This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label yaman. Show all posts
Showing posts with label yaman. Show all posts

Tuesday, August 24, 2021

“AKAN MENJADI MILIK SIAPAKAH KERAJAAN DZIMAR?”.

 

Pohon, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Berkata Ibnu Ishaq: “Konon di dapati pada sebuah batu di negeri Yaman sebuah ukiran yang dipercaya bahwa ukiran ini adalah sebuah nukilan yang diambil dari kitab Zabur, ukiran tersebut berbunyi: “Milik siapakah kerajaan Dzimar? Milik orang-orang Himyar yang baik. Lalu milik siapakah kerajaan Dzimar selanjutnya? Milik orang-orang Habasyah yang jahat. Lalu milik siapakah kerajaan Dzimar selanjutnya? Milik orang-orang Persia yang merdeka. Lalu milik siapakah kerajaan Dzimar selanjutnya? Milik orang-orang Quraisy para pedagang”.

BACA JUGA:

KISAH TERBUNUHNYA KISRA ABRAWAIZ.

APAKAH ARTI DAN KANDUNGAN KATA ‘PERANG’ BAGI MASYARAKAT JAHILIYAH?.

Lalu beliau melanjutkan: “Dzimar sendiri adalah sebutan untuk negeri Yaman atau kota Shan’a secara khusus”.

Ibnu Katsir berkata dalam kitabnya: “Al-Mas’udiy (pengarang kitab Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin al-Jauhar) berkata bahwa sebagian penyair ada yang membuat atau merangkai arti ataupun kandungan dari ukiran tadi menjadi bait-bait syair, bait-bait tersebut sebagaimana berikut:

Ketika Dzimar dibangun dikatakan kepadanya ‘engkau ini akan menjadi milik siapa?’…

Maka dia berkata ‘aku akan menjadi milik orang-orang Himyar yang baik’…

Kemudian selang beberapa waktu dia kembali ditanya mengenai hal itu maka dia menjawab…

‘aku akan menjadi milik orang-orang Habasyah yang kotor lagi jahat’…

Kemudian dia kembali ditanya selang beberapa waktu kemudian ‘engkau akan menjadi milik siapa?’…

Maka dia menjawab ‘aku akan menjadi milik orang-orang Persia yang merdeka’…

Kemudian mereka kembali menanyainya selang beberapa waktu kemudian ‘engkau akan menjadi milik siapa?’…

Maka dia menjawab ‘aku akan menjadi milik orang-orang Quraisy para pedagang’…”.

Berkata as-Suhailiy ketika menjelaskan arti atau maksud dari ukiran tadi: “Adapun maksud dari kata “Orang-orang Himyar yang baik” adalah: dikarenakan orang-orang Himyar adalah suatu bangsa yang beragama…

Dan maksud dari kata “Milik orang-orang Persia yang merdeka” adalah: dikarenakan mereka bangsa Persia semenjak kerajaan mereka berdiri melalui tangan seorang raja yang bernama Keyumars mereka tetap bisa mempertahankan kerajaan mereka tersebut di tangan mereka sendiri hingga datangnya Islam. Dimana mereka sama sekali tidak pernah tunduk atau di jajah oleh bangsa lain dan juga mereka sama sekali tidak pernah menyerahkan upeti kepada bangsa lain selama kurun waktu yang sangat panjang tersebut, maka oleh karena itulah mereka disebut sebagai orang-orang yang merdeka”.

Syaikh Abdurrahman al-Wakil berkata: “Bangsa Persia sepakat bahwa sosok yang bernama Keyumars ini adalah raja pertama mereka. Akan tetapi walaupun begitu mereka berbeda pendapat mengenai “siapakah dia sebenarnya?”.

Sebagian bangsa Persia percaya bahwa Keyumars ini adalah anak kandung Nabi Adam (‘Alaihis Salam), sebagian lagi percaya bahwa dia adalah nenek moyang manusia, sebagian lagi mengatakan bahwa dia adalah sosok dari seseorang yang bernama Amim bin Laudz bin Iram bin Sam bin Nuh. Dan mereka bangsa Persia telah banyak menceritakan khurafat-khurafat mengenai dirinya…”.

Lanjut ke perkataan as-Suhailiy, beliau berkata: “Adapun kata ‘Milik orang-orang Habasyah yang jahat”, maka yang dimaksudkan dari perkataan tersebut adalah perbuatan-perbuatan orang-orang Habasyah yang sangat buruk kepada bangsa Yaman, dimana mereka menyebarkan kerusakan disana sekaligus menghancurkan dan memporak-prandakan negeri Yaman. Kelakuan-kelakuan buruk mereka ini tetap berlanjut dan tidak berhenti hingga mereka dengan sangat berani mengatakan bahwa mereka akan menghancurkan Ka’bah.

Walau nanti di akhir zaman keinginan mereka tersebut akan tercapai di hari ketika al-Qur’an diangkat ke atas langit, dan dada-dada manusia telah kosong dari iman…”.

Syaikh Abdurrahman al-Wakil berkata: “Mungkin yang dimaksud oleh as-Suhailiy dari perkataannya yang berbunyi “walau nanti di akhir zaman keinginan (orang-orang Habasyah untuk menghancurkan Ka’bah) mereka tersebut akan tercapai” adalah sebuah hadits yang berbunyi: {“Biarkanlah orang-orang Habasyah selama mereka tidak mengganggu kalian, karena sungguh isi Ka’bah tidak akan di keluarkan dari tempatnya kecuali melalui tangan Dzu as-Suwaiqatain yang berasal dari Habasyah”}. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang lemah (maksudnya adalah hadits ini diragukan keasliannya sebagai perkataan Nabi Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam))”.

As-Suhailiy melanjutkan: “Perkataan ini yang ditemukan ukirannya pada sebuah batu di percaya sebagai perkataan Nabi Hud (‘Alaihis Salam) yang ditemukan pada mimbar beliau, dan mimbar tersebut terletak di sisi kuburan beliau, dimana pada asalnya mimbar tersebut tertutup oleh pasir hingga datanglah angin kencang yang bertiup hingga menyingkap mimbar tadi dan akhirnya bisa terlihat jelas oleh orang-orang.

Kejadian tersebut terjadi beberapa tahun sebelum ratu Bilqis naik tahta…

Dan dikatakan bahwa kota Dzimar ini dibangun oleh seseorang yang bernama Syamir bin al-Umluk, nama al-Umluk sendiri adalah Malik ibn Dzil Manar.

Dzimar ini juga biasa disebut dengan Dzafar. Ada sebuah peribahasa yang berbunyi “Siapa yang memasuki Dzafar maka dia akan berbicara memakai bahasa Himyar”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah kisah mengenai agama Islam di Yaman akan saya kisahkan pada artikel selanjutnya.

Was-Salam.

 

 

 

Saturday, August 21, 2021

KISAH BADZAN BERSAMA RASULULLAH (SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM) (BAG, 3).

 

Balon Udara, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Telah saya sebutkan pada artikel yang lalu sebuah kisah mengenai dialog yang terjadi antara Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) dengan Babawaih atau Nabuh dan Khurra Khusrah 2 orang utusan Badzan. Lalu bagaimanakah kelanjutan kisah mereka?....

Berkata Ibnu Jarir: “Maka kedua utusan tersebut segera keluar dari kota Madinah menuju negeri Yaman untuk bertemu dengan Badzan (tentunya kepergian mereka ini setelah mereka mendengar kabar akan terbunuhnya Kisra Abrawiz di tangan anaknya dari mulut Rasulullah).

BACA JUGA:

KISAH BADZAN BERSAMA RASULULLAH (SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM) (BAG, 2).

KISAH TERBUNUHNYA KISRA ABRAWAIZ.

Sesampainya mereka berdua di Yaman, mereka langsung menemui Badzan dan memberitahunya perihal apa yang dikatakan oleh Nabi kepada mereka. Mendengar kabar yang sangat mengejutkan tersebut (mengingat belum adanya internet pada waktu itu, maka wajar saja jika Badzan pun ikut terkejut mendengar kabar akan kematian Kisra di tangan anaknya) Badzan berkata: “Demi Allah, perkataan ini sungguh bukanlah perkataan seorang raja. Dan aku yakin bahwa orang ini memanglah benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang diakuinya. Yang perlu kita lakukan saat ini hanyalah menunggu kabar dari Persia hingga kita bisa melihat kebenaran dari perkataannya tersebut, jika ternyata kabar yang datang sesuai dengan apa yang dikatakannya, maka dia sungguh benar-benar seorang Nabi yang diutus. Dan jika ternyata kabar tersebut tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya, maka kita akan bermusyawarah kembali mengenai “apa yang harus kita lakukan pada orang ini?””.

Tidak lama kemudian datanglah sepucuk surat dari Persia yang ditujukan kepada Badzan (dan betapa mengejutkannya surat tersebut karena nama yang tertera pada kolom pengirim adalah nama anak dari Kisra Abrawiz dan bukannya nama Abrawiz), surat ini ditulis oleh Kisra Syairawaih (anak dari Kisra Abrawiz).  

Surat tersebut berbunyi: “Amma Ba’du, sungguh aku telah membunuh Kisra. Adapun alasan yang memaksaku untuk membunuhnya adalah karena perbuatannya yang sewenang-wenang kepada rakyat dan tentara Persia, dimana dia membunuhi orang-orang mulia dan terkemuka rakyat Persia, dan juga karena dia telah keterlaluan dalam memerintahkan para tentara untuk bertahan di perbatasan negeri dalam waktu yang cukup lama. Maka oleh karena itu, jika suratku ini telah tiba ditempatmu, maka ambillah bai’at (perjanjian untuk senantiasa taat dan patuh kepada pemimpin yang sedang berkuasa) dari orang-orangmu yang ada di negeri Yaman. Dan juga hendaknya engkau jangan lagi mengganggu urusan orang yang dahulu memiliki masalah dengan Kisra (maksudnya adalah Nabi Muhammad), hingga aku memutuskan apa yang sebaiknya kita lakukan padanya”.

Ketika Badzan selesai membaca surat dari Kisra baru tersebut, Badzan berkata: “Sungguh orang ini memanglah benar-benar seorang Rasul!”.

Maka dia-pun memutuskan untuk mengikuti seruan Nabi Muhammad dengan cara memeluk agama Islam, dan ternyata bukan hanya dirinya yang memutuskan untuk memeluk Islam, melainkan semua orang yang memiliki darah Persia yang saat itu ada di Yaman mereka juga memutuskan untuk memeluk agama Islam bersama gubernur mereka Badzan.

Konon orang-orang Himyar setelah mereka mengetahui bahwa Khurra Khusrah telah diberi hadiah oleh Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) sebuah kotak yang berisi emas dan perak, mereka menjulukinya dengan Dzul Mi’jazah. Begitu pula yang terjadi pada anak keturunannya, dimana mereka dijuluki pula dengan julukan tersebut.

Dan Babawaih sendiri pada suatu hari pernah berkata kepada Badzan mengenai dialognya dengan Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), dia berkata: “Aku tidak pernah merasakan perasaan takut dan gentar ketika berbicara dengan seseorang yang bisa menyamai perasaan takut dan gentar yang kurasakan saat aku berbicara dengan orang tersebut (yakni Nabi Muhammad)”.

Maka Badzan berkata kepadanya: “Apakah dia memberikan sebuah syarat?”.

Babawaih menjawab: “Tidak”.

Inilah kisah mengenai dialog antara dua orang utusan Badzan dengan Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) yang dituliskan oleh Ibnu Jarir ath-Thabariy di dalam kitabnya.

Ibnu Ishaq sendiri berkata: “Berkata az-Zuhriy: ‘Ketika kabar mengenai terbunuhnya Kisra di tangan anaknya sampai kepada Badzan, dia segera mengirim beberapa orang utusan menuju Madinah demi memberitahu Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) akan keislaman dirinya dan keislaman seluruh orang Persia yang bersamanya di negeri Yaman.

Dan sesampainya utusan Badzan tersebut dihadapan Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam), mereka bertanya kepada beliau: “Kami ini termasuk ke dalam golongan yang mana wahai Rasulullah?” (apakah kami termasuk ke dalam golongan Muhajirin ataukah golongan Anshar?).  

Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) menjawab: {“Kalian termasuk ke dalam golongan kami, golongan Ahlu Bait”}’”.

Ibnu Katsir berkata di dalam kitabnya: “Berkata as-Suhailiy: ‘Kisra (Abrawiz) terbunuh pada malam Selasa, pada hari kesepuluh dari bulan Jumadil Ula, tahun 9 Hijriah (inilah tahun yang tertulis di dalam kitabnya Ibnu Katsir, akan tetapi jika kita melihat kitabnya as-Suhailiy yang berjudul ar-Raudhul Unuf maka yang tertulis di sana adalah tahun ke-7 Hijriah, dan yang benar Insya Allah adalah tahun 7 Hijriah)’”.

Ibnu Jarir juga menyebutkan bahwa Kisra tersebut terbunuh pada tahun ke-7 Hijriah, beliau berkata: “Berkata al-Waqidiy: ‘Syairawaih membunuh ayahnya pada malam Selasa, pada hari kesepuluh dari bulan Jumadil Ula, tahun 7 Hijriah. Lebih tepatnya lagi pada jam 6 malam’”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Kisah akan berlanjut pada artikel selanjutnya Insya Allah.

Was-Salam.    

 

 

 

 

Sunday, August 15, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH PARA GUBERNUR KISRA ATAS NEGERI YAMAN.

 

Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Alhamdulillah pembahasan mengenai kisah Saif bin Dzi Yazin juga kisah Abrahah dan kisah bangsa Habasyah secara umum di tanah Yaman, juga kisah Ashhabul Ukhdud sekaligus penyebab kedatangan orang-orang Habasyah ke Yaman telah selesai saya tuliskan pada artikel-artikel yang lalu.

Dan tidak terasa setelah beberapa waktu lamanya akhirnya kita semakin dekat kepada kisah al-Aswad al-Ansi sang pemimpin orang-orang murtad di Yaman.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZINBERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 9).

ASAL-USUL TERJALINNYA HUBUNGAN ANTARA RASULULLAH DENGAN BADZAN (BAG, 1).

Akan tetapi sebelum sampai ke kisah al-Aswad al-Ansi saya perlu menuliskan terlebih dahulu beberapa kisah dan kejadian penting yang terjadi dalam kurun waktu antara kematian Saif dan munculnya al-Aswad al-Ansi.

Kisah dan kejadian penting itulah yang Insya Allah akan menjadi tema pembahasan artikel kali ini hingga artikel-artikel selanjutnya. Adapun pembahasan yang ingin saya tuliskan pada artikel kali ini adalah pembahasan mengenai “bagaimana kelanjutan nasib rakyat Yaman dan juga nasib bangsa Persia di tanah Yaman setelah kematian Saif sang raja resmi yang di tunjuk oleh Kisra?...”.

Telah kita ketahui bersama kisah mengenai kembalinya Wahraz ke tanah Yaman atas perintah Kisra yang dimana kisah tersebut telah saya tuliskan pada artikel yang lalu, dan rupanya setelah Wahraz menyelesaikan misinya yaitu membantai semua orang Habasyah yang masih tersisa di Yaman, dia ditunjuk oleh Kisra sebagai gubernur baru baginya menggantikan gubernur sebelumnya yang telah wafat yakni Saif. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh masing-masing dari Ibnu Ishaq, Ibnu Katsir, as-Suhailiy, Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir ath-Thabariy di buku mereka.

Dan apa yang terjadi setelah diangkatnya Wahraz sebagai gubernur?.

Berkata Ibnu Ishaq: “Maka setelah menyelesaikan misinya, Wahraz dan bangsa Persia yang ada di Yaman pun tinggal dan menetap di negeri tersebut…”.

Adapun Ibnul Atsir maka beliau berkata setelah menjelaskan mengenai keberhasilan Wahraz menyelesaikan misinya: “Maka Wahraz pun menulis sebuah surat yang ditujukannya kepada Kisra, surat tersebut berisi laporan mengenai keberhasilannya dalam menuntaskan misi yang diembankan kepadanya.

Setelah itu Kisra memutuskan untuk melantiknya sebagai gubernur baru bagi dirinya di tanah Yaman menggantikan Saif. Maka setelah dilantik Wahraz kembali melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai gubernur hingga dia meninggal”.

Ibnu Ishaq melanjutkan: “…Kemudian Wahraz meninggal, dan dia digantikan oleh anaknya yang ditunjuk oleh Kisra sebagai pengganti sang ayah dalam mengurusi negeri Yaman, anaknya tersebut bernama al-Marzaban bin Wahraz.

Kemudian selang beberapa waktu kemudian al-Marzaban ini wafat, maka Kisra kembali menunjuk gubernur baru untuk menggantikannya. Kisra memutuskan untuk mengangkat anak al-Marzaban sebagai gubernur baru menggantikan ayahnya yang telah wafat. Anak ini bernama at-Tinjan bin al-Marzaban.

Kemudian ketika at-Tinjan wafat, Kisra menunjuk anak at-Tinjan sebagai gubernur baru bagi dirinya di tanah Yaman. Akan tetapi tidak lama kemudian Kisra memecat anak at-Tinjan ini dari jabatannya, dan sebagai gantinya dia menunjuk seseorang yang bernama Badzan untuk menggantikan anak at-Tinjan tadi untuk menjadi gubernur di Yaman.

Maka Badzan pun naik menjadi gubernur atas negeri Yaman hingga Allah (‘Azza Wa Jalla) mengutus Nabi Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)”.

Badzan ini nantinya akan mempunyai kisah sendiri bersama Nabi kita tercinta Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Siapakah nama anak at-Tinjan?. Berkata Ibnul Atsir juga Ibnu Jarir bahwa namanya adalah Khurra Khasrah bin at-Tinjan bin al-Marzuban bin Wahraz atau Wahriz.

Ibnul Atsir berkata setelah itu: “Dikatakan juga bahwa Kisra Anusyiruwan menunjuk seseorang yang bernama Zurain untuk menjadi gubernur menggantikan Wahraz.

Dan orang ini konon adalah orang yang gemar melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak wajar dan diluar batas kebiasaan manusia pada umumnya. Konon jika dia ingin berkendara (ke mana saja) dia akan terlebih dahulu membunuh seseorang, kemudian setelah itu dia akan pergi menuju ke tempat tinggal orang yang dibunuhnya tersebut untuk kemudian dia berjalan-jalan dan berlalu-lalang dihadapan kerabat dan keluarga dekat si korban (hingga waktu yang tidak ditentukan).

Orang ini tetap memerintah di Yaman hingga Kisra Anusyiruwan meninggal. Dan ketika anak Anusyiruwan yang bernama Hurmuz naik tahta menggantikan ayahnya, dia segera mencopot si Zurain tadi dari jabatannya.

Para ulama dan sejarawan sendiri banyak yang berbeda pendapat mengenai para gubernur Kisra atas tanah Yaman, dan saya sendiri tidak melihat adanya faedah dari penyebutan perbedaan pendapat tersebut”. Inilah yang dikatakan oleh Ibnul Atsir di dalam kitabnya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah pada artikel selanjutnya saya akan menuliskan mengenai kisah Badzan bersama Nabi Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Was-Salam.

 

 

 

Saturday, August 14, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZIN BERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 9).

 

Hari yang Cerah, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Setelah kepergian Wahraz menuju negeri Persia demi menemui Kisra, maka resmilah kekuasaan Saif atas tanah Yaman. Akan tetapi ternyata setelah dia naik tahta, dia memutuskan untuk melakukan perbuatan-perbuatan biadab terhadap orang-orang Habasyah sebagai bentuk balas dendam terhadap apa yang mereka lakukan dahulu kepada bangsanya bangsa Yaman.

Kisah mengenai kebrutalan Saif ketika melancarkan terornya atas orang-orang Habasyah telah di kisahkan oleh masing-masing dari Ibnu Jarir dan Ibnul Atsir, kisahnya sendiri sebagai berikut…

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZINBERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 8).

SEJARAH YAMAN: KISAH PARA GUBERNUR KISRA ATAS NEGERI YAMAN. 

Berkata Ibnu Jarir: “Ketika Wahraz telah pulang ke negeri Persia di sebabkan perintah Kisra agar dia segera pulang ke sana, Saif pun resmi menjadi raja baru di tanah Yaman.

Akan tetapi naiknya dia ke atas singgasana Yaman sama sekali tidak membawa kebaikan bagi sekelompok orang yang tersisa dari bangsa Habasyah (dan pastinya mereka hanyalah masyarakat biasa, karena sebagaimana yang kita tahu bahwa kaum militer Habasyah semuanya telah habis di bantai oleh Wahraz).

Dimana dia memutuskan untuk melancarkan balas dendam kepada orang-orang Habasyah yang tersisa, hal tersebut dia lakukan dengan cara membunuh kaum lelaki mereka dan membelah perut para ibu hamil yang berasal dari Habasyah sekaligus mengeluarkan janin-janin yang ada di dalam perut mereka.

Hal itu terus dia lakukan hingga tidak tersisa dari orang-orang Habasyah kecuali sekelompok kecil orang yang hidup dalam keadaan terhina dan lemah. Dan setelah dia merasa bahwa mereka tidak lagi mempunyai kekuatan untuk kembali bangkit, Saif pun menjadikan orang-orang yang tersisa tadi sebagai pengawal-pengawalnya sekaligus sebagai bahan lelucon bagi masyarakat Yaman.

Dia menyuruh mereka untuk berjalan di depannya sambil membawa dan mengangkat tombak-tombak mereka, dan kelakuan Saif ini berlangsung selama beberapa waktu lamanya.

Hingga pada suatu hari, Saif keluar dari kota Shan’a bersama pengawal-pengawal barunya tersebut untuk berburu. Dia keluar menuju ke tengah hutan yang biasanya dijadikan sebagai tempat berburu.

Dan sementara orang-orang Habasyah berjalan di depannya sambil mengangkat tombak mereka, Saif secara tidak sadar berjalan sedikit demi sedikit masuk ke tengah-tengah rombongan para pengawalnya orang-orang Habasyah.

Dan ketika dia telah sempurna terkurung, orang-orang Habasyah tersebut segera menusuknya dengan tombak mereka hingga dia tewas…”.

Maka dengan peristiwa tersebut berakhirlah masa pemerintahan Saif atas tanah Yaman, juga dengan berakhirnya masa kekuasaan Saif berakhir pula zamannya orang-orang Himyar, dimana mereka tidak lagi memegang tahta Yaman setelah itu, karena yang menguasai tahta tersebut setelah Saif adalah bangsa Persia hingga kemunculan al-Aswad al-Ansi.

Adapun masa pemerintahan Saif berlangsung selama kurun waktu 15 tahun lamanya, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Atsir di dalam kitabnya.

Ibnu Jarir melanjutkan: “…Setelah Saif terbunuh, maka ada seseorang dari Habasyah yang segera memimpin kaumnya yang tersisa untuk membalas seluruh perbuatan Saif kepada mereka. Orang ini beserta seluruh orang Habasyah yang tersisa segera menyerang warga Yaman dan membantai mereka, juga menyebarkan kerusakan dan menimbulkan kerusuhan di seluruh penjuru kota.

Tidak membutuhkan waktu lama hingga kabar mengenai kerusuhan ini sampai ke telinga Kisra, maka dia langsung mengutus Wahraz kembali demi menertibkan negeri Yaman bersama sebuah pasukan yang berjumlah 4.000 personel.

Kisra juga memberikan perintah bagi Wahraz yang bunyinya sebagaimana berikut: “Hendaknya engkau membunuh semua orang Habasyah yang ada di negeri Yaman, tidak peduli apakah mereka itu murni dilahirkan oleh kedua orang tua yang berkebangsaan Habasyah ataukah mereka anak blasteran yang dilahirkan oleh wanita arab sementara ayahnya adalah orang Habasyah…

…Juga tidak peduli apakah mereka masih kecil ataupun mereka telah beranjak dewasa. Dan juga hendaknya engkau membunuh semua orang yang memiliki rambut keriting yang pendek yang semisal dengan rambut yang dimiliki oleh orang-orang Habasyah (tidak peduli mereka berkebangsaan arab atau berkebangsaan Habasyah)!”.

Setelah menerima perintah ini berangkatlah Wahraz bersama ke - 4.000 pasukannya menuju Yaman, dan sesampainya mereka di sana mereka segera melaksanakan semua yang telah diperintahkan oleh Kisra, dimana tidaklah mereka temukan salah seorang yang berkebangsaan Habasyah kecuali mereka bunuh orang tersebut.

Dan setelah misi tersebut mereka selesaikan dengan baik, Wahraz pun mengirimkan sebuah surat kepada Kisra yang berisi laporan mengenai suksesnya misi yang telah diembankan kepada mereka. Setelah itu Kisra segera melantik Wahraz menjadi raja baru bagi rakyat Yaman”.

Telah saya sebutkan diatas bahwa yang membantai orang-orang Habasyah adalah bangsa Persia dibawah pimpinan Wahraz, dan ini juga yang telah disebutkan oleh Ibnul Atsir di dalam kitabnya.

Akan tetapi tampaknya Ibnu Qutaibah ad-Dainuriy memiliki pendapat lain, dimana beliau berkata setelah menceritakan perihal peristiwa terbunuhnya Saif: “Setelah itu orang-orang Habasyah yang terlibat dalam pembunuhan Saif segera berlari menuju ke pegunungan dan bersembunyi disana. Akan tetapi ternyata orang-orang Yaman berhasil menemukan mereka semua dan langsung membantai mereka semua disana.

Setelah itu terjadilah kekacauan di negeri Yaman karena tidak adanya seorang raja yang menyatukan mereka, terlebih lagi setiap suku lebih memilih untuk mengurusi urusan mereka masing-masing dengan cara menunjuk seseorang dari Himyar untuk memimpin mereka. Dan inilah yang dilakukan oleh setiap suku Yaman, hingga mereka pada saat itu tidak ada bedanya dengan masa keemasan Muluk ath-Thawaif (raja-raja kecil), keadaan ini tetap berlangsung hingga kedatangan Islam (ke negeri Yaman)”.

Walaupun begitu, Ibnu Qutaibah juga menyebutkan pendapat lain yang senada dengan apa yang ditulis oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Atsir yang mengatakan bahwa kekuasaan di negeri Yaman sama sekali tidak didominasi oleh Muluk ath-Thawaif melainkan berada di bawah tangan bangsa Persia hingga datangnya Islam. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Kisah mengenai Wahraz dan bangsa Persia di negeri Yaman Insya Allah akan saya ceritakan di artikel selanjutnya.

Was-Salam.

  

 

Friday, August 13, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZIN BERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 8).

 

Hari yang Cerah, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Setidaknya ada 2 bait syair yang disebutkan oleh para ulama selain bait syair milik Saif (yang telah saya sebutkan pada artikel yang lalu) yang bercerita mengenai kemenangan bangsa Persia atas orang-orang Habasyah di Yaman.

Bait syair pertama adalah bait syair karya seseorang yang bernama Abu ash-Shalt bin Abi Rabi’ah ats-Tsaqafiy, bait syair ini disebutkan oleh Ibnu Ishaq dan sebagian besar para ulama di buku-buku mereka.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZINBERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 7).

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZINBERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 9).

Berkata Ibnu Ishaq: “Berkata Abu ash-Shalt bin Abi Rabi’ah ats-Tsaqafiy:

Hendaknya yang meminta pertolongan adalah orang-orang seperti Ibnu Dzi Yazin…

Dia mengarungi lautan untuk kemudian menyerang musuh laksana kilat yang menyambar…

Dia bergerak menuju Kaisar ketika dia merasa perjalanannya ini akan segera berakhir…

Akan tetapi dia tidak mendapati di sisi Kaisar sedikitpun dari apa yang dia minta dan harapkan…

Kemudian dia memutuskan kembali untuk pergi menghadap Kisra setelah berpuluh-puluh…

Tahun dia merendahkan diri di negeri orang dalam keadaan tidak mempunyai harta…

Hingga akhirnya dia pulang sembari membawa orang-orang merdeka…

Sungguh demi umurku, engkau telah benar-benar bergerak dengan sangat cepat…

Demi Allah kelompok yang datang bersamanya tersebut telah membawa suatu kebaikan…

Yang aku tidak pernah melihat sekelompok manusia lain yang semisal dengan mereka…

Seorang pemimpin yang pemberani sang penakluk benteng-benteng yang kemarahannya…

Laksana kemarahan seekor induk singa yang sedang merawat anak-anaknya di dalam sarangnya di tengah hutan…

Mereka melempar anak panah dengan memakai busur-busur hingga seakan-akan mereka itu rengga…

Busur-busur tersebut terbuat dari bambu Persia yang mempercepat laju anak panah…

Engkau telah mengirim seekor singa untuk melawan segerombolan anjing berwarna hitam maka…

Tidak membutuhkan waktu lama hingga segerombolan tersebut kalah dan lari tercerai-berai tanpa arah…

Maka berpestalah engkau karena telah berhasil mengambil kembali mahkotamu dengan rasa aman…

Di atas kastil Gumdan, sebuah kastil yang menjadi rumah tempat bersantaimu…

Berpestalah engkau karena mereka semua telah dikalahkan dan telah dibinasakan…

Turunkanlah pakaianmu pada hari ini hingga melewati mata kaki…

Seluruh kebaikan itu sama sekali tidak sama dengan segelas susu…

Yang dicampur dengan air, karena segelas susu tersebut pada akhirnya hanya akan menjadi kotoran yang di buang…”.

Inilah bait syair yang pertama, adapun bait syair yang kedua adalah karya seseorang yang bernama Adi bin Zaid al-Himyariy, akan tetapi saya tidak akan menyebutkannya pada artikel hari ini.

Dan di dalam bait syair diatas, di sebutkan nama sebuah benteng yaitu benteng Gumdan, as-Suhailiy menjelaskan di dalam kitabnya mengenai benteng Gumdan ini…

Berkata as-Suhailiy: “Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa benteng Gumdan ini dibangun oleh Ya’rub bin Qahthan dan disempurnakan oleh orang-orang setelahnya. Akan tetapi pada akhirnya benteng tersebut berhasil diambil alih oleh seseorang yang bernama Wail atau Watsil bin Himyar bin Saba’ pada saat dia menjadi raja”.

Syaikh Abdurrahman al-Wakil berkata: “Disebutkan di dalam al-Marashid bahwa Gumdan adalah nama sebuah benteng yang terletak di kota Shan’a di negeri Yaman, benteng ini konon menjadi tempat beristirahatnya para raja. Benteng ini tetap berdiri tegak semenjak dibangun hingga zaman pemerintahan Utsman, dimana beliau menghancurkan benteng tersebut.

Di sebutkan pula dalam kitab Mu’jam karya al-Bakriy bahwa benteng Gumdan ini adalah pusatnya kota Shan’a.

Dan di dalam kitab at-Taqwim karya Abu al-Fida’ disebutkan bahwa benteng Gumdan ini adalah sebuah bukit yang sangat besar, dimana terdapat padanya istana raja-raja Yaman”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Kisah mengenai Saif akan saya lanjutkan pada artikel selanjutnya Insya Allah.

Was-Salam.

 

Thursday, August 12, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZIN BERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 7).

 

Hari yang Cerah, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Ketika bangsa Persia berhasil memenangkan pertempuran melawan orang-orang Habasyah, masuklah Wahraz sang pemimpin ke dalam kota Shan’a sembari mengangkat tinggi-tinggi benderanya sebagai isyarat kemenangan.

Adapun Saif bin Dzi Yazin, ketika dia melihat bahwa cita-cita ayahnya telah tercapai, juga ketika melihat segenap bangsanya telah berhasil terbebaskan dari cengkraman kehinaan di bawah tangan bangsa Habasyah, dia melantunkan bait sya’ir berikut…

Berkata Ibnu Ishaq: “Maka Saif bin Dzi Yazin melantunkan bait syair berikut:

Orang-orang mengira bahwa kedua raja tersebut telah saling berbaikan dan telah saling berdamai…

Dan siapa saja yang mendengar kabar bahwa keduanya telah saling berbaikan, maka sungguh dia telah mendapatkan kabar yang sangat menyesatkan…

Sungguh kami telah membunuh sang raja Masruq, dan sungguh kami telah membasahi bukit-bukit pasir dengan aliran darah segar…

Dan sungguh sang raja yang sesungguhnya, raja para rakyat jelata Wahraz telah mengikrarkan sebuah sumpah…

Bahwa dia akan mencicipi minuman Musya’sya’, dan dia akan mengambil para tawanan juga harta rampasan perang…”.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZINBERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 6).

SEJARAH YAMAN: KISAH SAIF BIN DZI YAZINBERSAMA BANGSA PERSIA (BAG, 8).

Setelah itu Saif-pun memasuki kota Shan’a mengikuti Wahraz, dan selang beberapa waktu kemudian Wahraz menulis sebuah surat dan mengirimkannya kepada Kisra…

Berkata Ibnu Jarir: “Ketika Wahraz telah menguasai Yaman dan telah mengusir orang-orang Habasyah dia segera menulis sebuah surat yang dia peruntukkan bagi Kisra, surat tersebut berbunyi: “Sungguh aku telah menundukkan Yaman untukmu dan telah mengusir keluar orang-orang Habasyah darinya”.

Wahraz juga mengirimkan bersama surat tersebut harta rampasan perang yang sangat banyak. Dan ketika suratnya telah di baca oleh Kisra, Kisra menulis surat balasan yang isinya: agar Saif bin Dzi Yazin diangkat sebagai raja bagi negeri Yaman.

Kisra juga mewajibkan bagi Saif dan penduduk Yaman untuk membayar upeti dalam jumlah tertentu setiap tahunnya.

Setelah itu Kisra memerintahkan Wahraz agar segera kembali ke negeri Persia, maka Wahraz-pun mentaati perintah tersebut setelah dia melantik Saif bin Dzi Yazin menjadi raja Yaman yang baru. Sebagaimana dahulu ayahnya Saif yakni Dzu Yazin juga adalah seorang raja”.

Tidak membutuhkan waktu lama setelah kemenangan Saif bersama sekutunya atas bangsa Habasyah hingga berita mengenai hal ini tersebar begitu cepatnya ke seluruh penjuru jazirah arab, apalagi setelah beredar kabar bahwa yang naik tahta setelah terbunuhnya Masruq bukanlah seseorang dari bangsa Persia melainkan seseorang yang memiliki darah Yaman asli, maka semakin bertambahlah kegembiraan bangsa arab atas hal ini.

Mereka-pun datang berbondong-bondong menuju Yaman demi mengucapkan selamat atas Saif karena telah berhasil meruntuhkan kekuasaan bangsa Habasyah yang sangat mereka benci tersebut.

Berkata Ibnu Katsir: “Utusan bangsa arab dari seluruh penjuru jazirah arab berdatangan ke negeri Yaman demi mengucapkan selamat kepada Saif atas keberhasilannya mengambil kembali singgasana nenek moyangnya dari tangan orang-orang Habasyah.

Dan diantara para utusan tersebut, terdapat pula sekelompok orang yang dikirim oleh suku Quraisy demi mengucapkan selamat kepada Saif. Dan diantara utusan suku Quraisy tersebut terdapat ‘Abdul Muththalib bin Hasyim (sang pemilik 200 unta yang dirampas oleh Abrahah pada peristiwa hancurnya pasukan bergajah, orang ini juga adalah kakek Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)).

Ketika ‘Abdul Muththalib bertatap muka dengan Saif, Saif memberikan kabar gembira kepadanya akan diutusnya seorang Nabi akhir zaman, dan Nabi tersebut adalah salah satu dari anak keturunannya. Saif juga memberitahunya perihal apa saja yang diketahuinya mengenai sang Nabi akhir zaman tersebut”.

Dan sebagaimana yang telah kita ketahui, Nabi akhir zaman tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi kita tercinta Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Sebelum mengakhiri artikel hari ini saya ingin menuliskan beberapa info tambahan mengenai mahkota yang dipakai oleh Kisra, info tersebut saya ambil dari buku karangan imam as-Suhailiy yang berjudul ar-Raudhul Unuf.

Berkata as-Suhailiy: “Al-Qanqal yakni daun timbangan yang diserupakan dengan mahkota Kisra adalah daun timbangan yang sangat besar.

Disebutkan dalam kitab al-Gharibin karya imam al-Harwi bahwa al-Qanqal ini adalah sebuah daun timbangan yang mampu menampung (minyak tanah) sebanyak 33 mannan. Akan tetapi beliau (yakni al-Harwi) tidak menyebutkan seberapa beratkah 1 mannan itu?. Adapun saya sendiri berpendapat bahwa 1 mannan itu seberat 2 liter (minyak tanah)”.

Dikatakan oleh syaikh Abdurrahman al-Wakil bahwa al-Qanqal ini adalah daun timbangan yang terbuat dari besi. Wallahu A’lam.

As-Suhailiy melanjutkan: “Mahkota yang sangat besar ini pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab (Radhiyallahu ‘Anhu) di datangkan ke hadapan beliau setelah diambil dari Kisra Yazdajurd bin Syahriar…

Dan ketika mahkota (dan segala perhiasan Kisra) tersebut telah sampai ke tangan Umar (Radhiyallahu ‘Anhu), beliau segera memanggil Suraqah bin Malik al-Mudlijiy.

Sesampainya Suraqah di hadapan Umar, Umar segera mengalungkan gelang-gelang Kisra ke tangan Suraqah sekaligus memakaikan mahkota Kisra diatas kepala Suraqah. Lalu Umar berkata kepadanya: “Katakanlah wahai Suraqah kalimat ini: “Segala puji bagi Allah yang telah mencabut mahkota ini dari kepala Kisra sang raja diraja yang dihormati, dan kemudian menaruhnya diatas kepala seorang arab badui dari suku Mudlij. Dan itu semua dikarenakan kemuliaan Islam dan kekuatannya, bukan dikarenakan kemuliaan dan kekuatan kami!”.

Adapun kenapa Umar hanya mengkhususkan mahkota beserta gelang Kisra tadi bagi Suraqah, hal itu dikarenakan dahulu pada saat Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) masih hidup beliau pernah berkata kepada Suraqah: {“Wahai Suraqah, bagaimana jika pada suatu saat nanti mahkota Kisra akan dipakaikan diatas kepalamu dan gelang-gelangnya akan dipakaikan di tanganmu?”}, atau sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah cerita mengenai Saif akan berlanjut di artikel selanjutnya.

Was-Salam.