This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Hassan bin Tubba'. Show all posts
Showing posts with label Hassan bin Tubba'. Show all posts

Saturday, June 26, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 6).

 

Pemandangan Bukit dan Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Setelah Hassan menyelesaikan urusannya dengan orang-orang suku Judais, ia-pun kembali melanjutkan penyelidikannya terhadap siapa saja yang terlibat diantara orang-orang Himyar dalam pembunuhan ayahnya.

Berkata Ibnu Qutaibah ad-Dainuriy setelah memaparkan cerita perihal kedua suku Thasim dan Judais dan kisah mereka bersama Hassan, beliau berkata: “Dan Hassan kembali melanjutkan investigasi terhadap siapa saja dari orang-orang Himyar yang terlibat dalam pembunuhan ayahnya Tubba’, maka setiap ia menemukan seseorang atau mengetahui bahwa orang tersebut terlibat ia langsung memburunya dan membunuhnya saat itu juga. Satu persatu para pembunuh tersebut ditemukan sekaligus dibunuh, hingga akhirnya Hassan mempunyai sebuah ide dimana ia akan menghukum orang-orang Himyar dengan senantiasa membawa dan memerintahkan mereka untuk berperang, ia juga senantiasa berperilaku kasar kepada mereka selama perjalanan…”.

Berkata Ibnu Ishaq mengenai perjalanan Hassan ini: “Ketika Hassan bin Tubban As’ad Abu Karib naik tahta menggantikan ayahnya, ia ingin membawa rakyat Yaman (yakni orang-orang Himyar) untuk mengunjungi negeri dan bangsa-bangsa asing (sekaligus menaklukkan mereka (sebagaimana yang dilakukan oleh ayah dan moyangnya dahulu)). Hingga akhirnya ketika ia tiba di suatu daerah yang terletak di tanah Iraq (berkata imam as-Suhailiy di dalam kitabnya: “berkata Ibnu Hisyam: ‘Daerah tersebut adalah daerah Bahrain sebagaimana yang dikatakan kepadaku oleh para sejarawan”), orang-orang Himyar tiba-tiba menjadi tidak senang akan perjalanan ini dan mereka berkeinginan untuk segera kembali ke Yaman…”.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 5).

SEJARAH YAMAN: HUKUMAN BAGI AMR YANG TELAH MEMBUNUH SAUDARANYA HASSAN.

Akan tetapi mereka tidak berani mengutarakan keinginan mereka tersebut kepada Hassan, disebabkan oleh apa yang telah dikatakan Ibnu Qutaibah diatas bahwa pada hakikatnya perjalanan tersebut adalah sebagian dari bentuk hukuman yang diberikan oleh Hassan kepada orang-orang Himyar, oleh karena itu mereka-pun mengajak bicara saudara Hassan yakni ‘Amr agar ia berkenan membawa mereka kembali ke Yaman…

Yang menjadi pertanyaan disini adalah: apa yang menyebabkan mereka membujuk ‘Amr yang sejatinya dia bukanlah raja?, bukankah seharusnya mereka membujuk Hassan yang berperan sebagai raja dan bukannya membujuk ‘Amr yang tidak memiliki kendali terhadap para pasukan?.

Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?...

Pertanyaan-pertanyaan diatas di jawab oleh Ibnu Ishaq, beliau berkata: “…Maka mereka mengajak bicara saudara kandung Hassan yakni ‘Amr bin Tubba’ yang pada waktu itu ia juga ikut dalam pasukan Hassan ini, mereka orang-orang Himyar berkata kepadanya: “Wahai ‘Amr bunuhlah saudaramu Hassan, karena jika engkau berhasil membunuhnya kami akan mengangkatmu sebagai raja yang baru, dan engkau bisa kembali bersama kami ke Yaman setelah itu dan tidak perlu bercapek-capek ria di tanah orang…”.

‘Amr sendiri setuju dan menyanggupi permintaan orang-orang Himyar tersebut, karena ia sendiri juga mungkin sudah lelah akan seluruh murka dan perilaku Hassan selama ini, belum lagi ia juga diperintahkan untuk ikut dalam rombongan tersebut, maka tentu saja ia setuju akan usul gila orang-orang Himyar tadi.

Ibnu Ishaq melanjutkan: “…Ketika ‘Amr setuju untuk menjalankan rencana tadi, maka orang-orang Himyar yang tersisa juga segera mengamini rencana dan makar tersebut. Akan tetapi ternyata tidak selamanya orang-orang Himyar bisa satu kata dalam menjalankan misi-misi hina seperti ini, karena salah seorang dari mereka yang bernama: Dza Ru’ain al-Himyariy lebih memilih untuk tidak ikut ambil bagian dalam rencana tersebut, bahkan ia juga mewanti-wanti ‘Amr dan memperingatinya akan akibat-akibat menakutkan yang nanti bakal menimpanya jika ia tetap saja bersikeras untuk menjalankan rencana tersebut, tidak cukup hanya dengan memperingatinya dengan omongan biasa ia juga bahkan melantunkan 2 bait sya’ir agar sekiranya ‘Amr berkenan mendengar peringatan yang ia berikan, ia berkata:

“Aduhai celakalah orang yang membeli insomnia dengan nikmat tidur…

Sungguh orang yang bahagia adalah orang yang bisa tidur dengan cukup…

Maka jika Himyar tetap bersikeras untuk berkhianat…

Semoga Tuhan berkenan untuk memberi ampunan bagi Dzu Ru’ain…”.

Bahkan ia juga menuliskan 2 bait tadi pada selembar kertas dan memberikan tanda tangannya di atas kertas tersebut (ia berkeinginan agar kertas ini nantinya bisa menjadi bukti atas ketidak terlibatannya dalam pembunuhan Hassan), untuk kemudian membawanya ke hadapan ‘Amr, ketika tiba di kemahnya Dzu Ru’ain berkata padanya: “Simpanlah kertas ini di sisimu (jika engkau tetap ingin menjalankan rencanamu)”, ‘Amr mengabulkan permintaannya dan segera menyimpan kertas tersebut baik-baik.

Kemudian ia (‘Amr) keluar dan menemui teman-temannya yang lain untuk kemudian ia berhasil membunuh saudaranya Hassan, dan orang-orang Himyar menepati janji mereka dengan mengangkatnya sebagai raja baru.

Dan setelah ia dilantik, ia segera memerintahkan pasukannya agar bersiap-siap untuk pulang kembali ke kampung halaman, setelah itu mereka-pun kembali ke Yaman.

Cerita perihal ‘Amr akan berlanjut di artikel selanjutnya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.  

Was-Salam.

 

 

 

Friday, June 25, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 5).

 

Pemandangan Bukit dan Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Ibnul Atsir berkata: “Kemudian orang-orang suku Thasim yang tersisa dan selamat dari pembantaian segera kabur menuju Yaman demi bertemu dengan Hassan bin Tubba’ dan meminta pertolongan darinya untuk menghadapi amukan suku Judais…”.

Adapun Ibnu Jarir maka beliau mengatakan: “Maka seseorang yang selamat dari suku Thasim segera kabur demi melihat pembantaian tersebut, orang tersebut bernama: Riyah bin Murrah, ia kabur menuju Yaman demi bertemu dengan Hassan bin Tubba’ dan meminta pertolongan darinya…”.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 4).

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 6).

Ibnul Atsir melanjutkan: “…Hassan mengabulkan permohonan orang-orang Thasim tersebut dan segera menyiapkan pasukan kemudian berangkat menuju Jaww (Yamamah). Ketika jarak hanya tersisa 3 hari perjalanan, seseorang dari rombongan Thasim berkata kepada Hassan: “Wahai raja, sungguh aku memiliki seorang saudari perempuan yang sekarang tinggal bersama orang-orang Judais karena ia menikah dengan seseorang dari mereka, namanya adalah: al-Yamamah. Saudariku tersebut mempunyai kemampuan untuk melihat rombongan yang sedang menuju ke daerah kami secara detail, yang dimana syaratnya adalah jarak antara mereka dan kami hanya tersisa selama 3 hari perjalanan. Dan aku sungguh khawatir jika rombongan kita ini ketahuan dan membuat orang-orang Judais mampu mempersiapkan pasukan yang kuat untuk melawan kita, oleh karena itu perintahkanlah pasukanmu agar setiap dari mereka menebang satu pohon dan menaruhnya di depannya hingga kita sampai di Jaww (hal tersebut agar kita mampu membuat suatu pengalihan dan mengecoh penglihatan Yamamah)…”.

Adapun Ibnu Jarir, maka beliau berkata: “…Mendengar permintaan tolong tersebut, Hassan segera menyiapkan pasukan dan langsung berangkat dari (daerahnya orang-orang) Himyar, dan ketika jarak antara rombongan Hassan dan daerah Jaww hanya tersisa selama 3 hari perjalanan, berkata Riyah bin Murrah kepada Hassan: “Wahai raja, engkau sungguh telah menyepelekan kutukan!. Aku mempunyai seorang saudari yang hari ini tinggal di tengah-tengah orang Judais karena ia menikah dengan seseorang dari mereka, namanya adalah: al-Yamamah. Tidak ada seorangpun diatas muka bumi ini yang bisa mengalahkan kemampuan melihatnya, karena sungguh ia mampu melihat rombongan yang sedang menuju ke daerah kami dengan syarat jarak yang memisahkan antara kami dengan mereka hanya selama 3 hari perjalanan!. Dan aku sungguh khawatir akan kemampuannya tersebut yang mampu melihat rombongan kita untuk kemudian melaporkannya ke orang-orang Judais, oleh karena itu perintahkanlah pasukanmu agar setiap dari mereka menebang satu pohon dan membawanya di depannya hingga kita sampai di Jaww (Yamamah)”…”.

Ibnul Atsir melanjutkan: “…Hassan-pun mematuhi saran yang di berikan oleh seorang dari Thasim tersebut, dan tidak lama kemudian benar saja si Yamamah akhirnya melihat rombongan mereka, dan ia berkata kepada orang-orang Judais: “Orang-orang Himyar akhirnya hampir tiba di tengah-tengah kalian”, mereka bertanya: “Apa lagi yang engkau lihat?”, ia menjawab: “Aku melihat seseorang yang berada di dalam pohon, lengan orang tersebut yang menjadi ranting pohon, sementara sendalnya-lah yang menjadi akar dari pohon tersebut”. Pada asalnya memang hal itulah yang terjadi, akan tetapi karena orang-orang Judais menganggap aneh peringatan tersebut, mereka-pun tidak menghiraukannya.

Sampai akhirnya tibalah Hassan bersama pasukannya di Jaww pada pagi hari, dan langsung membantai habis seluruh orang-orang Judais yang masih terlelap dalam tidur mereka. Ketika Hassan telah merampungkan urusannya, dibawalah ke hadapannya wanita bernama Yamamah tadi, karena ia penasaran akan apa yang sebenarnya ada di dalam mata Yamamah ia-pun mencongkel keluar mata Yamamah tersebut, seketika ia mendapati di rongga matanya ada air yang berwarna hitam.

Ia bertanya kepada wanita tersebut perihal air berwarna hitam yang ia lihat di dalam rongga matanya, ia berkata: “Air apa ini?”, Yamamah menjawab: “Itu adalah air mata yang tercemari oleh warna dari sebuah batu hitam yang bernama: al-Itsmid yang sering aku pakai untuk bercelak”.

Ibnul Atsir melanjutkan: “Banyak sejarawan yang berpendapat bahwa wanita tersebutlah yang pertama kali memakai celak diatas muka bumi, dan dari nama wanita tersebutlah, juga di karenakan keunikannya maka nama daerah tersebut yang asalnya adalah Jaww diganti dengan Yamamah (hingga hari ini)”.

Ibnu Jarir membawakan cerita yang sama persis dengan cerita diatas dan yang membedakan antara cerita mereka berdua hanyalah: 1). Ibnu Jarir menyebutkan bahwa Hassan juga menghancurkan istana-istana yang sempat dibangun oleh suku Judais, juga rumah dan perkampungan mereka sekaligus banteng mereka. 2). Batu yang dipakai oleh Yamamah untuk bercelak adalah batu-batu kecil berwarna hitam. 3). Hassan-lah yang mengganti nama Jaww menjadi Yamamah.

Kemudian Ibnu Jarir membawakan sya’ir-sya’ir yang dilantunkan oleh orang-orang arab terdahulu mengenai penyerangan Hassan terhadap suku Judais.

Adapun Ibnul Atsir maka beliau mengatakan: “Ketika orang-orang Judais sedang dibantai, al-Aswad sang kepala suku sekaligus orang yang bertanggung jawab atas kematian ‘Imliq kabur menuju pegunungan Thayyi’, dan ia memutuskan untuk tinggal di sana. Hal ini terjadi sebelum suku Thayyi’ menetap di gunung tersebut.

Dahulu orang-orang Thayyi’ sendiri menetap di daerah al-Jurf yang terletak di Yaman, dan pada hari ini (zamannya Ibnul Atsir) daerah tersebut ditinggali oleh suku Murad dan Hamadan.

Penyebab dari berpindahnya suku Thayyi’ ke pegunungan yang ditempati oleh al-Aswad adalah karena di setiap musim gugur mereka didatangi oleh seekor Unta berbadan besar yang gemuk, mereka sendiri tidak tahu darimana gerangan Unta tersebut datang dan siapa pemiliknya.

Hingga akhirnya karena penasaran, suatu hari mereka memutuskan untuk mengikuti Unta tersebut kemana-pun ia berjalan, sampai akhirnya Unta tersebut berhenti di tempat bersemayamnya 2 gunung Thayyi’ yang bernama: Aja’ dan Sulma.

Mereka melihat di dua gunung tersebut terdapat pohon-pohon kurma juga hewan-hewan ternak yang sangat banyak, mereka juga melihat al-Aswad bin ‘Affar sang pemilik dari pohon kurma dan ternak tersebut.

Bukannya meminta izin dari al-Aswad untuk tinggal bersamanya di 2 gunung tersebut, mereka malah lebih memilih untuk membunuh al-Aswad dan mengambil kebun sekaligus hewan ternaknya. Dan mereka memutuskan untuk menetap di gunung Thayyi’ menggantikan al-Aswad, hingga hari ini (maksudnya hari ketika Ibnul Atsir masih hidup).

Cerita mengenai Hassan akan berlanjut di artikel selanjutnya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.

 

Thursday, June 24, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 4).

 

Pemandangan Bukit dan Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Kita kembali sebentar ke saat-saat ketika saudara lelaki ‘Ufairah menyerukan seruan perlawanan…

Berkata Ibnul Atsir: “Maka ketika saudara lelaki ‘Ufairah mendengar perkataannya, dan ia sendiri adalah seorang pemimpin yang dihormati, ia mengatakan di depan kaumnya: “Wahai sekalian orang-orang Judais!. Sungguh mereka semua itu (suku Thasim) tidak lebih mulia dari kalian di atas tanah ini, yang menjadikan mereka lebih mulia dari kita hanyalah kenyataan bahwa saudara merekalah yang menjadi raja bagi kita dan mereka. Jikalau saja kita tidak lemah, maka ia sungguh tidak akan bisa menjadi raja, dan jika kita melawan maka tahta tersebut akan menjadi milik kita!.

Maka taatilah diriku atas apa yang akan aku perintahkan, karena sungguh perintahku ini akan memberikan kepada kalian kemuliaan untuk selama-lamanya!”.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 3).

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 5).

Ibnul Atsir melanjutkan: “Sebenarnya orang-orang Judais-pun telah naik pitam ketika mendengar bait-bait sya’ir yang dilantunkan oleh ‘Ufairah, juga ketika akhirnya mereka menyadari akan apa yang dialami oleh saudari mereka itu di rumah raja.

Dan akhirnya ketika mereka mendengar seruan al-Aswad pemimpin yang mereka cintai, mereka berkata: “Kami akan mentaatimu dan mengikuti arahan-arahanmu!, akan tetapi apakah kamu tidak melihat?, orang-orang Thasim itu lebih banyak jumlahnya dari kita!”.

Al-Aswad menjawab: “Tenang, aku mempunyai sebuah siasat. Aku akan menyiapkan sebuah hidangan yang akan cukup untuk orang banyak, setelah itu aku akan mengundang raja beserta seluruh keluarganya (suku Thasim), maka ketika mereka datang dan bersiap untuk menyantap hidangan tersebut, dan setelah mereka menanggalkan seluruh atribut-atribut kerajaan, di saat itulah kita akan mengambil pedang dan membantai mereka semua!”.

Orang-orang Judais berkata: “Baiklah, mari kita mulai bekerja!”.

Mendengar persetujuan kaumnya al-Aswad segera menyiapkan hidangan besar-besaran, setelah semua hidangan tersebut matang dan telah siap, ia memerintahkan agar hidangan tersebut ditaruh di tengah alun-alun kota.

Kemudian ia bersama seluruh anggota sukunya mengambil pedang mereka masing-masing dan menguburnya di samping meja-meja tempat hidangan tersaji. Setelah semua siap, ia-pun mengundang sang raja beserta seluruh jajaran pemerintahan dan juga seluruh keluarganya.

Mendengar undangan tersebut, tentu saja sang raja senang mendengarnya dan ia bersedia untuk memenuhi undangan tersebut. Maka datanglah ia beserta seluruh kemegahannya dan juga sebagian besar kaumnya, ketika mereka semua telah menanggalkan atribut-atribut dan telah duduk di kursi-kursi yang disediakan bersiap untuk menyantap hidangan. Di saat itulah orang-orang Judais mengambil pedang mereka dan langsung menebas semua leher yang ada di depannya, dengan didahului tebasan ke leher sang raja, maka setelahnya adalah giliran para bawahan”.

Adapun Ibnu Jarir maka beliau berkata: “Maka seorang dari suku Judais angkat suara (mengenai pelecehan-pelecahan yang dilakukan sang raja kepada mereka), orang tersebut bernama al-Aswad bin ‘Affar. Ia berkata kepada para pembesar kaumnya: “Kalian telah melihat semua pelecehan yang kita terima selama ini, yang bahkan seekor anjing-pun jika ia diperlakukan seperti itu maka ia akan menyerang balik dan menggigit orang yang mengganggunya. Maka taatilah aku, karena aku mampu untuk memberikan kepada kalian kemuliaan yang akan bertahan selama-lamanya, sekaligus menghapus segala kehinaan yang selama ini kita berada di dalamnya!”.

Mereka berkata: “Apa maksudmu?, dan apa yang perlu kita lakukan?”.

Al-Aswad menjawab: “Pertama-tama aku akan menyiapkan sebuah hidangan yang kuperuntukkan bagi raja dan segenap kaumnya. Maka jika mereka datang kita akan segera menyerbu dan membantai mereka sekaligus, dan aku sendiri yang akan membunuh raja”.

Mereka-pun sepakat untuk menjalankan siasat tersebut, al-Aswad sendiri segera menyiapkan hidangan besar-besaran, dan tidak lupa ia memerintahkan kaumnya untuk membawa pedang mereka dan menguburnya di samping meja yang nanti akan dipakai untuk menghidangkan makanan bagi raja dan kaumnya.

Ia berkata kepada mereka: “Jika mereka datang, maka tunggulah saat ketika mereka telah menanggalkan seluruh atribut kerajaan, di saat itulah kalian harus mengambil seluruh pedang yang mereka bawa dan segera kepung mereka sebelum mereka duduk di kursi masing-masing, dan bunuhlah terlebih dahulu para pembesar dan tetua-tetua suku, karena jika kalian telah membunuh mereka maka para bawahan tidak akan bisa melakukan apa-apa!”.

Tidak lama kemudian datanglah rombongan raja (beserta seluruh kesombongan dan kemegahan mereka), dan ketika mereka semua telah menanggalkan seluruh atribut yang mereka pakai dan hendak duduk di kursi masing-masing, orang-orang Judais segera mengambil pedang-pedang mereka dan langsung membantai raja beserta tetua-tetua Thasim, setelah itu mereka mengepung seluruh anggota suku Thasim yang tersisa dan segera membantai mereka semua hingga habis”.

Setelah kejadian tersebut, tibalah giliran Hassan bin Tubba’ untuk menjalankan perannya dalam cerita ini.

Insya Allah cerita mengenai Hassan akan berlanjut di artikel selanjutnya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.

 

Wednesday, June 23, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 3).

 

Pemandangan Bukit dan Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Sebelum masuk ke cerita perihal persekongkolan maut suku Judais demi membungkam kelaliman si raja untuk selamanya, ada baiknya bagi kita untuk mendengarkan barang sebentar sebuah cerita yang melatar belakangi sekaligus menyulut keberanian suku Judais untuk mengambil kembali kendali atas kehidupan dan kehormatan mereka.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 2).

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 4).

Berkata Ibnul Atsir: “Dan si raja tetap menjalankan dan mengesahkan undang-undang barunya (perihal undang-undang tersebut telah saya sebutkan di artikel sebelum ini) hingga terjadilah sebuah pernikahan bagi seorang wanita yang di panggil dengan sebutan asy-Syamus, adapun nama si wanita adalah: ‘Ufairah bintu ‘Affar.

Ketika proses pernikahan telah rampung dan ia hendak diantar menuju suami barunya, seketika para pendamping teringat akan peraturan sang raja, maka bersegeralah mereka membawa si wanita menuju rumah sang raja.

Ketika sampai di kediaman sang raja, ia di kawal oleh 2 pemuda menuju kamar pribadi raja. Ketika ia masuk ke kamar, si raja bejat ini segera melakukan hal-hal yang tidak pantas, hingga akhirnya ketika nafsu hewan si raja telah terpuaskan ia-pun melepaskan ‘Ufairah dari genggamannya dan membiarkannya pergi dan kembali ke tempat suaminya dengan berjalan kaki.

Dan ketika si wanita telah sampai di tengah-tengah kaumnya, mereka semua melihat pemandangan yang sangat berbeda dari sebelumnya, mereka melihat di sekeliling ‘Ufairah ada darah yang menetes, dan ketika ia berhenti darah-pun dengan cepatnya menggenang di sekelilingnya, dengan pakaian yang sudah tidak karuan dan penampilan yang sangat buruk, ‘Ufairah melantunkan bait-bait sya’ir berikut:

“Tidak ada seorang-pun yang lebih hina dari anggota suku Judais…

Pantaskah seorang pengantin di perlakukan seperti ini?...

Wahai kaumku sungguh suamiku yang merdeka rela atas hal ini…

Dia menghadiahkan diriku kepada orang lain padahal ia telah mengikat perjanjian pernikahan…”.

Ibnul Atsir melanjutkan: “Ia juga menambahkan sebuah sya’ir untuk membakar semangat perlawanan dalam diri kaumnya, ia mengatakan:

“Apakah suatu pemandangan yang indah perlakuan-perlakuan buruk yang dilakukan terhadap gadis-gadis kalian?...

Padahal kalian adalah para lelaki yang memiliki jumlah laksana jumlah semut…

Dan yang didapatkan oleh ‘Afirah dari pernikahannya adalah darah yang menetes di setiap langkahnya…

Menetes secara terang-terangan di waktu para mempelai wanita diantar secara terhormat menuju suaminya…

Jikalau saja kami ini adalah para lelaki dan kalian…

Adalah para wanita maka sungguh kami tidak akan rela perlakuan-perlakuan tersebut terjadi…

Maka matilah kalian secara terhormat atau bunuhlah musuh-musuh kalian…

Dan kobarkanlah api peperangan menggunakan kayu kering terbaik…

Jikalau tidak maka kosongkanlah perut para istri dari benih-benih kalian dan pergilah…

Menuju tanah kosong dan matilah di sana secara terhina…

Karena sungguh jauh itu lebih baik daripada dekat tapi dikungkung oleh kehinaan…

Dan kematian itu lebih baik dari hidup tetapi dipenuhi oleh kerendahan…

Jika kalian tetap saja berdiam diri setelah ini…

Maka berubahlah kalian menjadi wanita…

Dan pakailah wewangian-wewangian wanita karena sungguh…

Kalian ini diciptakan hanya untuk memakai pakaian pengantin…

Sungguh celaan dan kehinaan bagi orang-orang yang tidak ingin membela kehormatan…

Dan hendaknya ia jangan berjalan di tengah-tengah kami laksana jalannya singa!...”.

Dan rupanya penyebab dari keberanian ‘Ufairah tersebut untuk melantunkan bait-bait sya’ir yang menghina kejantanan para lelaki Judais adalah di karenakan ia berasal dari keluarga terhormat, dimana saudara laki-lakinya adalah kepala suku kaumnya dan ia sangat di hormati di kalangan suku Judais.

Nama saudara ‘Ufairah adalah al-Aswad bin ‘Affar.

Berkata Ibnul Atsir: “Maka ketika saudara lelaki ‘Ufairah mendengar perkataannya, dan ia sendiri adalah seorang pemimpin yang dihormati, ia mengatakan di depan kaumnya: “Wahai sekalian orang-orang Judais!. Sungguh mereka semua itu (suku Thasim) tidak lebih mulia dari kalian di atas tanah ini, yang menjadikan mereka lebih mulia dari kita hanyalah kenyataan bahwa saudara merekalah yang menjadi raja bagi kita dan mereka. Jikalau saja kita tidak lemah, maka ia sungguh tidak akan bisa menjadi raja, dan jika kita melawan maka tahta tersebut akan menjadi milik kita!.

Maka taatilah diriku atas apa yang akan aku perintahkan, karena sungguh perintahku ini akan memberikan kepada kalian kemuliaan untuk selama-lamanya!”.

Apa gerangan perintah tersebut?, dan apa strategi yang akan dijalankan oleh al-Aswad saudara ‘Ufairah?.

Cerita akan berlanjut di artikel selanjutnya Insya Allah. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.

 

 

Tuesday, June 22, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 2).

 

Pemandangan Bukit dan Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada asalnya cerita mengenai Hassan bin Tubba’ bersama keturunan Judais sangatlah masyhur di kalangan sejarawan, oleh karena itu banyak dari mereka yang menyebutkan kisah tersebut secara ringkas di bukunya masing-masing. Diantaranya adalah: Imam as-Suhailiy di bukunya ar-Raudhul Unuf, Ibnu Qutaibah ad-Dainuriy di bukunya al-Ma’arif, begitu juga dengan al-Muthahhir al-Maqdisiy di bukunya al-Badu wat-Tarikh.

Oleh karena itu saya akan mengambil cerita tersebut dari 2 buku saja yakni, buku al-Kamil fit-Tarikh karya Ibnul Atsir dan buku Tarikh Umam wal-Muluk karya Imam ath-Thabariy.

Hal ini tentunya di sebabkan karena beliau berdua menyebutkan kisah Hassan bersama anak keturunan dari 2 orang Thasim dan Judais secara terperinci. Akan tetapi siapakah gerangan Thasim ini?, bukankah kalau tidak salah saya kemarin hanya menyebutkan nama Judais?.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 1).

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 3).

Berkata Ibnul Atsir: “Thasim adalah anak Laudz bin Iram bin Sam bin Nuh, adapun Judais adalah anak ‘Amir bin Azhar bin Sam bin Nuh, jadi mereka ini adalah sepupu jauh (dan saling memiliki hubungan darah). Keturunan dari mereka berdua hidup bersama di satu daerah yang pada hari ini bernama Yamamah, akan tetapi pada waktu itu daerah tersebut bernama Jaww”.

Beliau melanjutkan: “Daerah tersebut adalah daerah yang subur, bahkan daerah tersubur di tanah arab pada waktu itu”.

Adapun Ibnu Jarir mensifati daerah Jaww tersebut dengan mengatakan: “Dan daerah (Jaww) tersebut pada waktu itu adalah daerah tersubur di tanah arab, mereka (anak keturunan Thasim dan Judais) memiliki berbagai macam buah-buahan di daerah tersebut, juga kebun-kebun yang memanjakan mata, dan istana-istana yang tinggi menjulang ke langit”.

Tampaknya kedua suku diatas berbagi kekuasaan selama mereka tinggal di daerah tersebut, dan masa kekuasaan mereka atas daerah Jaww bertepatan dengan masa keemasan Muluk ath-Thawaif (raja-raja kecil yang hanya menguasai daerah sebesar provinsi dan semisalnya), dan kisah Hassan bersama kedua suku tersebut juga terjadi di era ini. Berkata Ibnul Atsir: “Dan raja mereka yang berkuasa pada era Muluk ath-Thawaif bernama ‘Imliq, orang ini adalah orang yang sangat dzalim, dan ia memiliki catatan karir yang sangat buruk dan memalukan”.

Berkata Ibnu Jarir mengenai sosok ‘Imliq ini: “Dan kedua suku tersebut memiliki seorang raja yang memimpin mereka, raja tersebut berasal dari keturunan Thasim, ia adalah orang yang sangat dzalim, dia sama sekali tidak bisa menahan hawa nafsunya. Orang ini bernama: ‘Amluq (beda penyebutan dengan versi Ibnul Atsir), ia gemar membahayakan dan mendzalimi sepupu-sepupu jauhnya dari suku Judais, dan juga gemar merendahkan kehormatan dan martabat mereka”.

Ibnu Jarir melanjutkan: “Dan diantara contoh pelecehan-pelecahan terhadap kehormatan suku Judais adalah bahwa suatu hari sang raja memerintahkan pasukannya agar menangkap seorang wanita perawan yang baru saja menikah, wanita tersebut bersama suaminya berasal dari suku Judais. Alasan dari perintah tersebut adalah agar sang raja bisa berdua-duaan dengan si wanita terlebih dahulu sekaligus melakukan pelecehan terhadapnya, sebelum si wanita menemui suami barunya”.

Adapun Ibnul Atsir memberikan contoh lain, beliau berkata: “Ada sebuah kisah mengenai seorang wanita dari suku Judais, wanita ini bernama Huzailah. Suatu hari si wanita di ceraikan oleh suaminya secara sepihak, dan si suami berkeinginan pula untuk mengambil anak mereka berdua, agar ia saja yang merawatnya, akan tetapi Huzailah menolak keinginan si suami dan akhirnya terjadilah percekcokan diantara mereka berdua mengenai anak tersebut.

Setelah berlalu beberapa waktu mereka berdua-pun sepakat untuk menemui raja (‘Imliq) agar ia bisa memberikan keputusan yang adil terhadap permasalahan ini. Ketika sampai di istana, si wanita segera angkat bicara, ia berkata: “Wahai raja, aku telah mengandung anak tersebut selama 9 bulan lamanya, kemudian aku melahirkannya secara susah payah, dan kemudian menyusuinya selama 2 bulan. Sampai akhirnya ketika anak tersebut telah menjadi lelaki yang sempurna, dan  hampir mencapai kematangan, ia (si suami) datang dan ingin merebutnya dariku, dan hendak meninggalkanku hidup sebatang kara tanpa ada yang membantuku!”.

Adapun si suami, maka ia berkata: “Wahai raja, sungguh aku telah memberikan maharnya secara sempurna utuh tanpa ada yang kurang, saya sendiri tidak pernah mengambil dan mengurangi maharnya sedikitpun, dan setelah itu semua, saya hanya ingin mengambil seorang anak yang belum bisa berbuat apa-apa, maka putuskanlah yang terbaik untuk kami berdua!”.

Dan apa yang menjadi keputusan sang raja?...

Ibnul Atsir melanjutkan: “Mendengar permohonan keduanya, maka si raja memerintahkan anak buahnya untuk mengambil si anak dan menjadikannya seorang budak sekaligus pesuruh istana. Dan kedua suami istri tadi ia perintahkan agar keduanya di jual, dan seperlima dari keuntungan yang di dapat dari penjualan si wanita diberikan kepada sang suami. Dan si wanita sendiri mendapatkan sepersepuluh dari keuntungan yang di dapat dari penjualan si suami”.

Melihat keputusan yang sangat adil dan brilian dari sang raja ini, si wanita ini melantunkan sya’ir…

Ibnul Atsir berkata: “Huzailah melantunkan bait sya’ir berikut:

“Kami telah mendatangi saudara kami yang berasal dari suku Thasim untuk mendapatkan keadilan dan kebijaksanaan darinya…

Maka ia menetapkan suatu keputusan yang sangat mendzalimi hak-hak Huzailah…

Demi umurku sungguh engkau bukanlah seorang raja yang bijaksana…

Dan juga engkau bukanlah seorang raja yang berilmu dan berpengalaman…

Aku sungguh-sungguh menyesal dan aku tidak akan menyesal jika saja aku tetap bersama anakku…

Dan sungguh suamiku sangat menyesal karena telah membawa permasalahan ini kepada raja…”.

Beliau Ibnul Atsir melanjutkan: “Mendengar sya’ir tersebut sang raja membuat undang-undang baru, undang-undang tersebut berbunyi: setiap mempelai wanita dari suku Judais dilarang menemui suaminya hingga ia mengunjungi kediaman raja terlebih dahulu, agar sang raja bisa duduk berdua dengannya sebelum ia menemui suami barunya”.

Maka dengan keluarnya dekrit baru tersebut, semakin tercekiklah leher-leher milik anggota suku Judais. Dan akhirnya mereka-pun membuat sebuah rencana…

Cerita akan berlanjut Insya Allah di artikel selanjutnya. Wallah A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.

 

 

 

Monday, June 21, 2021

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 1).

 

Pemandangan Bukit dan Pantai, Gambar diambil dari Pixabay.com.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Alhamdulillah pada artikel yang lalu saya telah menyelesaikan poin kedua dari 6 poin pembahasan yang saya janjikan untuk membahasnya sebelum masuk ke cerita inti mengenai seseorang bernama al-Aswad al-Ansi.

Akan tetapi melihat adanya hubungan yang sangat erat antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dalam sejarah (atau yang biasa kita kenali sebagai fenomena Butterfly Effect), maka janji saya yang akan membahas poin ketiga pada artikel ini yang bertema: Siapakah Faimiyun dan Abdullah ats-Tsamir? dan bagaimana gerangan cerita asal-usul masuknya agama Nashrani ke Yaman? (sebetulnya asal-usul masuknya agama Nashrani ke Najran dan bukan ke Yaman) akan saya batalkan, dan sebagai gantinya saya akan membahas mengenai kisah anak Tubba’ yang bernama Hassan bin Tubban As’ad.

BACA JUGA:

SEJARAH YAMAN: KISAH ABU KARIB TUBBAN DAN ASAL-USUL MASUKNYA AGAMA YAHUDI KE YAMAN (BAG, 8).

SEJARAH YAMAN: KISAH HASSAN BIN TUBBAN AS’AD (BAG, 2).

Kisah mengenai Hassan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar kepada kisah-kisah yang terjadi setelahnya, karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa apa saja yang terjadi di dunia ini pasti memiliki hikmah tersendiri, dan hanya Allah-lah yang mengetahui hikmah tersebut.

Kisah Hassan dan apa yang dia lakukan semasa hidupnya mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kejadian-kejadian yang terjadi setelah kematiannya, diantaranya adalah tercerai-berainya pemerintahan keluarga Tubba’, dan tentu saja terjadinya peristiwa yang sangat besar, yang bahkan peristiwa ini diabadikan oleh Allah (‘Azza Wa Jalla) di dalam al-Qur’an, tepatnya di surat al-Buruj.

Peristiwa tersebut adalah peristiwa di bakarnya Ashhabul Ukhdud oleh salah seorang anak Tubba’, orang ini adalah saudara kandung dari Hassan tokoh kita kali ini, orang ini beragama Yahudi mengikuti agama ayahnya yakni Tubba’.

Sebelum masuk ke pembahasan mengenai Hassan, saya ingin menambahkan sedikit informasi yang luput saya sampaikan di artikel-artikel sebelum ini. Informasi ini mengenai seberapa lamakah masa pemerintahan Tubba’?.

Di sebutkan oleh seorang ulama bernama: Ibnu Qutaibah ad-Dainuriy di dalam kitabnya yang berjudul: al-Ma’arif, begitu juga seorang ulama lain yang bernama: al-Muthahhir bin Thahir al-Maqdisiy di dalam kitabnya yang berjudul: al-Badu wat-Tarikh, bahwa masa pemerintahan Tubba’ adalah selama 320 tahun lamanya.

Berkata Ibnu Ishaq di dalam kitabnya Sirah Nabawiyah Li Ibni Ishaq bahwa ketika Hassan menjadi raja ia ingin mengkuti jejak ayah dan moyangnya yakni berpetualang mengunjungi dan menaklukkan negeri dan bangsa-bangsa asing, akan tetapi ternyata orang-orang Himyar yang ikut bersamanya tidak senang akan hal ini, dan mereka juga sebenarnya tidak senang dengan Hassan. Hal ini tentunya membuat kita bingung, apa sebenarnya yang terjadi?, kenapa orang-orang Himyar menunjukkan gelagat yang sama sekali berbeda dari sebelum-sebelumnya?, dimana mereka adalah orang-orang yang menurut saja mengikuti titah para raja…

Pertanyaan-pertanyaan ini di jawab oleh al-Muthahhir al-Maqdisiy dalam kitabnya al-Badu wat-Tarikh ketika menjelaskan perihal Hassan, beliau berkata: “…Kemudian naik tahta setelah kepemimpinannya (yakni Tubba’) anaknya Hassan, tepatnya setelah orang-orang Himyar memberontak kepada ayahnya (yakni Tubba’) sekaligus membunhnya…”.

Beliau kembali melanjutkan: “Gelar Hassan adalah Dzu Jaisyan dia adalah orang yang membantai keturunan Judais, kisah mengenai pembantaian tersebut telah saya sebutkan sebelumnya, setelahnya dia menginvestigasi dan menyelidiki perihal kasus pembunuhan ayahnya. Maka setelah ia mengetahui dan mengenali para pembunuh ayahnya ia-pun memburu mereka satu persatu untuk kemudian ia membunuh mereka semua…”.

Berkata Ibnu Qutaibah ad-Dainuriy ketika ia membahas perihal balas dendam yang dilancarkan oleh Hassan kepada para pembunuh ayahnya: “…Hassan bin Tubba’-pun melanjutkan penyelidikan mengenai para pembunuh ayahnya, dan setiap ia mendapati satu nama, ia langsung memburu dan membunuh mereka. Satu persatu mereka di tangkap dan di bantai, tidak cukup sampai di situ ia juga menghukum mereka (orang-orang Himyar) dengan terus-menerus membawa mereka menuju peperangan demi peperangan (hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq diatas), ia juga senantiasa bersikap kasar kepada mereka selama perjalanan. Hal ini tentunya membuat orang-orang Himyar naik pitam, akan tetapi karena mereka terlampau takut dan gentar kepada Hassan, merekapun membuat siasat untuk membunuhnya dengan langkah awal mendatangi saudara kandung Hassan yang bernama ‘Amr bin Tubba’ dan mengajaknya untuk memberontak kepada Hassan…”.

Jadi jelaslah bagi kita sebab-sebab mengenai kemarahan orang-orang Himyar kepada Hassan dan kemarahan Hassan kepada mereka.

Akan tetapi sebelum lanjut ke cerita mengenai persekongkolan orang-orang Himyar bersama saudara Hassan yakni ‘Amr untuk membunuh Hassan dan mengambil kekuasaan darinya, ada satu pertanyaan penting mengenai “siapakah gerangan orang yang bernama Judais?, dan apa sebab dan asal-usul yang membuat Hassan membantai mereka?.

Di artikel ini saya telah menjelaskan perihal naik tahtanya Hassan sekaligus kejadian-kejadian yang mengiringinya, juga julukan yang diperolehnya.

Maka di artikel selanjutnya saya akan menjelaskan mengenai orang yang bernama Judais dan kisah keturunannya bersama Hassan. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Was-Salam.