This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label sajah. Show all posts
Showing posts with label sajah. Show all posts

Sunday, November 14, 2021

PERNIKAHAN ANTARA SAJAH DENGAN MUSAILAMAH.

 

Gambar oleh Brigipix dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menjelaskan mengenai pertemuan antara Sajah dengan Musailamah al-Kadzdzab, 2 orang Nabi palsu yang bertekad untuk menggabungkan kekuatan mereka menjadi satu kesatuan dalam menentang kaum muslimin. Akan tetapi kisah antara mereka berdua tidaklah berakhir pada percakapan terakhir mereka yang saya tuliskan pada artikel yang lalu, percakapan antara keduanya terus berlanjut, dimana keduanya saling berdiskusi mengenai wahyu palsu yang mereka berdua klaim bahwa mereka telah mendapatkannya dari Allah (‘Azza Wa Jalla) yang tentunya hal itu hanyalah kebohongan belaka…

Percakapan antara keduanya telah di rekam dengan sangat baik oleh masing-masing dari Ibnu Katsir, Ibnul Atsir, dan Ibnu Jarir (Rahimahumullah) dalam kitab mereka. Kisah antara keduanya tersebut berbunyi sebagaimana berikut…

BACA JUGA:

SAJAH BERUNDING DENGAN MUSAILAMAH.

KHALID DAN PASUKAN TIBA DI NEGERI BANI TAMIM.

(akan tetapi sebelum masuk ke kisahnya, saya ingin menyebutkan salah satu ajaran Musailamah yang teramat sesat yang telah saya janjikan akan saya tuliskan pada artikel kali ini, ajaran ini disebutkan oleh masing-masing dari ketiga ulama di atas dalam kitab mereka, ajaran tersebut adalah: bahwa siapa saja diantara pengikut Musailamah (para kaum laki-lakinya) yang menikah lalu di anugerahi anak lelaki oleh Allah (Subhanahu Wa Ta’ala), maka lelaki tersebut tidak boleh mendatangi (menyentuh maupun mengadakan hubungan suami istri dengan) wanita manapun hingga si anak laki-laki tadi meninggal. Maka pada saat anak lelaki tadi meninggal barulah di perbolehkan bagi si lelaki tadi untuk mendatangi (menyentuh maupun mengadakan hubungan suami istri dengan) wanita. Dan jika setelah dia mendatangi wanita dan ternyata dia kembali di anugerahi anak laki-laki, maka dia diharamkan atau tidak diperbolehkan lagi untuk menyentuh wanita sampai anak laki-lakinya meninggal. Atau dengan bahasa singkatnya adalah: bahwa menurut ajaran Musailamah, seorang lelaki tidak diperbolehkan menyentuh wanita jika dia memiliki anak lelaki. Hal ini sebagaimana yang dituliskan oleh Ibnu Katsir, Ibnul Atsir, dan Ibnu Jarir (Rahimahumullah) dalam kitab mereka masing-masing. Bukankah hal ini adalah sebuah kesesatan yang sangat nyata dan sangat tidak masuk akal?. Ajaran ini bukanlah sebuah wahyu, melainkan hanya sekedar perkataan omong kosong Musailamah yang dia klaim sebagai sebuah ajaran yang wajib untuk diikuti).

Sekarang kita akan masuk ke kisah atau percakapan yang terjadi antara Sajah dengan Musailamah. Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas, bahwa kisah ini dibawakan oleh masing-masing dari Ibnu Katsir, Ibnul Atsir, dan Ibnu Jarir (Rahimahumullah) dalam kitab mereka. Kisahnya sebagaimana berikut…

Dikatakan bahwa Musailamah tidak mendatangi Sajah di perkemahannya yang dia bangun di daerah al-Amwah, melainkan Sajah bersama pasukannyalah yang menghampiri Musailamah di bentengnya. Dimana di saat wanita tersebut datang, Musailamah menutup gerbang bentengnya hingga membuat Sajah berkata kepadanya: “Turunlah engkau (dan temui diriku)!”.

Musailamah pun menjawab: “Perintahkanlah pasukanmu agar menjauh terlebih dahulu darimu”.

Maka Sajah pun memerintahkan pasukannya agar menjauh dari dirinya, dan Musailamah sendiri telah menyiapkan sebuah kubah atau tenda untuk dirinya dan Sajah, dan dia juga telah memerintahkan pasukannya agar mereka menghiasi tenda tersebut. Dan di saat keduanya telah berada di dalam tenda tersebut, Musailamah bertanya kepada Sajah: “Apa yang telah di wahyukan oleh Tuhanmu kepadamu?”.

Sajah menjawab: “Apakah engkau sedang menyuruh seorang wanita untuk memulai percakapan?. Hendaknya engkau terlebih dahululah yang memulai penjelasan mengenai apa yang telah di wahyukan oleh Tuhanmu kepadamu?”.

Musailamah menjawab: “Apakah engkau tidak memperhatikan apa yang Rabbmu Perbuat terhadap seorang wanita hamil?. Dimana Dia Mengeluarkan dari (perut)nya seorang bayi yang sempurna. Dari rahim dan usus”.

Kemudian Sajah bertanya kembali: “Lalu, masih adakah wahyu lainnya?”.

Musailamah menjawab: “Sesungguhnya Allah telah Menciptakan wanita sebagai makhluk yang butuh kepada perlindungan. Dan Dia juga telah Menciptakan para lelaki sebagai pelindung mereka. Dimana kami (para lelaki) memasuki mereka (para wanita). Kemudian keluar dari sisi mereka kapanpun kami mau. Yang dimana setelahnya mereka (para wanita) akan melahirkan bagi kami sebuah hasil (anak bayi)”. (sungguh bodoh orang-orang yang menganggap perkataan semacam ini adalah wahyu!).

Sajah berkata: “Sungguh, aku bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar seorang Nabi!”.

Musailamah pun menimpali perkataannya dengan bertanya: “Apakah engkau bersedia untuk aku nikahi, yang dengan begitu kaumku beserta kaummu akan bersama-sama menguasai bangsa arab?”.

Sajah menjawab: “Iya, aku bersedia”.

Setelah itu, Musailamah pun menyenandungkan bait syair yang isinya mengenai hubungan antara suami istri (dan saya pikir bait tersebut tidak perlu disebutkan di sini).

Kemudian setelah itu Sajah tinggal di sisi Musailamah selama 3 hari penuh, yang dimana pada hari keempatnya dia memutuskan untuk kembali ke perkemahan kaumnya. Dan sesampainya dia di sana, kaumnya bertanya kepadanya: “Apa yang engkau dapatkan?”.

Sajah menjawab: “Aku mendapatinya berada di atas kebenaran (padahal sudah sangat jelas bahwa apa yang dikatakan oleh Musailamah di atas hanyalah omong kosong belaka dan bukan wahyu), maka aku memutuskan untuk mengikuti sekaligus menikahinya”.

Kaumnya bertanya kembali: “Apakah dia telah memberimu bayaran mahar?”.

Sajah menjawab: “Belum, dia belum memberiku bayaran mahar”.

Kaumnya berkata: “Kalau begitu, kembalilah engkau kepadanya dan mintalah darinya bayaran mahar”. Maka Sajah pun kembali pergi ke benteng Musailamah.

Dan sesampainya dia di sana, dia melihat bahwa Musailamah lagi-lagi menutup pintu benteng darinya sekaligus bertanya kepadanya: “Apa yang membawamu untuk kembali kepadaku?”.

Sajah menjawab: “Berilah aku bayaran mahar”.

Musailamah bertanya: “Siapa muadzdzinmu (orang yang memiliki suara keras yang bisa di dengar oleh orang banyak)?”.

Sajah menjawab: “Syibs bin Rib’iy ar-Riyahiy”.

Maka Musailamah pun memanggil orang tersebut, dan ketika dia datang Musailamah berkata kepadanya: “Umumkanlah kepada sahabat-sahabatmu, bahwa Musailamah telah meniadakan 2 sholat yang dahulu telah di perintahkan oleh Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) untuk kalian kerjakan. 2 sholat tersebut adalah: sholat Shubuh dan sholat Isya’”.

Ibnu Katsir (Rahimahullah) menyebutkan dalam kitabnya bahwa Musailamah berkata kepada Syibs: “Sesungguhnya aku telah meniadakan seluruh sholat yang telah Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) wajibkan untuk kalian, dan aku juga memperbolehkan bagi kalian semua untuk menodai kemuliaan wanita-wanita mu’minat (yang beriman), dan aku juga memperbolehkan kalian untuk meminum minuman keras di acara-acara, pesta-pesta, dan jamuan-jamuan makan”. (sungguh hal ini hanyalah omong kosong dan bukan sebuah wahyu, dan jelaslah bagi kita sekarang bahwa yang mengikuti orang ini juga yang mengikuti Sajah hanyalah segerombolan orang bodoh yang tertipu oleh kefanatikan).   

Setelah itu kembalilah Sajah menuju perkemahan kaumnya bersama sahabat-sahabatnya, dimana mereka adalah Utharid bin Hajib, ‘Amr bin al-Ahtam, Ghailan bin Kharasyah, dan Syibs bin Rib’iy.

Utharid bin Hajib menyenandungkan bait syair berikut:

Kemarin sore Nabi kami adalah seorang wanita yang dimana kami berkeliling diantara negeri-negeri bersamanya…

Dan secara tiba-tiba di pagi harinya para Nabi tersebut berubah menjadi lelaki…”.

Setelah itu Musailamah menjanjikan kepada Sajah bahwa dia akan memberikan kepadanya setengah dari penghasilan negeri Yamamah, dimana dia akan mengambil setengah dari penghasilan tahun ini untuk dibawanya pulang menuju negerinya.

Maka Sajah pun setuju untuk kemudian dia mengambil bagiannya dan kemudian segera berangkat pulang menuju kampung halamannya. Adapun bagian setengah yang akan di dapatnya pada tahun depan, maka dia telah menugaskan al-Hudzail, Iqqah, dan Ziyad untuk menetap di negeri Yamamah demi menunggu bagian tersebut.

Adapun yang memaksa Sajah untuk pulang menuju negerinya dan tidak menetap di negeri Yamamah bersama Musailamah adalah kedatangan pasukan Khalid bin Walid (Radhiyallahu ‘Anhu) menuju negeri tersebut untuk membantu saudara-saudara mereka yang telah lama menunggu kedatangan mereka di sana.

Sajah tetap tinggal di tengah-tengah suku Bani Taghlib hingga datanglah masa dimana Mu’awiyah (Radhiyallahu ‘Anhu) naik menjadi khalifah. Dimana dia telah kembali memeluk agama Islam bersama kaumnya, dan pindah ke negeri Bashrah hingga dia wafat. Dan yang menshalatkannya pada saat dia wafat adalah sahabat Samurah bin Jundub (Radhiyallahu ‘Anhu) yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Mu’awiyah bagi daerah Bashrah.

Ada juga yang mengatakan bahwa pada saat Musailamah terbunuh, Sajah pulang menuju kaumnya suku Taghlib dan tinggal di sana bersama paman-pamannya dari pihak ibunya hingga dia wafat, dan selama kurun waktu tersebut tidak ada terdengar sedikit pun kabar terbaru mengenai dirinya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.  

Inilah kisah mengenai Sajah sang wanita Nabi palsu yang menikah dengan Musailamah al-Kadzdzab.

Dan Insya Allah kisah mengenai perjuangan kaum muslimin dalam menumpas orang murtad akan berlanjut pada artikel selanjutnya.

Was-Salam.

 

 

 

 

Saturday, November 13, 2021

SAJAH BERUNDING DENGAN MUSAILAMAH.

 

Gambar oleh Comfreak dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menuliskan kisah mengenai penyerangan Sajah terhadap suku ar-Rabab juga peperangan yang terjadi antara dirinya dengan suku Bani ‘Amr, dan di akhir artikel saya menyebutkan perkataan Sajah yang berisikan tekadnya untuk bergerak menuju negeri Yamamah demi bertemu dengan Musailamah al-Kadzdzab.

Kisah mengenai pertemuannya dengan Musailamah telah dituliskan oleh masing-masing dari Ibnu Katsir, Ibnul Atsir, dan Ibnu Jarir (Rahimahumullah) dalam kitab mereka. Kisahnya sebagaimana berikut…

BACA JUGA:

KEGAGALAN SAJAH DALAM MELANCARKAN AKSINYA.

PERNIKAHAN ANTARA SAJAH DENGAN MUSAILAMAH.

Setelah Sajah memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap, maka berangkatlah mereka menuju negeri Yamamah. Dan tentu saja karena pergerakan ini adalah pergerakan sebuah pasukan yang cukup besar, maka tidak membutuhkan waktu lama hingga kabar mengenai hal ini sampai di telinga Musailamah.

Musailamah sendiri ketika dirinya mendengar bahwa Sajah dan pengikutnya tengah bergerak menuju negerinya, dia pun takut dan khawatir akan penyerangan Sajah terhadap dirinya. Karena jika Sajah menyerangnya, maka sama saja dia berada diambang kehancuran.

Karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kaum muslimin yang berada dibawah komando Ikrimah dan Syarhabil bin Hasanah (Radhiyallahu ‘Anhuma) telah bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Tsumamah bin Utsal dalam mengepung negeri Yamamah. Dan mereka semua ini tengah menunggu kedatangan pasukan Khalid bin Walid (Radhiyallahu ‘Anhu), maka bisa kita bayangkan sendiri bagaimana jadinya jika semua pasukan tadi mendapatkan bantuan tambahan dari Sajah dalam rangka menghancurkan Musailamah dan pengikutnya.

Maka oleh karena itu Musailamah pun mengirimkan surat dan hadiah kepada Sajah, dimana dalam surat tersebut Musailamah membujuk Sajah agar dia berkenan memberinya tenggat waktu, dimana dalam kurun waktu tersebut dia akan menemuinya dan berbicara dengannya secara langsung dalam rangka merundingkan nasib kedua pasukan kedepannya (karena keduanya memiliki musuh bersama, yakni kaum muslimin. Dan keduanya pun sama-sama Nabi palsu). Sajah sendiri seusainya dia membaca surat tersebut, dia mengabulkan permintaan Musailamah.

Setelah itu berangkatlah Musailamah bersama 40 orang dari kaumnya menuju perkemahan Sajah yang terletak di daerah al-Amwah (jarak antara Yamamah dan al-Amwah kurang lebih sekitar 39,4 km).

Sesampainya dia di daerah al-Amwah, dia meminta kepada Sajah agar dia membiarkan dirinya masuk ke kemahnya dan membicarakan urusan mereka berdua secara privasi di dalam kemah tersebut. Sajah menerima permintaannya.

Setelah keduanya berada dalam kemah, Musailamah berkata kepadanya: “Kami memiliki setengah dari tanah ini (mungkin yang dimaksudnya adalah jazirah arab), dan orang-orang Quraisy lah sang pemilik dari setengah yang lainnya jikalau saja mereka tetap berpikiran lurus. Dan sekarang rupanya Allah berkenan untuk memberikan setengah tanah tersebut kepada dirimu karena orang-orang Quraisy telah menolaknya”.

Sajah berkata: “Tidak ada orang yang menolak setengah dari tanah tersebut kecuali memang orang yang menolak tersebut adalah orang yang tersesat…”.

Musailamah menimpali perkataannya: “Allah akan senantiasa mendengarkan orang yang juga senantiasa mendengarkan (mentaati) perintahNya. Dan Allah juga akan senantiasa memberinya kebaikan selama orang tersebut masih haus akan kebaikan. Dan sungguh setiap amalan yang membuatNya ridha akan tetap abadi dan tidak akan rusak selamanya. Rabb kalian telah melihat (perbuatan) kalian, maka Dia pun memberikan kehidupan (keberkahan) kepada kalian. Dan Dia juga akan senantiasa menjaga kalian dari kemurkaanNya. Dan nanti di hari kemudian, Dia pasti akan menyelamatkan kalian. Hendaknya kita senantiasa menyenandungkan doa-doa wahai orang-orang yang terselamatkan, karena kita bukanlah orang-orang jahat lagi keji, kita adalah orang-orang yang senantiasa mendirikan malam-malam kita dan berpuasa di siang harinya, itu semua hanya kita peruntukkan bagi Rabb kita Yang Maha Besar, Rabbnya (Sang Pemilik dari) awan-awan mendung dan hujan”.

Musailamah menambahkan perkataannya dengan mengatakan: “Ketika aku melihat wajah-wajah mereka berubah menjadi lebih baik, badan-badan mereka menjadi tenang, dan tangan-tangan mereka tumbuh menjadi lebih baik. Aku berkata kepada mereka: ‘Kalian ini tidak pernah mendatangi (berzina dengan) wanita, juga tidak pernah meminum khamr (minuman keras). Karena kalian semua adalah orang-orang yang terselamatkan, kalian berpuasa pada satu hari, dan di hari lainnya (setelahnya) kalian berusaha dan bekerja. Maka maha suci Allah!, lihatlah bagaimana kalian menjalani hidup, dan lihatlah pula bagaimana usaha kalian dalam berjalan menuju (keridhaan) raja langit!. Jikalau saja amalan tersebut hanyalah sebesar biji sawi, maka sungguh pasti akan di datangi oleh Dzat Yang Maha Menyaksikan lagi Yang Maha Mengetahui apa yang ada di dalam dada, maka sungguh (dalam rangka menghindari hal tersebut) akan banyak manusia yang menghendaki kebinasaan’”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah pada artikel selanjutnya saya akan melanjutkan dengan pembahasan mengenai kesesatan ajaran Musailamah al-Kadzdzab.

Was-Salam.  

 

 

  

 

Friday, November 12, 2021

KEGAGALAN SAJAH DALAM MELANCARKAN AKSINYA.

 

Gambar oleh ronbd dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menyebutkan kisah mengenai terbentuknya persekutuan antara Waki’, Malik, dan Sajah. Dimana ketiganya berjanji akan senantiasa saling mendukung satu sama lain, juga sepakat untuk memerangi orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka. Kemudian di akhir artikel saya menyebutkan perkataan Sajah yang dimana wanita ini memerintahkan pengikutnya untuk bersiap dalam melancarkan aksi pertama mereka, aksi ini adalah penyerangan terhadap suku ar-Rabab.

Kisah penyerangan tersebut berbunyi sebagaimana berikut…

Ibnul Atsir (Rahimahullah) berkata dalam kitabnya: “Kemudian pasukan Sajah pun segera berangkat menuju kediaman suku ar-Rabab. Dan sesampainya mereka di sana, mereka bertemu dengan 2 pasukan yang masing-masing berasal dari suku Dhabbah dan suku ‘Abdu Manat (2 suku ini adalah suku cabang dari suku ar-Rabab).

BACA JUGA:

KISAH SAJAH BINTI AL-HARITS DENGAN SUKUBANI TAMIM.

SAJAH BERUNDING DENGAN MUSAILAMAH.

Maka ketika kedua pasukan bertemu, keduanya pun langsung saling menyerang dan tidak lama kemudian berjatuhanlah begitu banyak korban dari kedua belah pihak. Dan kedua belah pihak juga berhasil mengambil tawanan dari pihak musuh mereka masing-masing.

Akan tetapi, pada akhirnya mereka semua pun memutuskan untuk mengadakan perdamaian. Dan di saat kedua belah pihak ini berdamailah Qais bin ‘Ashim menyenandungkan sebuah bait syair yang berisikan penyesalannya terhadap perbuatannya yang menunda-nunda dalam menyerahkan harta zakatnya (kaumnya) kepada Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu).

Kemudian setelah Sajah menyelesaikan urusannya dengan suku ar-Rabab, dia pun kembali bergerak bersama pasukannya hingga mereka tiba di sebuah daerah yang bernama an-Nibaj. Dan sesampainya dia di daerah tersebut, pasukannya di serang oleh suku Bani ‘Amr yang di komandoi oleh seseorang yang bernama Aus bin Khuzaimah al-Hujaimiy.

Aus dan pasukannya berhasil menawan 2 orang komandan pasukan milik Sajah, kedua orang tersebut adalah al-Hudzail dan Iqqah. Akan tetapi pada akhirnya Aus pun memutuskan untuk membuat kesepakatan antara dirinya dengan Sajah. Kesepakatan tersebut adalah agar Sajah dan pasukannya tidak menginjakkan kaki mereka lagi di atas tanah Bani ‘Amr. Dan sebagai timbal baliknya, maka Aus akan membebaskan seluruh tawanan yang berhasil dia tawan dari pasukan Sajah untuk kemudian membiarkan mereka kembali kepada saudara-saudara mereka”.

Inilah 2 kisah mengenai aksi yang dilakukan oleh Sajah yang dibawakan oleh Imam Ibnul Atsir (Rahimahullah) dalam kitabnya. Adapun Ibnu Jarir (Rahimahullah), beliau membawakan versi yang sedikit lebih terperinci mengenai kisah yang terjadi antara Sajah dengan Aus di atas. Kisahnya sebagaimana berikut…

Ibnu Jarir (Rahimahullah) berkata: “Kemudian (setelah Sajah menyelesaikan urusannya dengan suku ar-Rabab) Sajah kembali bergerak bersama pasukannya hingga mereka tiba di sebuah daerah yang bernama an-Nibaj.

Dan sesampainya mereka di sana, tiba-tiba mereka di serang oleh sebuah pasukan yang di komandoi oleh seseorang yang bernama Aus bin Khuzaimah al-Hujaimiy. Dimana pasukan ini terdiri dari anggota suku Bani ‘Amr.

Ketika perang telah berkecamuk anatara kedua belah pihak, seseorang yang berasal dari suku Bani Mazin dan seseorang lagi yang berasal dari suku Bani Wabr yang dikenal dengan sebutan Nasyirah berhasil menawan al-Hudzail. Dan selain al-Hudzail, maka ada seorang komandan milik Sajah lagi yang ditawan oleh Aus dan pasukannya. Sang komandan ini bernama Iqqah, dan yang berhasil menawannya bernama ‘Abdah al-Hujaimiy.

Akan tetapi pada akhirnya kedua belah pihak saling berjanji untuk menahan serangan dan mengadakan gencatan senjata juga untuk saling membebaskan tawanan. Pihak Aus juga menambahkan beberapa persyaratan kepada pihak Sajah, persyaratan tersebut adalah agar pihak Sajah jangan sekali-kali masuk ke tanah suku Bani ‘Amr dan juga jangan menyerang kembali suku Bani ‘Amr untuk ke depannya. Pihak Sajah pun menyetujui persyaratan yang diajukan oleh pihak Aus tersebut.

Maka setelah kedua pihak sepakat, pihak Aus pun membebaskan para tawanannya sekaligus mengambil sumpah dari Sajah dan kedua komandannya di atas agar mereka memegang janji yang telah dibuat, dan agar mereka keluar dari tanah Bani ‘Amr dan jangan mengambil jalur yang melintasi tanah suku tersebut. Pihak Sajah pun melaksanakan janji mereka dengan sebaik-baiknya.

Al-Hudzail sendiri rupanya belum bisa melupakan akan perbuatan yang pernah dilakukan oleh salah seorang dari suku Bani Mazin di atas kepada dirinya. Dan pada saat khalifah Utsman bin ‘Affan terbunuh, al-Hudzail pun bertekad untuk membalas perbuatan orang tersebut. Dimana dia berangkat menuju perkampungan tempat suku Bani Mazin tinggal, dan sesampainya di sana orang-orang Bani Mazin ternyata lebih dulu mendapatinya sekaligus membunuhnya.

(kembali kepada kisah Sajah) ketika al-Hudzail dan Iqqah telah dibebaskan, mereka berdua beserta para pemimpin rombongan Sajah datang menghadap kepada pemimpin mereka, dimana mereka berkata kepadanya: ‘Sekarang apa yang akan engkau perintahkan kepada kami?. Malik dan Waki’ telah kembali rukun dengan kaumnya, maka otomatis mereka tidak akan membantu kita lagi. Mereka berdua memang masih tetap memperbolehkan kita untuk mengunjungi perkampungan mereka, akan tetapi sebagaimana yang telah engkau dengar dan lihat, kaum tadi (suku Bani ‘Amr) telah melarang kita untuk melakukan hal tersebut’.

Sajah menjawab: ‘Kita akan pergi ke negeri Yamamah’.

Mereka berkata: ‘Kekuatan orang-orang Yamamah itu sangatlah besar, dan gerakan Musailamah sendiri sekarang telah semakin kuat dari hari ke hari’.

Sajah menimpali mereka dengan berkata: ‘Hendaknya kalian bergerak menuju negeri Yamamah. Bergeraklah kalian sebagaimana bergeraknya burung Merpati. Karena sungguh ini adalah peperangan yang sangat dahsyat. Dimana kalian tidak akan menuai celaan lagi setelahnya!’”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah kisah akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.

   

 

 

 

Wednesday, November 10, 2021

KISAH SAJAH BINTI AL-HARITS DENGAN SUKU BANI TAMIM.

 

Gambar oleh Markus Kammermann dari Pixabay

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menjelaskan mengenai perpecahan dan perselisihan yang terjadi di tengah-tengah suku Bani Tamim, dimana saya menutup artikel tersebut dengan menyebutkan mengenai kedatangan seorang wanita bernama Sajah ke perkampungan suku tersebut. Lalu siapakah sebenarnya Sajah ini?.....

Ibnu Katsir (Rahimahullah) berkata mengenai wanita ini: “Maka ketika Bani Tamim tengah sibuk dengan sesamanya, tiba-tiba muncullah seorang wanita yang bernama Sajah binti al-Harits bin Suwaid bin ‘Uqfan at-Taghlibiyyah. Dahulunya wanita ini termasuk ke dalam golongan bangsa arab yang beragama Nashrani, akan tetapi pada akhirnya dia memutuskan untuk mengaku menjadi seorang Nabi (dan keluar dari agama Nashrani)…”.

BACA JUGA:

KEKACAUAN & PERSELISIHAN MELANDA SUKU BANI TAMIM.

KEGAGALAN SAJAH DALAM MELANCARKAN AKSINYA.

Ibnu Jarir (Rahimahullah) juga menjelaskan dalam kitabnya mengenai wanita ini, beliau berkata: “Sajah binti al-Harits bin Suwaid bin ‘Uqfan ini berasal dari suku Bani Taghlib. Dan pada saat Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) wafat, dia mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi di tengah-tengah kaumnya suku Taghlib.

Dan diantara suku yang bersedia mengikutinya adalah suku al-Hudzail, dan bersamaan dengan pengakuannya tersebut, dia keluar dari agama asalnya yakni agama Nashrani…”.

Lalu, bagaimanakah kisahnya dengan suku Bani Tamim?....

Ibnu Katsir (Rahimahullah) melanjutkan perkataannya: “…Dia datang ke perkampungan suku Bani Tamim bersama serombongan pasukan yang berasal baik itu dari kaumnya Bani Taghlib, maupun dari suku-suku lainnya yang mendukung gerakan sesatnya.

Pada saat dia bersama pasukannya tersebut berangkat dari kampung halaman mereka, mereka telah bertekad untuk memerangi Abu Bakar ash-Shiddiq (Radhiyallahu ‘Anhu). (dan tentunya memerangi kaum muslimin juga).

Dan ketika mereka akhirnya sampai di perkampungan suku Bani Tamim, Sajah pun mengajak anggota suku tersebut untuk ikut bersamanya (memerangi Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu)).

Ketika mendengar ajakannya tersebut, sebagian besar anggota suku Bani Tamim menjawab dengan positif dan bersedia untuk ikut bersamanya. Dan diantara pembesar suku Bani Tamim yang bersedia untuk ikut bersamanya adalah Malik bin Nuwairah at-Tamimiy, ‘Atharid bin Hajib, dan sekelompok orang dari pembesar-pembesar Bani Tamim lainnya.

Akan tetapi walaupun begitu, tetap ada diantara pembesar suku tersebut yang enggan untuk mengikuti ajakan Sajah”.

Ibnu Jarir, Ibnul Jauziy dan Ibnul Atsir (Rahimahumullah) menyebutkan kisah yang sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Katsir (Rahimahullah) dalam kitabnya. Kisah yang disampaikan oleh ketiganya kurang lebih berbunyi sebagaimana berikut…

Pada saat Sajah dan pasukannya telah sampai di perkampungan suku Bani Tamim, dia mengirimkan surat kepada Malik bin Nuwairah yang berisi ajakan agar dia bersedia untuk ikut bersamanya memerangi Abu Bakar.

Malik sendiri ketika dia menerima surat Sajah ini, dia pun mengirimkan balasannya kepada Sajah yang berisi persetujuannya untuk mengikuti wanita tersebut, dan dia juga menyertakan dalam surat balasannya tersebut sebuah anjuran agar Sajah tidak terburu-buru dalam memerangi Abu Bakar, dan hendaknya dia singgah terlebih dahulu dan menetap barang sejenak di tengah-tengah suku Bani Tamim untuk merundingkan kembali rencananya.

Ketika Sajah telah selesai membaca surat balasan tadi, dia berkata: “Baiklah, itu semua terserah kamu. Karena aku ini hanyalah seorang wanita (biasa) yang berasal dari suku Bani Yarbu’ (salah satu dari 2 suku yang berada di bawah pimpinan Malik bin Nuwairah dan Waki’ bin Malik), dan kekuasaan (atas suku tersebut) adalah milikmu”.

Maka setelah Sajah yakin bahwa suku Yarbu’ juga Malik bin Nuwairah telah berada di pihaknya, dia pun kembali mengirimkan surat kepada suku Malik bin Handzalah (suku ini juga adalah suku yang berada di bawah pimpinan Malik bin Nuwairah dan Waki’ bin Malik) yang juga berisi ajakan agar mereka bersedia untuk ikut ke dalam kelompoknya.

Dan karena alasan ketidak sukaan akan apa yang nantinya akan diputuskan oleh Waki’, maka keluarlah ‘Atharid bin Hajib bersama sekelompok pembesar-pembesar suku Bani Malik dari perkampungan mereka menuju perkampungan suku Bani al-Anbar yang saat itu berada di bawah pimpinan Saburah bin ‘Amr.

Begitu juga halnya dengan pembesar-pembesar suku Bani Yarbu’, dimana mereka juga kabur dari perkampungan mereka menuju perkampungan suku Bani Mazin yang berada di bawah pimpinan seseorang yang bernama al-Hushain bin Nayyar. Mereka semua keluar dengan alasan yang sama yang telah mendorong saudara-saudara mereka para pembesar suku Bani Malik untuk keluar dari kampung halamannya.

Dan ketika akhirnya utusan juga surat Sajah sampai di tangan Waki’, Waki’ pun setuju untuk ikut bersamanya. Maka dengan ini terbentuklah persekutuan antara Waki’, Malik, dan Sajah. Dimana mereka berjanji akan senantiasa saling mendukung satu sama lain, juga sepakat untuk memerangi orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka…

Setelah itu Ibnu Jarir juga Ibnul Atsir dan Ibnul Jauziy (Rahimahumullah) menyebutkan perkataan Sajah yang dimana perkataannya tersebut juga disebutkan oleh Ibnu Katsir (Rahimahullah) di dalam kitabnya, perkataannya adalah…

Waki’ dan Malik berkata kepada Sajah: “Suku yang manakah yang akan kita perangi terlebih dahulu?. Suku Khidham, atau suku Bihadyi, atau suku ‘Auf dan al-Abnaa’, atau suku ar-Rabab?”. Mereka tidak menyebutkan suku yang dipimpin oleh Qais bin ‘Ashim karena mereka melihat bahwa Qais sendiri masih ragu-ragu dan belum memiliki pendirian dan keputusan yang pasti dalam hal ini.

Sajah menjawab: “Persiapkanlah oleh kalian kendaraan-kendaraan perang, dan bersiaplah kalian untuk berperang, kemudian seranglah suku ar-Rabab, karena mereka sama sekali tidak memiliki pertahanan”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah kisah akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.