This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Ashhabul Ukhdud. Show all posts
Showing posts with label Ashhabul Ukhdud. Show all posts

Sunday, July 11, 2021

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 5).

 

Gambar oleh Sorbyphoto dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Allah (‘Azza Wa Jalla) berfirman di dalam surat al-Buruj ayat: 1-9 {“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang <1> dan demi hari yang dijanjikan <2> dan demi yang menyaksikan dan disaksikan <3> binasalah orang-orang yang membuat parit <4> yang berapi membara yang menyala karena kayu bakar <5> ketika mereka duduk di sekitarnya <6> sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin <7> dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena mereka (orang-orang mukmin) beriman kepada Allah yang Maha Perkasa Maha Terpuji <8> Yang Memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu <9>”}.

Berkata Ibnu Abbas (Radhiyallahu ‘Anhuma) setelah menjelaskan bahwa masyarakat Najran berbondong-bondong masuk ke agama Nashrani setelah meninggalnya Abdullah bin ats-Tsamir: “Secara serentak masyarakat Najran berseru: “Kami semua beriman kepada Tuhan pemuda ini! (yakni Allah (‘Azza Wa Jalla)”.

Kemudian seorang petinggi kerajaan berkata kepada sang raja: “Sungguh apa yang engkau takutkan telah benar-benar terjadi (yakni rakyat Najran memeluk keyakinan baru menggantikan keyakinan mereka yang lama)”.

BACA JUGA:

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 4).

SEJARAH YAMAN: KISAH DAUS DZU TSA’LABAN, ABRAHAH DAN PASUKAN BERGAJAH (BAG, 1).

Seketika amarah memenuhi kepala sang raja karena melihat rakyatnya telah meninggalkan penyembahan kepada patung-patung dan berhala, dan mereka malah lebih memilih untuk memeluk keyakinan seorang pemuda yang baru saja dia bunuh dengan tangannya. Oleh karena itu dia memerintahkan agar semua gerbang yang mengelilingi negeri Najran ditutup, dan seluruh masyarakat dikumpulkan menjadi satu di tengah kota, dimana sebuah parit yang sangat besar dan panjang sedang di gali, setelah penggalian selesai dinyalakanlah api pada parit tersebut dan semua orang diperintahkan untuk berkumpul di sekeliling parit, dan raja-pun mengeluarkan peringatannya yang berbunyi: siapa saja yang bersedia meninggalkan agamanya maka silahkan pulang dengan selamat, dan siapa saja yang tidak bersedia maka silahkan masuk ke dalam api yang berkobar!.

Dikisahkan bahwa diantara rakyat Najran ada seorang wanita yang memiliki 3 orang anak, 2 orang diantara mereka telah dewasa, sementara 1 orang lagi masih bayi. Ketika si wanita dan anak-anaknya telah sampai di pinggir parit, raja berkata padanya: “Tinggalkanlah agamamu!. Jika tidak, aku akan membakarmu bersama ketiga anakmu sekaligus!”.

Si wanita tidak gentar mendengar ancaman raja ini, maka raja ingin mengujinya dengan menerjunkan terlebih dahulu kedua anaknya yang telah dewasa, akan tetapi si wanita tetap tidak bergeming dan tetap memegang teguh keyakinannya. Kemudian ketika raja mengambil anaknya yang masih bayi dan ingin segera melemparkannya ke dalam parit, si wanita berteriak mencegah raja dan berjanji padanya bahwa ia akan segera murtad dari agamanya saat itu juga dengan syarat agar raja tidak membakar anaknya yang masih bayi tersebut, dan secara tidak terduga tiba-tiba si bayi ini berbicara kepada ibunya: “Wahai ibu, janganlah sekali-kali engkau keluar dari agamamu, tidak apa-apa engkau tidak usah mengkhawatirkan diriku!”. Setelah itu secara tidak pandang bulu, raja segera melemparkan si wanita dan anak bayinya tersebut ke dalam api yang membara, dan bayi ini adalah salah satu dari beberapa bayi yang bisa berbicara pada saat masih kecil”.

Inilah cerita yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (Radhiyallahu ‘Anhuma), dimana menurut beliau Dzu Nuwas memerintah negeri Najran dan bukannya negeri Yaman. Wallahu A’lam.

Adapun al-Muthahhir bin Thahir al-Maqdisiy maka beliau berkata: “…Kabar perihal rakyat Najran yang memeluk agama Nashrani secara berbondong-bondong sampai ke telinga Dzu Nuwas, kabar ini membuatnya pusing, dan dia segera menyiapkan pasukan untuk menyerbu masyarakat Najran. Sesampainya di sana, dia mendapati rakyat Najran telah mendengar kedatangannya dan bertahan dibalik tembok benteng mereka, dimana hal ini memaksa Dzu Nuwas untuk mengepung mereka selama beberapa bulan lamanya.

Bosan dengan hal ini, Dzu Nuwas-pun melancarkan tipu daya dengan memberitahu rakyat Najran bahwa dia ingin mengadakan gencatan senjata dan agar mereka membukakan pintunya bagi seorang teman yang datang berkunjung secara damai. Setelah masuk ke kota tersebut, dia mendapati rakyat Najran masih tetap saja curiga padanya dengan cara menutup seluruh pintu-pintu rumah mereka dan tidak ada seorang-pun yang keluar menyambutnya selain penjaga gerbang (tentunya). Maka dia-pun berjanji tidak akan melukai seorangpun dengan syarat mereka semua harus keluar dari rumah, dan ketika semua rakyat Najran telah keluar Dzu Nuwas segera menangkap mereka semua dan mengumpulkan mereka di tengah kota disamping sebuah parit besar yang sedang berkobar-kobar, dimana parit ini disiapkan Dzu Nuwas untuk memaksa rakyat Najran meninggalkan agama Nashrani mereka, maka dimajukanlah rakyat Najran satu persatu menuju parit dan diberi pilihan antara agama Nashrani dan api yang menyala-nyala…”. Kemudian terjadilah peristiwa pembakaran Ashhabul Ukhdud, dan juga kisah si wanita dan ketiga anaknya diatas.

Ibnu Ishaq sendiri berkata: “(Setelah Dzu Nuwas mendengar kabar bahwa rakyat Najran telah memeluk agama Nashrani) Dzu Nuwas segera berangkat bersama pasukannya yang terdiri dari orang-orang Himyar dan suku-suku Yaman yang lain menuju negeri Najran, sesampainya disana dia langsung mengumpulkan rakyat Najran pada suatu tempat dan mengajak mereka untuk memeluk agama Yahudi sembari memberi mereka pilihan antara agama Yahudi dan dibakar di dalam parit.

Ternyata rakyat Najran lebih memilih untuk dibakar dalam parit daripada murtad dari agama mereka, maka Dzu Nuwas langsung menggali sebuah parit yang sangat besar dan menyalakan api padanya, kemudian dia membakar sebagian orang dan membunuh sebagian lainnya dengan pedang sembari mencincang tubuh mereka, hingga korban yang berjatuhan akibat haus darahnya ini mencapai angka 20,000 jiwa. Setelah itu, selang beberapa puluh tahun kemudian Allah (‘Azza Wa Jalla) menurunkan surat al-Buruj pada Nabi kita tercinta Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) demi memperingati kejadian berdarah ini…”.

Ibnu Ishaq melanjutkan: “Diantara yang dibunuh oleh Dzu Nuwas adalah Abdullah bin ats-Tsamir pemimpin rakyat Najran dari sisi keagamaan”.

Kemudian beliau berkata: “Telah menceritakan padaku Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin ‘Amr ibn Hazm: “Dahulu pada zaman pemerintahan Umar bin Khaththab (Radhiyallahu ‘Anhu) ada seseorang dari Najran yang menggali sebuah reruntuhan bangunan, dan tiba-tiba dia mendapati di bawah reruntuhan tersebut jasad Abdullah bin ats-Tsamir pada sebuah liang lahat dalam keadaan duduk, dimana kedua tangannya sedang memegang sebuah luka bekas pukulan di kepalanya, dan jika tangannya di tarik dari bekas luka tersebut, mengalirlah darah segar daripadanya, dan jika tangannya dikembalikan ke posisi semula, darah tersebut berhenti mengalir. Selain itu mereka mendapati pula pada jemari Abdullah bin ats-Tsamir sebuah cincin yang bertuliskan kalimat: “Tuhanku adalah Allah”.

Setelah itu rakyat Najran mengirim surat ke Umar bin Khaththab mengkhabarinya perihal terungkapnya jasad Abdullah bin ats-Tsamir, maka Umar mengirim surat balasan yang isinya sebagai berikut: “Biarkanlah dia pada posisinya semula, dan kuburlah dia kembali pada liang lahat tersebut!”. Mereka-pun menuruti perintah Umar ini”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Kisah selanjutnya mengenai apa yang terjadi setelah pembakaran akan saya paparkan pada artikel yang akan datang Insya Allah.

Was-Salam.   

 

 

 

 

 

 

Saturday, July 10, 2021

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 4).

Gambar oleh Sorbyphoto dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Sebelum masuk ke cerita mengenai apa yang diperbuat Dzu Nuwas kepada rakyat Najran yang telah beriman kepada Allah (‘Azza Wa Jalla) dan telah memeluk agama Nashrani murni, saya ingin menyebutkan sebuah kisah lagi mengenai Abdullah bin ats-Tsamir. Kisah ini di ceritakan oleh sahabat Ibnu Abbas (Radhiyallahu ‘Anhuma) dan dibawakan oleh Ibnul Atsir di dalam buku beliau al-Kamil fit-Tarikh, ceritanya sebagai berikut…

BACA JUGA:

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 3).

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 5).

Berkata Ibnul Atsir: “Berkata Ibnu Abbas: “Dahulu di negeri Najran memerintah seorang raja dari raja-raja Himyar yang dijuluki Dzu Nuwas dan bernama Yusuf bin Syurahbil. Raja ini memerintah sebelum kelahiran Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) dengan jarak 70 tahun, dan dia memiliki seorang penyihir yang hebat.

Ketika penyihir ini mencapai umur baligh, dia berkata kepada sang raja: “Wahai raja, aku sekarang telah dewasa, maka kirimkanlah padaku mulai hari ini seorang pemuda agar aku bisa mengajarinya ilmu sihir!”.

Raja-pun mengabulkan permintaannya dengan mengirimkan ke kediamannya seorang pemuda bernama Abdullah bin ats-Tsamir, maka mulai saat itu kegiatan sehari-hari Abdullah adalah pulang – pergi dari rumah ayahnya ke rumah si penyihir pada pagi hari, dan di sore harinya ia akan beranjak dari rumah si penyihir ke rumah ayahnya.

Dan juga secara kebetulan di tengah jalan yang menghubungkan antara rumah si ayah dan penyihir ada sebuah tempat tinggal yang ditempati oleh seorang rahib, rahib ini terkenal karena keilmuannya. Apa yang dilakukan oleh sang rahib di kediamannya tersebut dari gerakan-gerakan sholat dan lantunan-lantunan dzikir mampu mencuri perhatian Abdullah, hingga pada suatu hari Abdullah memutuskan untuk mampir sebentar disisi kediaman sang rahib demi melihat dan mendengarkan gerakan-gerakan sholat maupun lantunan-lantunan dzikirnya.

Apa yang dilihat dan didengarnya pada hari itu sangat membuatnya takjub hingga membuatnya menambahkan sebuah rutinitas baru ke dalam rutinitas hariannya, rutinitas tersebut adalah berkunjung ke tempat tinggal si rahib dan belajar darinya sebelum ia menjumpai si penyihir pada pagi hari, dan di sore harinya ia akan berkunjung lagi ke kediaman sang rahib sebelum pulang ke rumah ayahnya.

Perubahan ini sangat membuat jengkel si penyihir karena tentunya setiap hari Abdullah selalu datang terlambat dari waktu yang telah ditetapkan, begitu pula perihalnya dengan sang ayah. Maka Abdullah mengadukan hal ini kepada si rahib, dan si rahib-pun memberikan sebuah solusi yakni agar Abdullah mengatakan kepada si penyihir jika ia menanyainya kenapa ia selalu terlambat: “Aku terlambat karena ayahku selalu menunda-nunda keberangkatanku”, begitu juga jika ia ditanyai oleh ayahnya kenapa selalu terlambat pulang dengan mengatakan: “Aku selalu terlambat pulang karena si penyihirlah yang selalu menahanku di rumahnya hingga hari telah benar-benar gelap”.

Setelah menerapkan siasat tersebut, hari-hari Abdullah-pun kembali tenang sebagaimana sediakala. Dan suatu hari ketika Abdullah hendak pergi ke kediaman si rahib, ia menjumpai di tengah jalan ada kerumunan manusia yang sedang mengerumuni seekor ular besar yang melintang di tengah jalan hingga membuat jalanan tersebut kacau balau pada hari itu, melihat kekacauan yang dibuat oleh ular ini Abdullah berinisiatif untuk membunuh ular tersebut dengan melemparinya sebuah batu yang diiringi nama Allah (‘Azza Wa Jalla) di saat sebelum melempar. Maka setelah mengucapkan nama Allah (‘Azza Wa Jalla) ia-pun melemparkan sebuah batu yang seketika membuat ular tersebut mati, dan sesampainya dia di tempat tinggal sang rahib, dia mengkhabarinya perihal peristiwa tadi, maka si rahib-pun berkata padanya: “Sungguh engkau nanti pasti akan menjadi orang besar, dan sebelum itu engkau akan di uji terlebih dahulu, maka aku mohon padamu agar engkau tidak membocorkan ke khalayak ramai perihal diriku ketika engkau nanti di uji”.

Setelah berjanji kepada si rahib, Abdullah kembali menimba ilmu darinya dan juga kembali menjalani rutinitas hariannya sebagaimana sebelumnya. Akan tetapi kali ini setelah Abdullah melihat apa yang bisa dilakukannya dengan nama-nama Allah (‘Azza Wa Jalla), ia-pun berkeinginan untuk membantu orang-orang yang tertimpa musibah atau penyakit dengan cara menghilangkan musibah yang menimpa mereka dan menyembuhkan penyakit yang mereka derita memakai perantara nama-nama Allah tersebut.

Maka sejak hari itu ia-pun mulai menyembuhkan orang-orang sakit hingga kisah mengenai dirinya yang bahkan bisa mengembalikan penglihatan orang buta sampai ke telinga sepupu sang raja.

Sang sepupu-pun memanggil Abdullah ke istana dan berkata padanya: “Berdo’alah engkau kepada Allah, agar Dia berkenan mengembalikan penglihatanku!”, mendengar permintaan ini Abdullah bertanya kepadanya: “Jika Allah berkenan mengembalikan penglihatanmu, apakah engkau akan beriman kepadaNya?”, si sepupu menjawab: “Iya, aku akan beriman kepadaNya!”.

Mendengar jawaban tersebut Abdullah berdo’a: “Ya Allah, jika apa yang dikatakannya adalah sebuah kejujuran, maka kembalikanlah penglihatannya”. Dan seketika si sepupu raja tadi bisa kembali melihat.

Setelah penglihatan si sepupu kembali, ia segera menemui raja yang seketika terheran-heran ketika melihatnya bisa kembali melihat, raja-pun bertanya kepadanya perihal apa yang dilakukannya sehingga ia bisa kembali melihat, maka si sepupu menceritakan kisahnya bersama Abdullah.

Mendengar kisah tersebut, raja-pun memanggil Abdullah dan langsung menuduhnya sebagai penyihir sesampainya Abdullah di istana, mendengar tuduhan ini Abdullah hanya bisa tersenyum sembari berkata: “Sungguh aku ini sama sekali tidak bisa menyembuhkan orang sakit, akan tetapi Allah-lah yang telah Menyembuhkan mereka”.

Setelah itu raja-pun menyiksanya dengan tujuan agar Abdullah memberitahunya siapa yang telah mengajarinya hal tersebut dan dimana orang ini tinggal, semakin lama siksaan semakin berat hingga membuat Abdullah membocorkan tempat tinggal si rahib. Setelah si rahib didatangkan kehadapan raja, dia disuruh untuk murtad dan meninggalkan agamanya dengan balasan dia akan dibebaskan setelahnya, akan tetapi si rahib bersikukuh untuk tetap memeluk agama yang dianutnya, akhirnya si raja memerintahkan agar si rahib di belah badannya menjadi dua bagian dengan pedang”.

Setelah itu raja berpaling kepada Abdullah, dan ternyata Abdullah juga mengikuti jejak gurunya dengan tetap bertahan diatas agama yang mereka berdua anut, dan terjadilah setelah itu kejadian dimana Abdullah di seret keatas gunung dan di terjunkan ke bawah akan tetapi dengan pertolongan Allah ia bisa selamat, setelah itu dia kembali dibawa ke tengah lautan ganas dan kemudian di tenggelamkan akan tetapi lagi-lagi dengan pertolongan Allah ia berhasil selamat. Setelah itu ia kembali dibawa ke hadapan raja untuk kemudian di tebas dengan pedang akan tetapi ternyata pedangnya menjadi bengkok hingga akhirnya Abdullah memberi tahu raja tips termudah untuk membunuhnya yaitu dengan mengumpulkan semua masyarakat di sebuah tanah lapang dan mengikatnya pada sebuah tiang, kemudian raja harus mengucapkan kalimat: “Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini” sebelum melemparkan anak panah kepadanya, maka dengan ini semua-lah sang raja baru bisa membunuhnya.

Maka raja-pun melaksanakan seluruh syarat diatas, kemudian setelah semuanya siap ia-pun membidik dan langsung menembakkan anak panahnya ke arah Abdullah, yang seketika anak panah tersebut membunuh Abdullah dan menyungkurkannya ke atas tanah. Setelah itu secara mengejutkan seluruh masyarakat yang menyaksikan kejadian ini bersorak: “Kami beriman kepada Allah Tuhan pemuda ini!”.

Setelah itu terjadilah peristiwa pembakaran Ashhabul Ukhdud. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Cerita akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.

 

 

 

Friday, July 9, 2021

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 3).

 

Gambar oleh Sorbyphoto dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Berkata Ibnu Ishaq: “…Ketika raja memanggil Abdullah, ia-pun segera datang ke istana dan langsung duduk di depan raja, raja berkata padanya: “Sungguh engkau telah merusak dan membodohi masyarakatku, juga menyelisihi agamaku dan agama nenek moyangku dengan perbuatan yang engkau lakukan, oleh karena itu aku telah bersumpah akan benar-benar membunuhmu!”.

Abdullah menimpali ancaman ini dengan mengatakan: “Engkau wahai raja, selamanya tidak akan bisa membunuhku bagaimanapun caranya!”.

BACA JUGA:

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 2).

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 4).

Raja semakin bertambah geram karena mendengar ancamannya di balas dengan tantangan, dimana sebelum-sebelumnya tidak ada yang pernah menantang seorang raja walau sekali, oleh karena itu sang raja-pun memerintahkan agar Abdullah dibawa ke atas gunung demi melihat apakah dia mau menarik kembali ucapannya ataukah tidak?.

Sesampainya Abdullah dan para pengawal diatas gunung, seluruh anggota rombongan tersebut tidak melihat tanda-tanda bahwa Abdullah berniat menarik kembali tantangannya, maka mereka melaporkan hal ini kepada raja, dan raja-pun segera memerintahkan agar hukuman mati segera dilaksanakan, dan agar Abdullah benar-benar melihat kali ini bahwa keputusannya untuk menantang raja di istana tadi adalah benar-benar keputusan yang salah.

Ibnu Ishaq berkata: “Maka raja segera memerintahkan kepada para pengawal untuk membawa Abdullah ke atas puncak gunung tertinggi di Najran. Ketika mereka semua telah sampai disana, raja memerintahkan kembali agar Abdullah dilemparkan ke bawah dengan kepala terlebih dahulu, maka dilemparlah Abdullah ke bawah persis sebagaimana perintah raja, akan tetapi yang mengejutkan adalah para pengawal sekaligus semua orang di Najran dibuat terpana ketika melihat Abdullah bangkit dari tanah tempat ia mendarat dengan kepalanya dalam keadaan sehat walafiat tanpa ada kurang sedikitpun.

Mendengar akan hal ini, raja sama sekali tidak habis akal dan tidak akan menyerah, ia segera memerintahkan kembali kepada para pengawalnya untuk menangkap kembali Abdullah dan segera membawanya dengan kapal menuju tengah laut dan berhenti persis diatas perairan terdalam lautan, dimana jika ada seseorang yang dilemparkan ke dalam perairan tersebut maka ia tidak akan bisa selamat karena dalam dan ganasnya perairan tersebut.

Maka dibawalah Abdullah dalam keadaan terikat menuju ke tengah laut, sesampainya mereka semua disana, mereka-pun segera melempar Abdullah yang dalam keadaan terikat ke dalam ganasnya lautan, akan tetapi sekali lagi mereka semua sekaligus seluruh rakyat Najran dibuat takjub ketika melihat Abdullah keluar dari pantai dalam keadaan sehat walafiat tanpa ada kurang sedikitpun.

Mendengar bahwa Abdullah sekali lagi berhasil selamat secara menakjubkan dari situasi bahaya, raja-pun mengakui kekalahannya dan kali ini dia-pun percaya akan apa yang dikatakan oleh Abdullah dahulu bahwa dia tidak akan bisa membunuhnya selamanya dan bagaimanapun caranya”.

Oleh karena itu dia kembali memanggil Abdullah ke istana, akan tetapi kali ini bukan untuk menghukumnya melainkan untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya karena dahulu disebabkan amarah yang menggebu-gebu yang telah menguasai dirinya ia tidak sempat menyuruh Abdullah menjelaskan dan berbicara mengenai keyakinan barunya tersebut, maka kali ini dia-pun ingin memperbaiki kesalahannya tersebut dengan mendengarkan baik-baik apa yang akan dikatakan Abdullah mengenai keyakinannya.

Ibnu Ishaq melanjutkan: “…Sesampainya di istana Abdullah mengatakan kepada sang raja: “Sungguh engkau tidak akan bisa membunuhku selamanya, kecuali jika engkau bersedia untuk mentauhidkan dan mengesakan Allah sekaligus beriman dan mempercayai apa yang aku beriman dan percaya kepadaNya. Karena jika engkau bersedia untuk melakukannya, maka sungguh engkau akan diberi kemampuan untuk menguasai diriku, dan pada saat itulah engkau bisa dengan bebas membunuhku!”.

Mendengar tawaran tersebut, raja-pun seketika mentauhidkan dan mengesakan Allah (‘Azza Wa Jalla) dan juga bersyahadat sebagaimana syahadatnya Abdullah ketika ia masuk dan memeluk agama Nashrani.

Ketika sang raja telah resmi memeluk agama Nashrani dihadapan khalayak ramai, dia-pun segera memukul Abdullah bin ats-Tsamir dengan tongkat yang ada ditangannya dengan sekali pukulan yang mampu memunculkan luka kecil ditubuh Abdullah, akan tetapi walaupun luka tersebut adalah luka yang kecil tetapi mampu untuk merubuhkan Abdullah dan membunuhnya saat itu juga…”.

Dan bagaimana nasib sang raja?...

Ibnu Ishaq berkata: “…Dan sang raja juga seketika ikut tewas setelah pukulannya tersebut. Melihat peristiwa menakjubkan ini, rakyat Najran-pun berbondong-bondong segera memeluk agama Abdullah yakni agama Nashrani. Dan agama Nashrani yang dimaksud disini adalah agama Nashrani murni yang masih sesuai dengan ajaran Nabi Isa (‘Alaihis Salam) dan juga yang masih sesuai dengan tuntunan kitab suci Injil.

Kemudian setelah itu mereka rakyat Najran melewati kejadian-kejadian sebagaimana kejadian-kejadian yang menimpa orang-orang sebelum mereka para pemeluk agama Nahsrani terdahulu, dan inilah kisah asal-usul masuknya agama Nashrani di tanah Najran. Wallahu A’lam”.

Ibnu Ishaq melanjutkan: “Ini adalah riwayat dan cerita yang dibawakan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Quradziy dan sebagian rakyat Najran mengenai kisah Abdullah bin ats-Tsamir, dan Allah (‘Azza Wa Jalla)-lah Yang Lebih Mengetahui kisah versi mana yang lebih benar (versi Wahab bin Munabbih atau versi Muhammad bin Ka’ab al-Quradziy)”.

Cerita mengenai rakyat Najran selanjutnya akan saya sampaikan di artikel depan Insya Allah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.   

Thursday, July 8, 2021

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 2).

 

Gambar oleh Sorbyphoto dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Berkata Ibnu Ishaq: “…Dan ats-Tsamir sendiri (yakni ayah Abdullah) mengira bahwa anaknya setiap hari pergi ke kediaman tukang sihir bersama pemuda-pemuda yang lain.

Adapun Abdullah ketika ia melihat bahwa Faimiyyun tetap bersikeras menyembunyikan nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung tersebut darinya, dan tetap pada keyakinannya bahwa Abdullah belum cukup kuat untuk memikul nama tersebut diatas pundaknya. Abdullah-pun berinisiatif untuk mencari nama tersebut dengan caranya sendiri.

BACA JUGA:

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 1).

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 3).

Cara yang dimaksud adalah bahwa Abdullah suatu hari keluar dari kemah tersebut dan pergi untuk mengumpulkan gelas-gelas kecil hingga jumlahnya menyamai jumlah dari nama-nama Allah (‘Azza Wa Jalla), setelah itu ia-pun menyalakan sebuah api yang sangat besar yang kiranya api sebesar itu mampu melahap semua gelas tadi hingga habis.

Setelah api menyala Abdullah-pun menuliskan pada setiap gelas satu dari nama-nama Allah (‘Azza Wa Jalla) hingga semua gelas tersebut masing-masing tertuliskan sebuah nama, setelah itu ia-pun melemparkan satu persatu gelas tadi ke dalam api hingga tidak tersisa kecuali gelas yang tertuliskan nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung disisinya, kemudian ketika ia melemparkan gelas tersebut ke dalam api, secara tiba-tiba gelas tersebut kembali keluar dalam keadaan tidak tersentuh nyala api sedikitpun.

Melihat kejadian ini, tahulah Abdullah bahwa nama yang tertuliskan disisi gelas tersebut adalah benar-benar nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung, maka ia mengambil gelas tadi dan membawanya ke kemah Faimiyyun, dan ketika ia telah sampai di kemah tersebut ia-pun segera memberitahu Faimiyyun bahwa ia telah mengetahui nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung yang selama ini dia sembunyikan darinya.

Faimiyyun berkata padanya: “Jika benar engkau telah mengetahuinya, maka beritahukan padaku perihal nama yang engkau dapat tersebut!”.

Abdullah menjawab: “Nama tersebut adalah begini dan begitu (Ibnu Ishaq begitu juga as-Suhailiy, Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir tidak ada diantara mereka yang menyebutkan nama tersebut di bukunya masing-masing, dan mereka semua hanya menuliskan jawaban Abdullah sebagaimana yang saya tuliskan diatas)”.

Faimiyyun kembali bertanya: “Lalu bagaimana caramu mengetahuinya?”.

Abdullah menjawab dengan memberitahunya perihal apa yang dilakukannya terhadap gelas-gelas yang tertuliskan nama-nama Allah (‘Azza Wa Jalla) disisinya persis sebagaimana yang telah di sebutkan diatas.

Faimiyyun-pun berkata setelah mendengar penjelasan Abdullah: “Baiklah wahai anak saudaraku!, jikalau memang betul itu yang engkau lakukan demi mengetahui nama tersebut, maka sungguh engkau telah mengetahuinya sekarang, dan bagimu sekarang adalah senantiasa menjaga hak-haknya dan selalu tahanlah dirimu agar jangan sampai engkau berbuat semena-mena kepada orang lain dengan memakai nama tersebut!”.

Maka semenjak hari itu setiap kali Abdullah masuk ke negeri Najran dan ditengah jalan ia berjumpa dengan seseorang yang sedang tertimpa musibah, ia akan berhenti disisi orang tersebut dan berkata padanya: “Wahai hamba Allah!, maukah engkau mengesakan dan mentauhidkan Allah sekaligus memeluk agamaku, dan sebagai gantinya aku akan berdo’a kepada Allah agar Ia berkenan membebaskanmu dari musibah yang menimpamu saat ini?”.

Jika orang tersebut menjawab: “Baiklah”, dan setelah itu ia segera memeluk agama Nashrani dan mentauhidkan Allah, maka Abdullah akan berdo’a pada saat itu juga agar Allah membebaskan orang tersebut dari musibah yang menimpanya, dan seketika Allah mengabulkan do’anya dan orang tersebut benar-benar terbebas dari segala musibah yang melilitnya sebelum itu hingga seakan-akan ia tidak pernah tertimpa musibah sedikitpun.

Kejadian ini terus terulang setiap harinya, karena pasti setiap hari ada orang yang ditimpa musibah, dan setiap kali itu pula orang-orang yang memeluk agama Nashrani semakin bertambah dari hari kehari, begitu juga orang yang dido’akan kesembuhan oleh Abdullah dan kemudian sembuh.

Maka tentu saja hal ini-pun akhirnya menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat Najran, hingga suatu hari apa yang dilakukan Abdullah ini akhirnya sampai ke telinga raja.

Sang raja sendiri sangat geram ketika mendengar bahwa sebagian besar rakyatnya telah berpindah keyakinan dari keyakinan mereka semula yakni menyembah patung dan berhala menuju keyakinan yang benar-benar baru yakni hanya menyembah Allah (‘Azza Wa Jalla) satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Maka sang raja-pun memanggil Abdullah ke istana demi mengadakan sedikit perbincangan mengenai keyakinan baru ini…”.

Apa yang akan dilakukan oleh raja akan saya sampaikan di artikel selanjutnya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.   

     

Wednesday, July 7, 2021

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 1).

 

Gambar oleh Sorbyphoto dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Berkata Ibnu Ishaq: “Dan telah menceritakan padaku juga Yazid bin Ziyad dari Muhammad bin Ka’ab al-Quradziy, dan juga telah menceritakan padaku para penduduk Najran sendiri perihal sejarah negeri mereka, mereka berkata: “Dahulu para penduduk Najran adalah orang-orang musyrik, dimana mereka semua adalah para penyembah patung dan berhala, dan pada salah satu desa yang terletak di dekat Najran tinggal seorang penyihir yang berprofesi sebagai guru sihir bagi anak-anak muda masyarakat Najran.

Dan pada saat Faimiyyun sampai di Najran (berkata Ibnu Ishaq: “Penduduk Najran tidak menyebut Faimiyyun dengan nama Faimiyyun sebagaimana yang dilakukan oleh Wahab bin Munabbih, sebagai gantinya mereka mengatakan: “Dan pada saat seorang lelaki sampai di Najran”) dia membangun sebuah kemah di sebuah tempat yang terletak antara Najran dengan desa tempat tinggal si penyihir.

BACA JUGA:

KISAH FAIMIYYUN DAN ASAL-USUL MASUKNYA AGAMA NASHRANI KE NEGERI NAJRAN (BAG, 5).

KISAH ABDULLAH MURID FAIMIYYUN DENGAN ASHHABUL UKHDUD (BAG, 2).

Maka pada suatu hari setelah kemah tersebut selesai dibangun, sebagaimana kebiasaan sehari-hari, para masyarakat Najran mengirim anak-anak mereka menuju desa tempat tinggal si penyihir, dan diantara orang tua yang mengirim anaknya ada seseorang yang bernama ats-Tsamir, ia mengirim anaknya yang bernama Abdullah bersama para pemuda yang lain menuju kediaman si penyihir.

Ternyata pemuda yang bernama Abdullah ini adalah seorang pemuda yang cerdas yang bisa membedakan antara kebenaran dan kebathilan, ia sangat berbeda dari kebanyakan pemuda masyarakat Najran yang lain, hal tersebut terbukti ketika setiap kali ia melewati kemah yang menjadi tempat tinggal Faimiyyun ia dibuat takjub oleh gerakan-gerakan sholat dan ibadahnya yang dipenuhi oleh ketentraman dan kedamaian, dimana hal ini sangat bertentangan dengan praktek-praktek sihir yang selama ini dipelajarinya yang sangat di dominasi oleh kemisteriusan dan huru-hara. Oleh karena itu ia memutuskan untuk tidak lagi ikut bersama pemuda-pemuda yang lain menuju rumah si penyihir, melainkan ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu belajar sihirnya dengan berdiam diri disisi kemah Faimiyyun mendengarkan dan menyimak lantunan-lantunan ayat suci yang dibaca oleh Faimiyyun dalam sholatnya, dan tidak lama kemudian Abdullah memutuskan untuk memeluk agama Nashrani dan mentauhidkan Allah (‘Azza Wa Jalla).

Setelah Abdullah memeluk agama Nashrani, ia-pun meminta kepada Faimiyyun untuk mengajarinya syari’at-syari’at agama Nashrani, maka Faimiyyun-pun mengajarinya hingga ia berhasil menguasai syari’at-syari’at tersebut seluruhnya dan menjadi seorang faqih. Akan tetapi Abdullah tidak berpuas diri dengan hanya menguasai ilmu-ilmu tersebut, maka pada suatu hari ia-pun meminta kembali kepada Faimiyyun untuk mengajarinya ilmu-ilmu Aqidah dan terkhusus nama Allah yang paling agung (al-Ismul A’dzam) yang dimana jika seseorang berdo’a kepada Allah (‘Azza Wa Jalla) memakai nama tersebut, maka pasti Allah (‘Azza Wa Jalla) akan mengabulkan do’anya”. Akan tetapi apa yang menjadi jawaban Faimiyyun?...

Ibnu Ishaq melanjutkan: “…Faimiyyun sebenarnya tahu akan nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung ini, akan tetapi ia melihat bahwa Abdullah ini belum cocok untuk diberi tahu nama tersebut, maka ia mengatakan padanya: “Wahai anak saudaraku (yakni Abdullah, Faimiyyun sendiri tidak mempunyai hubungan darah sama sekali dengan orang tua Abdullah, akan tetapi kata-kata ini memang sering digunakan oleh orang arab untuk memanggil seseorang yang lebih muda dari mereka), sungguh engkau belum mampu untuk memikul nama tersebut diatas pundakmu, aku khawatir engkau nanti bisa melemah karenanya!”.

Perlu di ingat bahwa agama Nashrani yang disebut-sebut dalam artikel ini bukanlah agama Kristen yang pada hari ini di yakini oleh kebanyakan orang di dunia, melainkan ia adalah agama yang masih murni yang belum di sentuh oleh tangan-tangan kotor yang dengan berani merubah ajaran murni dari agama tersebut. Agama Nashrani yang di sebut-sebut dalam artikel ini adalah agama Nashrani yang masih sesuai dengan ajaran Nabi Isa yang berlandaskan Tauhid mengesakan Allah (‘Azza Wa Jalla) dan meyakini bahwa Nabi Isa hanyalah seorang hamba sekaligus nabi. Oleh karena itu jika kita membaca buku para ulama yang membahas kisah ini langsung yang berbahasa arab, maka kita akan mendapati bahwa mereka menyebut Abdullah dan Faimiyyun sebagai seorang muslim, karena pada hakikatnya agama Nashrani murni yang masih sesuai dengan ajaran Nabi Isa itu sama dengan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad, keduanya berlandaskan diatas mengesakan Allah (‘Azza Wa Jalla) dan meyakini bahwa Dialah satu-satunya Tuhan yang berhak di sembah dan tidak ada sekutu bagiNya.

Berkata as-Suhailiy di dalam bukunya ketika membahas perihal nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung diatas: “Disebutkan pada kisah ini al-Ismul A’dzam (nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung), dan maksud dari perkataan sang pendeta (yakni Faimiyyun) kepada si pemuda ketika ia mengatakan: “Sungguh engkau belum mampu memikul nama tersebut diatas pundakmu!” adalah: bahwa si pemuda belum bisa menunaikan dan mengerjakan syarat-syarat yang diwajibkan bagi para pemikul nama tersebut untuk mereka lakukan, dan juga belum mampu untuk menunaikan hak-hak nama tersebut.

Telah disebutkan pula bahwa maksud dari firman Allah (‘Azza Wa Jalla) yang berbunyi: {“Dan berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab…”}(an-Naml: 40), bahwa yang dimaksudkan dari ilmu tersebut adalah al-Ismul A’dzam yakni nama Allah (‘Azza Wa Jalla) yang paling agung yang jika seseorang berdo’a kepadaNya memakai nama tersebut maka pasti Ia akan mengabulkan do’a orang tersebut, dikatakan bahwa seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab tersebut bernama: Ashif bin Barkhiya dan ini yang menjadi pendapat kebanyakan para ulama…”.

Berkata syaikh Abdurrahman al-Wakil: “Dan berkata ulama yang lain bahwa orang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab tersebut adalah Nabi Sulaiman sendiri”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.    

Insya Allah kelanjutan kisah mengenai Faimiyyun dan Abdullah bin ats-Tsamir akan saya sampaikan di artikel selanjutnya.

Was-Salam.