This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Wednesday, December 1, 2021

IKRIMAH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) MENYERANG MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

 

Gambar oleh Lars_Nissen dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Kisah mengenai dikirimnya 2 sahabat mulia yakni Ikrimah dan Syarhabil bin Hasanah (Radhiyallahu ‘Anhuma) telah saya kisahkan pada artikel yang lalu, dimana kisah tersebut saya ambil atau nukil dari buku karangan Imam Ibnul Jauziy (Rahimahullah) yang berjudul al-Muntadzam fi Tarikhil Muluki wal-Umam.

Dan sesuai dengan apa yang saya janjikan pada artikel yang lalu, maka sebelum saya menuliskan kisah mengenai perjalanan Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) dan pasukannya ke negeri Yamamah, saya akan menuliskan terlebih dahulu kisah yang serupa dengan kisah yang saya tuliskan pada artikel yang lalu, akan tetapi dengan sedikit perincian yang saya nukil dari kitab milik 2 ulama, yakni Imam Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir (Rahimahumallah).

BACA JUGA:

UPAYA PENYERANGAN IKRIMAH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) TERHADAP MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

ABU BAKAR (RADHIYALLAHU ‘ANHU) MEMOBILISASI DAN MEMPERSIAPKAN KAUM MUSLIMIN UNTUK MENYONGSONG PERTEMPURAN MELAWAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

Kisahnya sebagaimana berikut…

Imam Ibnu Jarir (Rahimahullah) berkata dalam kitabnya sebelum menuangkan kisahnya, beliau berkata: “Telah menuliskan kepadaku as-Sirriy, dari Syu’aib, dari Saif, dari Sahl bin Yusuf, dari al-Qasim bin Muhammad, dia berkata: ‘…”. Kemudian setelah itu beliau menuliskan kisahnya…

Kedua Imam diatas membawakan kisah yang kurang lebih berbunyi sebagaimana berikut…

Dahulu ketika Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu) mengirimkan pasukan-pasukannya menuju negeri atau kampung-kampung orang-orang murtad, beliau pun mengirimkan juga sebuah pasukan dibawah komando Ikrimah bin Abi Jahl (Radhiyallahu ‘Anhu) ke negeri Yamamah untuk menumpas gerakan kemurtadan yang dipelopori oleh Musailamah al-Kadzdzab.

Selain Ikrimah, beliau juga mengirim sebuah pasukan lagi dibawah komando Syarhabil bin Hasanah (Radhiyallahu ‘Anhu). Dimana ketika Ikrimah mendengar akan diberangkatkannya Syarhabil dan pasukannya, beliau pun memerintahkan pasukannya agar berjalan lebih cepat hingga akhirnya mereka tiba di negeri Yamamah terlebih dahulu dan langsung menyerang suku Bani Hanifah. Akan tetapi suku tersebut berhasil menahan serangan pasukan Ikrimah dengan baik, dan juga berhasil memberikan beberapa kerugian kepada kaum muslimin.

Syarhabil sendiri ketika beliau mendengar kabar mengenai apa yang dilakukan dan didapatkan oleh Ikrimah dan pasukannya, beliau memutuskan untuk berhenti di tengah jalan menunggu instruksi selanjutnya dari Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu).

Adapun Ikrimah, maka setelah beliau menerima kekalahan dalam peperangan tersebut, beliau mengirimkan sebuah surat kepada Abu Bakar, dimana dalam surat tersebut beliau menjelaskan seluruh kejadian yang telah menimpanya.

Abu Bakar pun setelah beliau membaca surat tersebut, beliau mengirimkan surat balasan yang berbunyi: “Wahai Ikrimah, jangan sampai aku melihatmu, dan engkau juga jangan sampai engkau melihatku! (yakni janganlah engkau kembali ke kota Madinah). Janganlah engkau kembali ke kota Madinah, karena jika engkau kembali, maka engkau sama saja sedang melemahkan semangat juang pasukanmu!. Yang perlu engkau lakukan saat ini adalah, hendaknya engkau bergerak menuju tempat dimana Hudzaifah dan ‘Arjafah sedang berjuang melawan kaum murtad, dan sesampainya engkau disana, bergabunglah dengan keduanya dan perangilah penduduk Oman dan Mahrah (yang murtad).

Kemudian setelah itu, bergeraklah engkau bersama pasukanmu lagi menuju negeri Yaman dan Hadramaut. Dan sesampainya engkau disana, bergabunglah engkau bersama Muhajir bin Abi Umayyah”.

Abu Bakar juga mengirimkan surat kepada Syarhabil bin Hasanah, dimana di dalam suratnya tersebut, beliau memerintahkan Syarhabil untuk diam ditempat menunggu kedatangan Khalid dan pasukannya. Dan jika dirinya dan Khalid telah berhasil menumpas Musailamah dan pengikutnya, maka instruksi selanjutnya baginya adalah, hendaknya Syarhabil bergerak menuju negeri tempat suku Qudha’ah menetap dan membantu ‘Amr bin al-‘Ash disana menghadapi kaum murtad.

Imam Ibnu Jarir (Rahimahullah) berkata: “…Kemudian beberapa hari sebelum Abu Bakar melepas Khalid dan pasukannya menuju negeri Yamamah, beliau mengirim surat kepada Syarhabil yang bunyinya sebagaimana berikut: ‘Jika kalian telah bertemu dengan Khalid, dan juga jika kalian telah menumpas Musailamah bersamanya Insya Allah. Maka setelah itu, hendaknya engkau pergi menuju negeri tempat tinggal suku Qudha’ah. Dan sesampainya engkau disana, bergabunglah dengan ‘Amr bin ‘Ash dan pasukannya, untuk kemudian perangilah oleh kalian berdua siapa saja diantara anggota suku tersebut yang murtad dan enggan membayar zakat!’”. Isi surat Abu Bakar ini tidak dituliskan oleh Imam Ibnul Atsir (Rahimahullah) di dalam kitabnya. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah kisah akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.   

    

 

 

 

    

 

 

 

Tuesday, November 30, 2021

UPAYA PENYERANGAN IKRIMAH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) TERHADAP MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

 

Gambar oleh Dreamy_Photos dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Alhamdulillah pada artikel yang lalu saya telah menyelesaikan kisah mengenai asal-muasal kemunculan Musailamah al-Kadzdzab, juga kisah mengenai hal-hal pendukung yang telah mendukung gerakan Musailamah untuk menjadi besar pamornya dikalangan masyarakat jazirah arab, terkhusus suku Bani Hanifah.

Dan Insya Allah pada artikel kali ini saya akan melanjutkan kisah mengenai pergerakan Khalid bin Walid (Radhiyallahu ‘Anhu) bersama pasukannya demi melaksanakan misi yang diembankan oleh Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu) kepada mereka, yaitu menumpas gerakan kemurtadan.

Setelah Khalid bertemu dengan Abu Bakar di kota Madinah, dan juga setelah Abu Bakar memaafkan kesalahan yang diperbuat oleh Khalid dan pasukannya terhadap Malik bin Nuwairah dan sahabat-sahabatnya. Beliau yakni Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu), mendapatkan kabar dari Tsumamah bin Utsal, dimana Tsuamamah memberitahu beliau bahwa gerakan kemurtadan Musailamah semakin membesar dari hari ke hari. Selain itu, Tsumamah juga meminta agar pasukan Islam segera diberangkatkan menuju negeri Yamamah demi menumpas gerakan kesesatan tersebut…

BACA JUGA:

AWAL-MULA KEMUNCULAN MUSAILAMAH AL-KADZDZAB (BAG, 2).

IKRIMAH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) MENYERANG MUSAILAMAH AL-KADZDZAB.

Berkata Ibnul Jauziy (Rahimahullah) di dalam kitabnya mengenai surat pemberitahuan Tsumamah diatas, beliau berkata: “Dan sebelumnya (yakni sebelum kedatangan Khalid ke hadapan Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhuma)) Tsumamah bin Utsal al-Hanafiy telah mengirimkan surat kepada Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu) yang berisikan kabar bahwa gerakan kemurtadan Musailamah telah semakin menguat dari hari ke hari.

Maka oleh karenanya Abu Bakar pun mengutus Ikrimah bin Abi Jahl bersama pasukannya, kemudian beliau mengutus kembali (sebagai pasukan tambahan untuk Ikrimah dan Tsumamah) Syarhabil bin Hasanah bersama pasukannya…”.

Kedua pasukan ini beliau utus sebelum Khalid bin Walid. Ibnu Katsir (Rahimahullah) berkata dalam kitabnya mengenai hal ini: “…Dan sebelumnya (sebelum keberangkatan Khalid menuju negeri Yamamah) Abu Bakar telah mengutus Ikrimah bin Abi Jahl dan Syarhabil bin Hasanah menuju Musailamah al-Kadzdzab…”.

Ibnul Jauziy (Rahimahullah) melanjutkan kisahnya: “…Disaat Abu Bakar mengutus Syarhabil bin Hasanah, beliau berkata kepadanya: ‘Bergeraklah engkau hingga engkau dan pasukanmu menyusul Ikrimah, untuk kemudian satukanlah pasukan kalian berdua dan segeralah berangkat menuju Musailamah, dan hendaknya Ikrimahlah yang menjadi pemimpin dalam penyerbuan ini.

Dan jika kalian telah menyelesaikan misi ini, maka setelah itu berangkatlah kalian berdua menuju suku Qudha’ah, dan dalam penyerbuan tersebut engkaulah yang menjadi pemimpin atas kedua pasukan’.

Ikrimah sendiri ketika beliau mendengar akan keberangkatan Syarhabil bin Hasanah bersama pasukannya, beliau pun segera mempercepat laju pasukannya menuju negeri Yamamah.

Dan sesampainya disana, beliau segera membantu Tsumamah bin Utsal (yang saat itu sedang kekurangan pasukan karena masalah internal yang terjadi ditengah-tengah suku Bani Tamim).

(ketika beliau bertemu dengan Tsumamah tersebut, beliau menyampaikan niatnya untuk menyerbu Musailamah secara langsung tanpa menunggu kedatangan Syarhabil bin Hasanah bersama pasukannya).

Tsumamah berkata kepada Ikrimah: ‘Janganlah engkau lakukan (atau wujudkan niatmu tersebut), karena kekuatan Musailamah tidak bisa lagi dianggap enteng pada saat ini. Dan sungguh aku telah mendengar kabar bahwa dibelakangmu ada sebuah pasukan tambahan yang sedang bergerak menuju ke sini (maka tunggulah mereka)’.

Akan tetapi Ikrimah menolak saran dan nasehat dari Tsumamah, dimana beliau segera menyiapkan pasukannya dan setelahnya beliau langsung menyerbu Musailamah dan pasukannya. Maka pecahlah peperangan yang sangat dahsyat diantara kedua belah pihak, hingga sebagian dari pasukan Islam terluka akibat peperangan tersebut (yang tidak direstui oleh Abu Bakar, karena bagaimanapun tingginya derajat seseorang, jika mereka tidak menuruti titah pemimpinnya, maka kehancuranlah yang akan mereka dapatkan pada akhirnya. Dan hal tersebutlah yang didapatkan oleh sahabat Rasulullah yang mulia ini).

Dan Abu Bakar sendiri ketika mendengar akan apa yang menimpa pasukan Islam akibat ketergesa-gesaan Ikrimah ini, beliau pun segera menulis sebuah surat yang beliau peruntukkan bagi Ikrimah, dimana dalam surat tersebut beliau memerintahkan Ikrimah untuk menjauh dari negeri Yamamah dan bergerak menuju negeri lainnya yang sedang membutuhkan bantuan juga dalam menghadapi gerakan kemurtadan…”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.  

Inilah kisah mengenai upaya penyerangan Ikrimah (Radhiyallahu ‘Anhu) kepada Musailamah dan pengikutnya yang dibawakan oleh Imam Ibnul Jauziy (Rahimahullah) di dalam kitabnya. Dan Insya Allah pada artikel selanjutnya, saya akan menuliskan kisah serupa yang dibawakan atau yang dituliskan oleh Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir (Rahimahumallah) dalam kitab mereka.

Was-Salam.

     

 

 

 

Tuesday, November 23, 2021

KISAH MUTAMMIM BIN NUWAIRAH YANG MENUNTUT KEADILAN ATAS TERTUMPAHNYA DARAH SAUDARANYA.

 

Gambar oleh chriszwettler dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menjelaskan mengenai kontroversi seputar kematian Malik bin Nuwairah. Dan di akhir artikel saya menjanjikan untuk menjelaskan pada artikel kali ini mengenai kedatangan Khalid di kota Madinah dan apa yang akan terjadi ketika beliau bertemu dengan Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhuma). Akan tetapi sebelum menjelaskan hal tersebut, saya ingin membawakan terlebih dahulu sebuah kisah mengenai saudara Malik yakni Mutammim, sebuah kisah mengenai perjuangannya untuk membela hak-hak saudaranya.

Kisahnya sebagaimana berikut…

BACA JUGA:

KONTROVERSI DI BALIK KEMATIAN MALIK BIN NUWAIRAH.

PERTEMUAN ANTARA KHALID DENGAN ABU BAKAR (RADHIYALLAHU ‘ANHUMA).

Berkata Ibnu Katsir (Rahimahullah): “Dan (tidak lama setelah Abu Qatadah bertemu dengan Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhuma)) datanglah Mutammim bin Nuwairah ke kota Madinah, dimana dia segera menemui Abu Bakar untuk kemudian mengadukan kepada beliau mengenai semua yang dilakukan Khalid terhadap saudaranya.

Umar (Radhiyallahu ‘Anhu) sendiri memutuskan untuk membantunya dalam mengajak bicara Abu Bakar. Dan akhirnya Abu Bakar pun memutuskan untuk membayar harga diyath Malik kepada saudaranya tersebut…”.

Ibnu Katsir (Rahimahullah) juga menyebutkan beberapa bait syair yang dilantunkan oleh Mutammim mengenai saudaranya, kemudian setelah itu beliau melanjutkan kisahnya dengan berkata: “…Dan dikatakan juga bahwa Mutammim tidak mampu terlelap di waktu malam, dan tidak mampu untuk tidur nyenyak selama setahun penuh akibat kesedihannya yang sangat mendalam selama mengingat saudaranya.

Dia terus menerus menangis karena mengingat saudaranya hingga dia meninggal dalam keadaan buta. Dan bahkan saat matanya telah mulai kehilangan kemampuannya untuk melihatpun, dia tetap menangisi saudaranya hingga membuat matanya yang telah buta tersebut mengalirkan air mata, dan ini adalah tingkat kesedihan yang teramat tinggi.

Mutammim juga melantunkan bait syair berikut dalam rangka mengingat saudaranya:

Sungguh dia telah mencelaku di sisi sebuah kuburan ketika dia melihatku sedang menangis tersedu-sedu di sisi kuburan tersebut…

Temanku, karena aliran air mataku yang teramat deras dan tidak bisa berhenti…

Dia berkata ‘Apakah engkau akan menangisi setiap kuburan yang engkau lihat?’…

Padahal itu hanyalah sebuah kuburan yang terletak diantara bebatuan dan hanyalah sebuah timbunan…

Maka aku mengatakan kepadanya ‘Sungguh kesedihan itu akan membangkitkan kesedihan lainnya…

Maka oleh karenanya tinggalkanlah aku, karena bagiku ini semua (kuburan) adalah kuburan Malik…’”.

Adapun Ibnul Atsir (Rahimahullah), maka beliau mengatakan mengenai Mutammim ini: “Dan kemudian datanglah Mutammim bin Nuwairah menghadap Abu Bakar demi menuntut keadilan bagi darah saudaranya. Dia juga meminta kepada beliau agar beliau mengembalikan seluruh tawanan dari kaumnya kepada dirinya. Maka Abu Bakar pun memerintahkan agar para tawanan yang berasal dari kaum Mutammim (yakni kaumnya Malik juga) dikembalikan ke kampung halamannya, dan beliau juga membayar harga diyath bagi darah Malik yang telah tumpah (karena kesalah pahaman) yang beliau ambil bayarannya dari Baitul Mal (rumah tempat penyimpanan harta milik kaum muslimin yang terdiri dari: harta rampasan perang, sumbangan, bayaran-bayaran zakat dan sedekah, dan lain-lain).

Dan ketika pada suatu hari (saat Umar (Radhiyallahu ‘Anhu) telah naik menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu)) Mutammim bertemu dengan Umar (Radhiyallahu ‘Anhu), Umar bertanya kepadanya: ‘Bagaimana caramu menghadapi kematian saudaramu?’.

Mutammim menjawab: ‘Aku menangisi kepergiannya selama setahun penuh hingga kedua mataku yang telah rusak bisa membahagiakan kedua mataku yang masih sehat. Dan tidaklah aku melihat sebuah nyala api sedikitpun, kecuali aku akan langsung bersedih karena mengingatnya. Karena dahulu dia senantiasa menyalakan lentera rumahnya hingga datang waktu shubuh, hal tersebut dia lakukan karena dia takut jika suatu waktu ada seorang tamu yang datang kemudian dia tidak mengetahui dimana tamu tersebut duduk’.

Umar (Radhiyallahu ‘Anhu) kembali bertanya: ‘Sebutkanlah ciri-cirinya kepadaku’.

Mutammim berkata: ‘Dia senang mengendarai kuda yang sulit dikendalikan, dan juga suka menunggangi unta yang gemuk lagi besar badannya. Dan dia senang duduk diantara 2 karung tempat perbekalan yang sangat besar di malam yang sangat dingin, sembari memakai pakaian yang sangat tipis, memanggul sebuah busur yang sangat tegang. Dimana dia menjalani malamnya dengan semua itu, dan ketika fajar terbit, wajahnya nampak seperti sebuah bagian dari bulan’.

Umar kembali berkata kepadanya: ‘Lantunkanlah kepadaku bait syair yang pernah engkau buat untuk mengenangnya’.

Maka Mutammim pun melantunkan bait syair tersebut…”.

Ibnul Atsir (Rahimahullah) melanjutkan: “…Kemudian setelah Mutammim selesai melantunkan bait syairnya, Umar (Radhiyallahu ‘Anhu) berkata: ‘Jikalau saja aku ahli dalam membuat syair, maka aku pun akan membuatkan bait syair bagi saudaraku Zaid untuk mengenangnya’.

Mutammim berkata: ‘Tidak sama (keadaan saudaraku dengan saudaramu) wahai Amirul Mukminin. Jikalau saja saudaraku terbunuh dengan cara terbunuhnya saudaramu (Zaid saudara Umar (Radhiyallahu ‘Anhuma) terbunuh ketika memerangi Musailamah al-Kadzdzab), maka sungguh aku tidak perlu mengenangnya dan juga tidak perlu menangisi kepergiannya (karena Insya Allah dia akan meninggal sebagai seorang syahid)’.

Umar (Radhiyallahu ‘Anhu) berkata: ‘Sungguh tidak ada seorangpun yang lebih baik dalam hal menghiburku atas kepergian saudaraku selain dirimu’”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah pada artikel selanjutnya saya akan mengisahkan mengenai pertemuan antara Abu Bakar dengan Khalid (Radhiyallahu ‘Anhuma).

Was-Salam.   

 

       

 

 

 

Monday, November 15, 2021

KHALID DAN PASUKAN TIBA DI NEGERI BANI TAMIM.

 

Gambar oleh EugenioAlbrecht dari Pixabay.

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Pada artikel yang lalu saya telah menyelesaikan penjelasan mengenai Sajah si wanita yang mengaku bahwa dirinya telah diangkat menjadi seorang Nabi. Penjelasan tersebut seputar: siapakah Sajah?, berasal dari suku apakah dia?, siapa sajakah yang berangkat bersamanya menuju perkampungan suku Bani Tamim?, dan pada akhirnya saya juga menjelaskan mengenai hubungan wanita ini dengan sang Nabi palsu dari negeri Yamamah yaitu Musailamah al-Kadzdzab.

Pada artikel tersebut saya menjelaskan mengenai pernikahan antara Sajah dengan Musailamah, dan saya juga telah menyebutkan pula mahar yang dibayarkan oleh Musailamah kepada Sajah, yaitu peniadaan sholat Shubuh dan sholat Isya bagi pengikut mereka berdua. Dan di akhir artikel saya menyebutkan bahwa setelah Sajah menikah dengan Musailamah, dia langsung pulang menuju negerinya setelah mendengar mengenai kedatangan pasukan Khalid bin Walid (Radhiyallahu ‘Anhu) menuju negeri Yamamah…

BACA JUGA:

PERNIKAHAN ANTARA SAJAH DENGAN MUSAILAMAH.

KETIKA KHALID CEKCOK DENGAN KAUM ANSHAR.

Lalu, apa yang terjadi pada suku Bani Tamim terkhusus orang-orang yang murtad diantara mereka pada saat Khalid datang?, sementara Nabi palsu mereka yakni Sajah telah pulang ke kampung halamannya?...

Kisah mengenai hal tersebut adalah sebagaimana berikut…

Berkata Ibnu Katsir, Ibnul Atsir, dan Ibnu Jarir (Rahimahumullah) dalam kitab mereka mengenai apa yang terjadi pada suku Bani Tamim ketika Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) dan pasukannya tiba di negeri mereka…

Di saat Sajah telah pulang kembali menuju kampung halamannya, maka Malik bin Nuwairah (salah satu pemimpin suku Bani Tamim yang memutuskan untuk murtad) menjadi bingung perihal apa yang akan dilakukannya. Dia juga menyesali segala apa yang telah diperbuatnya saat Sajah mengunjungi negerinya.

Adapun teman-temannya yang lain seperti Waki’ dan seorang lagi yang bernama Sama’ah, maka mereka berdua segera menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat, dan bahwa ajaran Sajah adalah ajaran yang sesat. Hal tersebut mereka berdua buktikan dengan kembalinya mereka berdua kepada jalan yang lurus, dimana mereka berdua segera mengumpulkan harta zakat dan segera memberikan harta tersebut kepada Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) di saat beliau datang bersama pasukannya. Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) sendiri menerima kembalinya mereka ke jalan lurus tersebut. (kisah mengenai Waki’ dan Sama’ah diatas disebutkan oleh Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir di dalam kitab mereka. Adapun Ibnu Katsir maka beliau hanya mencukupkan dengan menuliskan mengenai penyesalan Malik bin Nuwairah (Rahimahumullah)).

Ibnu Katsir (Rahimahullah) berkata dalam kitabnya: “…Malik bin Nuwairah memutuskan untuk tinggal di sebuah daerah bernama al-Buthah (di saat Sajah kembali ke negerinya)”.

Ibnu Jarir (Rahimahullah) berkata dalam kitabnya: “Pada saat Khalid menerima bayaran zakat dari Waki’ dan Sama’ah, beliau bertanya kepada mereka berdua: ‘Kenapa kalian berdua memutuskan untuk berdamai dan ikut bekerja sama dengan kaum tersebut (Sajah dan pengikutnya)?’.

Mereka berdua menjawab: ‘Yang membuat kami bergabung dengan mereka adalah bayaran darah yang kami tuntut dari suku Dhabbah. Karena dahulu adalah masa-masa ketika perselisihan menaungi kami (setiap harinya, dan karena hal tersebutlah kami menuntut bayaran darah dari suku Dhabbah)’.

Waki’ menyenandungkan bait syair berikut:

Janganlah kalian berdua mengira bahwa aku telah berpaling (dari agama Islam) dan bahwa aku…

Menolak (membayar zakat) yang dimana jari-jari (mungkin maksudnya kaumnya) itu telah tunduk kepadaku…

Akan tetapi aku hanyalah berkeinginan untuk menjaga kemuliaan Malik…

Dimana aku duduk memperhatikan hingga aku dibutakan oleh tipuan-tipuan…

Maka ketika Khalid mendatangi kami sembari membawa benderanya…

Akupun berjalan menemuinya di daerah al-Buthah sembari membawa barang-barang titipan (harta zakat)…’”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah kisah mengenai Khalid dengan Malik akan saya ceritakan pada artikel selanjutnya.

Was-Salam.

 

 

 

 

Tuesday, November 9, 2021

KEKACAUAN & PERSELISIHAN MELANDA SUKU BANI TAMIM.

 

Gambar oleh Neil Morrell dari Pixabay

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Ibnu Jarir ath-Thabariy (Rahimahullah) berkata ketika menjelaskan mengenai kekacauan yang melanda suku Bani Tamim, beliau berkata: “Maka setelah kejadian tersebut (yakni kejadian yang terjadi ketika Qais bin ‘Ashim cekcok dengan az-Zabarqan), suku Auf dan al-Abnaa’ pun berselisih dengan suku al-Buthun. Dan adapun suku ar-Rabab, maka mereka berselisih dengan suku Maqa’is (dimana sebagaimana yang telah saya sampaikan pada artikel yang lalu bahwa suku Maqa’is dan al-Buthun sama-sama dipimpin oleh Qais bin ‘Ashim, dan adapun suku ar-Rabab, Auf, dan al-Abnaa’ sama-sama dipimpin oleh az-Zabarqan).

Perselisihan antara suku-suku kecil Bani Tamim tidak hanya terjadi pada suku-suku yang telah disebutkan di atas, akan tetapi juga merambah kepada suku-suku kecil lain, dimana suku Khidham berselisih dengan suku Malik, dan suku Bihadyi berselisih dengan suku Yarbu’.

BACA JUGA:

KISAH SUKU BANI TAMIM.

KISAH SAJAH BINTI AL-HARITS DENGAN SUKU BANI TAMIM.

Dan pada saat perselisihan antar suku ini terjadi, suku Khidham berada di bawah komando Saburah bin ‘Amr. Dimana orang inilah yang menjadi pengganti Shafwan ketika Shafwan sedang pergi menuju kota Madinah dalam rangka menyerahkan harta zakat kepada Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu).

Adapun suku Bihadyi dan ar-Rabab (yang sama-sama ditinggal oleh pemimpinnya yakni Shafwan dan juga az-Zabarqan, yang dimana keduanya sebagaimana yang telah saya sebutkan pada artikel yang lalu berangkat bersama-sama menuju kota Madinah demi menghadap kepada Abu Bakar), keduanya (pada saat kekacauan melanda suku Bani Tamim) berada di bawah komando al-Hushain bin Nayyar.

(dan ada lagi suku-suku kecil lainnya yang tidak disebutkan pada artikel yang lalu, dimana suku-suku tersebut adalah…) Suku Dhibbah yang pada saat kekacauan terjadi berada di bawah komando seseorang yang bernama Abdullah bin Shafwan. Dan adapun suku Abdu Manat, maka mereka berada di bawah pimpinan seseorang yang bernama ‘Ishmah bin Abyar.

Dan adapun suku Auf dan al-Abnaa’, maka mereka berada di bawah komando seseorang yang bernama Auf bin al-Bilad bin Khalid yang berasal dari suku Bani Ghanam al-Jamsyiy (sebagai pengganti bagi az-Zabarqan).

Adapun suku al-Buthun, mereka saat itu berada di bawah pimpinan seseorang yang bernama Si’r bin Khafaf (karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Qais bin Ashim keluar bersama al-Ala’ setelah dirinya bertemu dengan al-Ala’ dan menyerahkan harta zakat milik suku Maqa’is dan al-Buthun).

(dan setelah semuanya, maka orang yang terkena dampak paling besar dari perselisihan dan kekacauan yang terjadi di tengah-tengah suku Bani Tamim ini adalah seseorang yang bernama Tsumamah bin Utsal al-Hanafiy. Dia adalah salah satu komandan yang tengah memerangi sang Nabi palsu Musailamah al-Kadzdzab).

Dahulu Tsumamah bin Utsal adalah seorang komandan yang selalu mendapatkan bantuan yang berbentuk tambahan personil pasukan yang datangnya dari suku Bani Tamim. Maka ketika kekacauan melanda suku tersebut, dimana kekacauan ini memaksa para anggota suku Bani Tamim untuk saling berselisih dan kembali kepada keluarga besar atau suku kecil masing-masing (dan tidak lagi bersatu di bawah nama besar suku Bani Tamim), maka hal tersebut tentu saja menjadi sebuah bencana bagi Tsumamah dan pasukannya, dimana hal tersebut terus berlangsung hingga akhirnya dia mendapatkan bantuan dari Ikrimah dan pasukannya yang datang untuk mendukungnya dan menegakkan kembali punggungnya. 

Dan ketika anggota suku Bani Tamim tengah saling berselisih dan hanya sibuk mengurusi sesamanya, dimana suku-suku kecil yang tetap berpegang teguh dengan keislamannya (seperti suku-suku yang berada di bawah pimpinan Shafwan bin Shafwan dan juga Saburah, dan juga suku-suku yang berada di bawah pimpinan az-Zabarqan) berdiri berdampingan dengan suku-suku yang masih ragu-ragu dan bimbang (seperti suku-suku yang dipimpin oleh Qais bin ‘Ashim), juga suku-suku yang memang sejak awal telah memutuskan untuk murtad (seperti suku-suku yang dipimpin oleh Waki’ bin Malik dan Malik bin Nuwairah). (yang tentunya walaupun berdiri sama tinggi dan duduk sama rata, akan tetapi karena kepercayaannya pun telah berbeda, maka ketiga kelompok tersebut tidak akan bisa lagi bersatu di bawah satu nama sebagaimana dahulunya).

Ketika kekacauan ini tengah melanda dengan dahsyatnya, tiba-tiba muncullah seorang wanita bernama Sajah binti al-Harits yang tengah berjalan menuju perkampungan suku Bani Tamim yang sedang kacau balau tersebut.

Wanita ini bersama keluarganya yang berasal dari suku Bani Taghlib datang sembari membawa beberapa anggota dari suku-suku kecil yang menjadi cabang dari suku Rabi’ah. (suku-suku kecil atau suku-suku cabang tersebut adalah…)

1). Suku Bani Taghlib sendiri yang dikomandoi oleh seseorang yang bernama al-Hudzail bin Imran.

2). Suku an-Namir yang dikomandoi oleh seseorang yang bernama Iqqah bin Hilal.

3). Suku Iyad yang dikomandoi oleh seseorang yang bernama Tad bin Fulan.

4). Suku Syaiban yang dikomandoi oleh seseorang yang bernama as-Salil bin Qais.

Maka tentu saja dengan kedatangan Sajah beserta pasukannya ini ke perkampungan suku Bani Tamim, suku Bani Tamim pun mendapatkan masalah yang teramat besar lagi berat, mengingat bahwa kedatangan Sajah ini bertepatan dengan dilandanya suku tersebut oleh kekacauan dan perselisihan (maka tidak membutuhkan waktu lama bagi Sajah untuk menguasai dan mengendalikan suku tersebut)…”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.  

Insya Allah kisah akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.

 

 

  

Monday, November 8, 2021

KISAH SUKU BANI TAMIM.

 

Gambar oleh Albrecht Fietz dari Pixabay 

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Kisah murtadnya suku Bani Tamim dan hubungan mereka dengan seorang wanita bernama Sajah…

Ibnul Atsir (Rahimahullah) berkata di dalam kitabnya: “Adapun (kisah kemurtadan) suku Bani Tamim adalah sebagaimana berikut…

Dahulu di saat Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) masih hidup, beliau mengirim beberapa wakilnya (yang bertugas untuk mengumpulkan bayaran zakat dan sedekah) menuju perkampungan suku Bani Tamim. Nama-nama mereka adalah: az-Zabarqan, Sahl bin Minjab, Qais bin ‘Ashim, Shafwan bin Shafwan, Saburah bin ‘Amr, Waki’ bin Malik, dan Malik bin Nuwairah”.

BACA JUGA:

KISAH ‘AMR BIN AL-‘ASH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) BERSAMA QURRAH BIN HUBAIRAH.

KEKACAUAN & PERSELISIHAN MELANDA SUKU BANI TAMIM.

Ibnu Jarir ath-Thabariy (Rahimahullah) menjelaskan mengenai daerah ataupun suku yang di pimpin oleh masing-masing dari wakil tersebut, beliau berkata: “Adapun az-Zabarqan bin Badr, maka dia ditugaskan untuk memimpin suku ar-Rabab, ‘Auf, dan al-Abnaa’. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh as-Sirriy, dari Syu’aib, dari Saif, dari ash-Sha’b bin ‘Athiyyah bin Bilal, dari ayahnya dan Sahm bin Minjab.

Adapun Qais bin ‘Ashim, maka dia ditugaskan untuk memimpin suku Maqa’is dan al-Buthun.

Adapun Shafwan bin Shafwan dan Saburah bin ‘Amr, keduanya ditugaskan untuk memimpin suku Bani ‘Amr. Dimana salah satu dari mereka akan memimpin suku Bihadyi, dan seorang lagi akan memimpin suku Khidham.

Dan adapun Waki’ bin Malik dan Malik bin Nuwairah, keduanya ditugaskan untuk memimpin suku Handzalah. Dimana salah seorang dari mereka akan memimpin suku Bani Malik, dan seorang lagi akan memimpin suku Bani Yarbu’”.   

Ibnu Katsir (Rahimahullah) berkata di dalam kitabnya ketika menjelaskan keadaan suku Bani Tamim secara umum pada saat badai kemurtadan melanda jazirah arab, beliau berkata: “Dahulu di permulaan masa-masa kemurtadan, pemimpin sekaligus masyarakat dari suku Bani Tamim secara umum saling berbeda pendapat mengenai langkah apa yang harus mereka ambil dalam situasi sulit tersebut.

Diantara mereka, ada yang memutuskan untuk murtad keluar dari agama Islam sekaligus menolak untuk membayar zakat.

Diantara mereka pula, ada yang masih tetap berpegang teguh dengan agama Islam dan tetap membayarkan zakat kepada Abu Bakar ash-Shiddiq (Radhiyallahu ‘Anhu).

Dan diantara mereka pula, ada yang masih bingung dan bimbang dalam mengambil keputusan…”.

Ibnul Atsir dan Ibnu Jarir (Rahimahumallah) menjelaskan secara terperinci mengenai kasus yang disinggung oleh Ibnu Katsir (Rahimahullah) di atas.

Keduanya mengatakan dalam kitab mereka bahwa pemimpin sekaligus suku yang tetap berpegang teguh dengan agama Islam adalah suku yang dipimpin oleh Shafwan bin Shafwan dan Saburah bin ‘Amr. Suku tersebut adalah suku Bani ‘Amr.

Dimana ketika kabar mengenai wafatnya Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) sampai ke telinga Shafwan, dia memutuskan untuk tetap berada di atas jalan yang lurus, dan untuk lebih mempertegas kembali keputusannya tersebut, dia membayarkan sekaligus menyerahkan harta zakat yang dia kumpulkan dari suku yang dipimpinnya juga bayaran zakat yang dikumpulkan oleh Saburah dari suku yang dipimpinnya pula kepada Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu).

Saburah sendiri tetap tinggal di tengah-tengah kaumnya untuk mengantisipasi jika suatu saat mereka memberontak.

Adapun diantara pemimpin atau wakil yang bimbang dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan adalah Qais bin ‘Ashim.

Sebabnya sendiri adalah karena suatu masalah yang pernah atau sedang terjadi antara dirinya dengan az-Zabarqan, dimana Qais ingin melihat terlebih dahulu mengenai langkah apa yang akan diambil oleh az-Zabarqan agar dia bisa menyelisihinya.

Qais sendiri berkata ketika penantiannya tak kunjung selesai karena az-Zabarqan sendiri belum mengambil keputusan dalam waktu yang cukup lama, dia berkata: “Sungguh celaka kita karena Ibnu al-‘Uklayyah!. Demi Allah dia benar-benar telah menghancurkanku, karena sebabnyalah aku belum mengambil keputusan dalam masalah ini. Jika aku mengirimkan harta sedekah kepada Abu Bakar sekaligus membai’atnya, maka pasti dia akan pergi menuju suku Bani Sa’ad bersama harta (sedekah) yang dikumpulkannya untuk kemudian dia pasti akan menjelek-jelekkan diriku di tengah-tengah mereka.  

Akan tetapi jika aku membawa harta sedekah yang aku kumpulkan ke suku Bani Sa’ad, maka pasti dia akan pergi menuju Abu Bakar untuk menyerahkan harta sedekahnya kepadanya untuk kemudian menjelek-jelekkan diriku di hadapan beliau”.

Akan tetapi tidak lama kemudian, Qais pun memutuskan untuk membagi-bagikan saja harta sedekahnya ke suku yang dipimpinnya yakni suku al-Maqa’is dan al-Buthun.

Adapun az-Zabarqan, maka dia pun juga akhirnya mengambil langkah-langkahnya sendiri dengan cara mengikuti Shafwan bin Shafwan menuju kota Madinah untuk menyerahkan harta sedekahnya kepada Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu).

Qais sendiri akhirnya menyesal atas keputusan yang dibuatnya, dan ketika al-Ala’ bin al-Hadhramiy datang, Qais pun segera mengeluarkan bayaran zakat kaumnya dan memutuskan untuk ikut keluar bersama al-Ala’.

Dan setelah itu kekacauan pun melanda suku Bani Tamim. Wallahu A’lam Bish-Shawab.   

Insya Allah kisah akan berlanjut ke artikel selanjutnya.

Was-Salam.

 

  

 

  

 

Sunday, October 24, 2021

KISAH ‘AMR BIN AL-‘ASH (RADHIYALLAHU ‘ANHU) BERSAMA QURRAH BIN HUBAIRAH.

 

Gambar oleh Albrecht Fietz dari Pixabay 

Bismillah…

Alhamdulillah Wash-Shalatu Was-Salamu ‘Ala Rasulillah.

Setelah menjelaskan mengenai suku Bani Sulaim dan bagaimana sikap mereka dalam menghadapi gempuran badai kemurtadan, juga setelah menjelaskan mengenai kisah Abu Syajarah bin Abdil Uzza. Ibnul Atsir (Rahimahullah) melanjutkan pembahasannya dengan mengangkat tema mengenai kembalinya sahabat ‘Amr bin al-‘Ash (Radhiyallahu ‘Anhu) ke kota Madinah seusainya beliau menjalankan tugas yang diembankan oleh Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) kepadanya…

Kisahnya sendiri sebagaimana berikut…

BACA JUGA:

KISAH ABU SYAJARAH BIN ABDIL UZZA.

KISAH SUKU BANI TAMIM.

Ibnul Atsir (Rahimahullah) berkata dalam kitabnya: “Pembahasan mengenai kedatangan ‘Amr bin al-‘Ash dari negeri Oman. Dahulu di saat Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) telah selesai melaksanakan ibadah haji Wada’, beliau mengutus ‘Amr menuju negeri Oman untuk mendakwahi penduduk negeri tersebut, dan pada saat itu yang memimpin negeri Oman adalah seorang lelaki bernama Jaifar bin Abdillah bin Malik.

‘Amr menetap di negeri Oman hingga Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam) wafat. Dan setelah beliau wafat, ‘Amr tetap menjalankan tugasnya di negeri Oman yaitu mengajak masyarakat Oman untuk memeluk Islam, dimana beliau terus berdakwah hingga dakwahnya menjangkau negeri Bahrain. Dan setibanya beliau di negeri tersebut, beliau mendapati raja yang memerintah negeri tersebut telah wafat, raja ini bernama al-Mundzir bin Sawi.

Kemudian setelah itu beliau keluar dari negeri Bahrain dan pergi menuju perkampungan suku Bani Amir, dimana beliau memutuskan untuk tinggal di bagian yang di pimpin oleh Qurrah bin Hubairah.

Pada saat ‘Amr (Radhiyallahu ‘Anhu) tiba di tengah-tengah suku Bani Amir, Qurrah ini masih berada di atas kemurtadan. Akan tetapi walaupun begitu, Qurrah bersama segenap kaum dan pasukannya tetap menjamu ‘Amr dengan baik di tempat mereka.

Dan pada saat ‘Amr (Radhiyallahu ‘Anhu) akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota Madinah, Qurrah menemuinya dan berkata kepadanya: ‘Wahai engkau, ketahuilah bahwa sesungguhnya bangsa arab itu tidak akan rela untuk di pimpin oleh kalian (kaum muslimin). Akan tetapi jika kalian pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengambil harta mereka (yang di maksud olehnya adalah bayaran sedekah dan zakat), maka aku bisa pastikan bahwa mereka pasti akan mendengar dan taat kepada kalian. Akan tetapi jika kalian tetap bersikeras untuk mengambil harta mereka, maka mereka pun pasti selamanya tidak akan mendengar dan tunduk kepada kalian!’.

Mendengar ocehannya tersebut, ‘Amr pun menimpalinya dengan berkata: ‘Wahai Qurrah, apakah engkau telah kufur?. Apakah engkau ingin menakut-nakuti kami dengan bangsa arab?. Demi Allah (jika engkau benar-benar telah kufur) aku akan menginjak-injakmu dengan kudaku walaupun engkau bersemubunyi di bilik ibumu!’.

Setelah itu berangkatlah ‘Amr (Radhiyallahu ‘Anhu) menuju kota Madinah, dan sesampainya beliau di sana, beliau segera memberitahu kaum muslimin perihal apa yang di dengarnya (di perkampungan suku Bani Amir) kepada mereka, dan beliau juga sekaligus memberitahu mereka bahwa pasukan milik orang-orang murtad telah mendirikan pos-pos dan perkemahan yang menjangkau seluruh daerah yang terletak antara kota Daba atau Dibba dengan kota Madinah (jarak antara kota Dibba dengan kota Madinah sendiri adalah 2.028,8 km!).

Maka ketika para sahabat dan kaum muslimin mendengar berita yang sangat mengkhawatirkan ini, mereka pun berpisah sembari membuat kelompok-kelompok kecil (karena terpaan ujian yang menimpa mereka sangatlah teramat berat).

Dan ketika kaum muslimin sedang dalam keadaan seperti itu, datanglah Umar karena dia ingin mengucapkan salam kepada ‘Amr yang baru tiba dari perjalanan panjang. Dan di tengah jalan Umar berjumpa dengan Ali, Utsman, Thalhah, az-Zubair, Abdurrahman (bin Auf), dan Sa’ad (Radhiyallahu ‘Anhum) yang sedang duduk berkumpul dalam sebuah kelompok kecil.

Umar pun bertanya kepada mereka: ‘Sedang apa kalian?’.

Akan tetapi tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya.

Umar pun berkata kembali: ‘Sungguh pasti kalian sedang mengatakan ‘apa yang lebih kami takutkan atas orang Quraisy dari orang arab’’.

Mereka pun menjawab: ‘Iya, betul apa yang engkau katakan’.

Umar pun berkata kembali: ‘Maka jalan keluar satu-satunya adalah janganlah kalian takut kepada mereka!. Karena sungguh demi Allah aku lebih khawatir jika kalianlah yang menyerang orang-orang arab, dan bukan mereka yang menyerang kalian!. Demi Allah jika kalian sekalian orang Quraisy memasuki sebuah lubang, maka pasti orang-orang arab akan mengikuti kalian masuk ke dalam lubang itu pula. Maka oleh karena itu hendaknya kalian lebih takut kepada Allah dari mereka!’.

Setelah itu Umar (Radhiyallahu ‘Anhu) pun berlalu meninggalkan mereka.

Dan ketika akhirnya Qurrah bin Hubairah berhasil di tangkap dan di bawa menghadap Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu) sebagai tawanan perang, dia (Qurrah) pun bersaksi dengan membawa nama ‘Amr (Radhiyallahu ‘Anhu) bahwa dirinya adalah seorang muslim.

Maka untuk memastikan kebenaran sumpahnya, Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu) pun memanggil ‘Amr bin al-‘Ash (Radhiyallahu ‘Anhu). Dan sesampainya ‘Amr di hadapan Abu Bakar, Abu Bakar segera bertanya kepadanya mengenai apakah benar Qurrah adalah seorang muslim?.

Maka ‘Amr pun menjawab pertanyaan ini dengan membeberkan seluruh perkataan Qurrah yang dahulu pernah dikatakannya kepada dirinya hingga beliau sampai kepada perkataan Qurrah yang menyinggung masalah syariat zakat, dan sontak Qurrah pun berkata kepada ‘Amr: ‘Tenanglah dan diamlah engkau wahai ‘Amr!’.

‘Amr (Radhiyallahu ‘Anhu) pun menjawab: ‘Aku tidak akan diam, karena demi Allah aku akan benar-benar membeberkan seluruh perkataanmu padanya!’.

Akan tetapi pada akhirnya Abu Bakar (Radhiyallahu ‘Anhu) tetap memaafkan Qurrah dan menerima keislamannya”. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Insya Allah pada artikel selanjutnya saya akan membahas mengenai kisah Khalid (Radhiyallahu ‘Anhu) bersama suku Bani Tamim.

Was-Salam.