‘UNFUWWAH, SANG TANGAN KANAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

 

Gambar oleh skyrider74 dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Kisah mengenai awal-mula kemunculan Musailamah al-Kadzdzab telah saya tuliskan pada artikel yang lalu. Dan pada artikel ini, Insya Allah saya akan melanjutkan kisah tersebut. Adapun yang akan saya sampaikan pada artikel kali ini dan artikel selanjutnya adalah mengenai perkembangan gerakan kesesatan Musailamah yang sangat pesat, juga surat menyuratnya orang ini dengan Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Dan sebagaimana artikel yang lalu, artikel kali ini saya ambil juga kisahnya dari kitab al-Badu wat-Tarikh, karangan seorang ulama bernama al-Muthahhir bin Thahir al-Maqdisiy (Rahimahullah).

Al-Muthahhir bin Thahir al-Maqdisiy (Rahimahullah) berkata: “…Maka setelah seseorang yang bernama ar-Rihal bin ‘Unfuwwah mendukung pernyataannya (yakni pernyataan Musailamah bahwa dirinya telah diangkat menjadi Nabi), orang-orang Bani Hanifah pun mulai terfitnah dengan ajaran sesat sekaligus penipuan yang dilancarkan oleh Musailamah…”. (dan berkat hal tersebut, dia pun semakin sombong dari hari ke hari).

Imam al-Muthahhir al-Maqdisiy (Rahimahullah) menyebutkan dalam perkataannya diatas nama seseorang, yakni ar-Rihal bin ‘Unfuwwah…, siapakah orang itu?, dan kenapa orang-orang mengikuti jejaknya ketika dia memilih untuk mendukung ajaran sesat Musailamah?.

BACA JUGA:

AWAL-MULA KEMUNCULAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB (BAG, 1).

AWAL-MULA KEMUNCULAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB (BAG, 2).

Disebutkan dalam kitab al-Mufashshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam, karangan seorang ulama bernama Jawwad ‘Ali yang wafat pada tahun 1408 hijriyyah, beliau berkata di dalam jilid kesebelas dalam kitabnya: “…Ketika para utusan Bani Hanifah tersebut telah kembali ke negeri mereka, Musailamah pun langsung mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus. Dan ternyata ada seseorang yang bersaksi bahwa pengakuannya tersebut adalah pengakuan yang benar, orang ini adalah ar-Rihal bin ‘Unfuwwah.

Ar-Rihal bin ‘Unfuwwah berkata kepada segenap masyarakat Yamamah bahwa Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) telah merestui Musailamah (sang penipu) untuk menjadi sekutunya (sekaligus Nabi pengganti disaat beliau wafat, yang padahal apa yang diklaim baik oleh Musailamah ataupun ar-Rihal ini adalah sebuah kesalahan yang sangat serius, karena Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) tidak pernah merestui seorang pun untuk menjadi Nabi pengganti bagi beliau disaat beliau meninggal, sebagaimana apa yang telah saya sampaikan pada artikel yang lalu). Maka karena persaksiannya tersebutlah, akhirnya masyarakat Yamamah pun mengikuti ajaran sesat Musailamah.

Dan konon ar-Rihal ini sempat mempelajari beberapa surat dari al-Qur’an (langsung dari mulut Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)), akan tetapi pada akhirnya (layaknya orang yang tidak tahu diuntung, juga layaknya orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu) dia menisbatkan surat-surat yang telah dipelajarinya tadi kepada Musailamah (sang penipu). Dan karenanya, dia pun menjadi pendukung terkuat gerakan kesesatan Musailamah, dan juga sebab utama dan penanggung jawab utama dari tersebarnya fitnah di tengah-tengah masyarakat Yamamah dan Bani Hanifah. Orang ini berhasil dibunuh oleh Zaid bin al-Khaththab (saudara Umar bin al-Khaththab (Radhiyallahu ‘Anhuma) di perang Yamamah”.

Disebutkan juga di dalam kitab ath-Thabaqat al-Kubra, karangan seorang ulama bernama Ibnu Sa’ad yang wafat pada tahun 230 hijriyyah, beliau berkata dalam kitabnya: “Telah mengkabarkan kepada kami Muhammad bin Umar al-Aslamiy, dia berkata: ‘Telah menceritakan kepadaku adh-Dhahhak bin Utsman, dari Yazid bin Ruman. Telah berkata Muhammad bin Sa’ad: ‘Dan telah mengkabarkan kepada kami pula Ali bin Muhammad al-Qurasyiy, dari beberapa orang gurunya, dimana mereka berkata: ‘Dahulu telah datang menghadap Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) beberapa orang utusan dari suku Bani Hanifah, diantara mereka adalah: Rihal bin ‘Unfuwwah, Salma bin Handzalah as-Suhaimiy, Thalq bin Ali bin Qais, Humran bin Jabir dari suku Bani Syamir, Ali bin Sinan, al-Aq’as bin Maslamah, Zaid bin Abdi Amr, dan Musailamah bin Habib. Kepala atau pemimpin rombongan mereka adalah Salma bin Handzalah.

Mereka semua disambut kedatangannya oleh para sahabat dan diberi tempat menginap di rumah milik Ramlah binti al-Harits (Radhiyallahu ‘Anha), dan semenjak kedatangan mereka, mereka senantiasa dijamu dan dimuliakan sebagai tamu.

Jamuan makan siang dan makan malam mereka bervariasi, terkadang terdiri dari roti dan daging, terkadang juga terdiri dari roti dan susu, dan terkadang juga roti dan minyak, dan terkadang juga buah kurma yang bisa mereka santap sepuasnya.

Disaat kedatangan mereka, mereka langsung masuk ke dalam Masjid Nabawi dan menemui Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) sekaligus mengucapkan salam untuk beliau, dan kemudian mereka mengucapkan persaksian Islam atau kalimat syahadat.

Dan ketika mereka datang tersebut, Musailamah tidak ikut bersama mereka menemui Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). mereka berdiam di kota Madinah selama beberapa hari, dimana mereka menghabiskan waktu dengan bolak-balik menemui Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) (dalam rangka mempelajari agama Islam). Dan Rihal bin ‘Unfuwwah sendiri mempelajari al-Qur’an dari sahabat Ubay bin Ka’ab (Radhiyallahu ‘Anhu)…”. 

Disebutkan pula dalam kitab al-Wafi bil-Wafayat, karangan seorang ulama bernama ash-Shafadiy yang wafat pada tahun 764 hijriyyah, beliau berkata dalam jilid keempat belas dari kitabnya: “Ar-Rihal bin ‘Unfuwwah. Namanya adalah Nahar bin ‘Unfuwwah. Dahulu dia telah berhijrah (dan telah masuk Islam), dan telah membaca al-Qur’an juga. Akan tetapi disaat Musailamah muncul, dia pergi menuju orang tersebut untuk kemudian murtad (keluar dari agama Islam) dihadapannya.

Dia juga berkata kepada Musailamah bahwa dirinya telah mendengar Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menjadikan Musailamah sebagai teman seperjuangan dan juga sebagai seorang Nabi (dan sungguh ini adalah sebuah kebohongan belaka dan hanyalah sebuah lelucon yang sangat tidak pantas untuk dipercayai oleh orang yang berakal).

Maka semenjak hari ketika dia bertemu dengan Musailamah tersebutlah, dia menjelma menjadi fitnah terbesar atas keimanan suku Bani Hanifah. Dia berhasil dibunuh oleh sahabat Zaid bin al-Khaththab (Radhiyallahu ‘Anhu) di perang Yamamah.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah (Radhiyallahu ‘Anhu), dimana beliau berkata: ‘Pada suatu hari, aku duduk-duduk bersama beberapa orang disisi Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), dan bersama kami ada ar-Rihal bin ‘Unfuwwah. Maka Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) pun bersabda kepada kami: {“Sesungguhnya ada seseorang diantara kalian yang gigi gerahamnya benar-benar berada di dalam neraka, yang dimana besarnya sebesar gunung Uhud”}.

Maka ketika teman-teman dudukku itu telah meninggal semuanya, dan yang tersisa hanyalah diriku dengan ar-Rihal. Maka aku pun menjadi ketakutan (setiap hari, karena jangan-jangan sabda Nabi diatas itu diperuntukkan untuk beliau (Abu Hurairah)). Hingga akhirnya datanglah sebuah hari dimana ar-Rihal pergi menemui Musailamah dan mengikuti ajaran sesatnya sekaligus bersaksi bahwa Musailamah adalah seorang Nabi, dan dia pun berhasil dibunuh di perang Yamamah”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.  

Insya Allah kisah mengenai Musailamah akan berlanjut di artikel selanjutnya.

Was-Salam.     

 

 

 

 

Friday, November 26, 2021

AWAL-MULA KEMUNCULAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB (BAG, 1).

 

Gambar oleh yamabon dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Alhamdulillah pada artikel yang lalu saya telah menyelesaikan pembahasan mengenai suku Bani Tamim. Pembahasan mengenai penumpasan gerakan kemurtadan di tengah suku tersebut. Dan sesuai dengan apa yang saya janjikan pada artikel yang lalu, maka Insya Allah saya akan menuliskan pada artikel kali ini dan artikel-artikel selanjutnya kisah mengenai Musailamah al-Kadzdzab dan gerakan kemurtadannya di negeri Yamamah.

Saya telah memberikan beberapa gambaran mengenai kesesatan Musailamah di artikel saya yang membahas mengenai Sajah binti al-Harits. Dan tentu saja kesesatannya yang terbesar adalah pengakuannya bahwa dirinya telah diangkat menjadi seorang Nabi setelah Nabi Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam). Pengakuan ini tentu saja adalah sebuah kesalahan, karena Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) sendiri pernah menjelaskan sekaligus menegaskan bahwa dirinya adalah penutup para Nabi, dan setelah beliau meninggal maka tidak akan ada lagi seorang Nabi yang diutus, dan jika ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya telah diangkat menjadi seorang Nabi setelah beliau meninggal siapapun orang itu, maka orang tersebut adalah orang sesat dan seorang Nabi palsu yang harus segera bertaubat kepada Allah (‘Azza Wa Jalla). Jadi jelaslah dari sini, bahwa kesesatan terbesar Musailamah adalah pengakuan palsunya bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus.

BACA JUGA:

“APAKAH KAMU TIDAK RELA UNTUK MENGANGGAP BELIAU SEBAGAI SAHABATMU JUGA?”.

KISAH AR-RIHAL BIN ‘UNFUWWAH, SANG TANGAN KANAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

Musailamah sendiri memulai karir penipuannya di saat Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) masih hidup di tengah-tengah para sahabat (Radhiyallahu ‘Anhum). Kisah mengenai hal ini telah dituliskan oleh Imam al-Muthahhir bin Thahir al-Maqdisiy (Rahimahullah) di dalam kitabnya al-Badu wat-Tarikh. Kisahnya sebagaimana berikut…

Al-Muthahhir al-Maqdisiy (Rahimahullah) berkata: “Kisah Musailamah bin Habib al-Kadzdzab (sang pendusta dan penipu). Dia dikenal dengan panggilan Abu Tsumamah. Dan dia juga terkenal sebagai seorang pesulap dan ahli sihir sekaligus sebagai seorang penipu ulung. Dia mampu untuk menyambungkan lagi sayap burung yang telah terputus dari badannya dan membuatnya tersambung kembali dengan badannya tersebut. Dan dia juga mampu memasukkan sebutir telur ke dalam mulut sebuah botol.

Orang ini mengaku bahwa dirinya telah diangkat menjadi seorang Nabi semenjak Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) masih berada di kota Makkah dan belum berhijrah. Dia diberi julukan oleh pengikutnya dengan sebutan ‘Rahman al-Yamamah’ (Sang Pengasih dari negeri Yamamah).

Dia juga sering mengutus pengikut-pengikutnya menuju kota Makkah dengan tujuan mendengarkan lantunan bacaan al-Qur’an yang mulia, untuk kemudian nantinya para utusan ini akan kembali pulang menuju negeri Yamamah demi memperdengarkan wahyu yang mulia tersebut kepada dirinya dan segenap penduduk Yamamah.

Dan di saat Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) telah berhijrah ke kota Madinah (lebih tepatnya ketika beliau dan para sahabat telah memasuki tahun ke-9 hijriyyah, tahun dimana banyak utusan dari suku-suku arab yang berdatangan ke kota Madinah demi mengumumkan ketundukan mereka kepada kaum muslimin), datanglah ke kota Madinah utusan dari suku Bani Hanifah (sukunya Musailamah, dan menurut syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfuriy (Rahimahullah), Musailamah ikut ke dalam rombongan utusan tersebut menuju kota Madinah), dan ketika para utusan tersebut telah bertatap muka dengan Nabi, ada diantara mereka yang menyampaikan kepada beliau perkataan Musailamah (menurut syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfuriy (Rahimahullah) Musailamah tidak ikut bersama kaumnya ketika mereka menghadap Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)), perkataannya tersebut adalah: ‘Jikalau saja dia Muhammad memberikan perkara (kenabian) tersebut kepada diriku sesudah dia meninggal, maka niscaya aku akan mengikutinya’.

Ketika Nabi mendengar perkataannya tersebut, beliau pun segera mendatangi tempat (persembunyian) Musailamah sembari membawa sebatang kayu yang beliau ambil dari pohon kurma, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh al-Waqidiy. Adapun Ibnu Ishaq, maka beliau mengatakan bahwa yang dibawa oleh Nabi adalah sebuah batang kurma yang disalah satu ujungnya terdapat dedaunan kecil.

Sesampainya beliau dihadapan Musailamah, beliau berkata kepadanya: {“Jika engkau menerima ajakan Islam ini, maka niscaya Allah akan Mengampunimu. Dan jika engkau menolaknya, maka niscaya Allah akan benar-benar Menghancurkan tipu dayamu. Dan aku tidak melihatmu kecuali engkau hanyalah sebagaimana yang telah diperlihatkan kepadaku (di dalam mimpi, dimana sebelum kedatangan utusan Bani Hanifah ini, beliau bermimpi melihat di kedua tangannya terdapat 2 gelang yang terbuat dari emas, dimana ketika beliau meniup keduanya, keduanya langsung terlepas dari tangan beliau, dan beliau menafsirkan kedua gelang tersebut sebagai 2 orang penipu yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi, 2 orang penipu tersebut adalah al-Aswad al-Ansi dan Musailamah al-Kadzdzab). Dan jikalau engkau meminta batang kurma inipun, aku tidak akan memberikannya kepadamu!”}.

Dan ketika para utusan Bani Hanifah tadi telah bersiap-siap untuk kembali ke negeri mereka, Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menemui mereka untuk terakhir kalinya sembari bertanya: {“Apakah ada diantara kalian yang tidak hadir sekarang?”}. (yakni tidak sedang bersama mereka pada saat itu?).

Mereka menjawab: ‘Iya, ada seorang lelaki yang memutuskan untuk memeluk agama Nashrani dan kemudian dia meninggalkan kami’.

Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) bersabda: {“Sungguh orang itu bukanlah orang terburuk diantara kalian”}. Beliau pun memberi wasiat agar mereka menyampaikan kepada orang tersebut apa yang telah beliau sampaikan kepada mereka sebelumnnya (yakni ajaran-ajaran Islam).

Maka ketika mereka telah meninggalkan kota Madinah, ternyata orang yang berpisah dari rombongan utusan Bani Hanifah tersebut (yang ternyata adalah Musailamah) mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi. Dimana dia berkata bahwa alasan yang mendorongnya untuk mengakui hal tersebut adalah perkataan Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) yang berbunyi: {“Sungguh orang itu bukanlah orang terburuk diantara kalian”}…(yakni yang dipahami oleh Musailamah dari perkataan Nabi ini adalah: orang yang berpisah dari kalian tersebut yang ternyata adalah Musailamah, bukanlah orang terburuk diantara Bani Hanifah lainnya)...”. 

Wallahu A’lam Bish-Shawab.    

Insya Allah kisah mengenai Musailamah akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.